Rabu, 10 Agustus 2016

BMI Kunjungi Masjid Pertama di Cina

Guangzhou, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rombongan wisata religi dari jamaah halaqah Senin Masjid Tsam Sha Tsui Hongkong yang berjumlah 35 orang, 30 orang diantaranya adalah Buruh Migran Indonesia (BMI) yang saat ini sedang mengadu nasib bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong. Sampai saat ini jumlah pekerja yang berasal dari Indonesia sekitar 150.000 orang. Mengisi waktu libur sebulan 4 kali, mereka berkumpul melakukan berbagai aktifitas.

Salah satunya adalah kegiatan rohani dengan berkumpul dalam majelis taklim yang tidak hanya di masjid-masjid saja, namun kegiatan dilakukan di taman-taman yang indah di seluruh penjuru kota Hongkong. Saya sempat mengunjungi beberapa taman di Kowloon Park dan Victoria Park kalau pada hari Minggu banyak sekali kelompok-kelompok pengajian kecil yang mendatangkan ustadz dari Indonesia.

BMI Kunjungi Masjid Pertama di Cina (Sumber Gambar : Nu Online)
BMI Kunjungi Masjid Pertama di Cina (Sumber Gambar : Nu Online)

BMI Kunjungi Masjid Pertama di Cina

Salah satu kegiatan jamiyyah ini adalah wisata religi ke Guangzhou selain ke makam sahabat nabi Saad Bin Abi Waqas adalah mengunjungi masjid pertama yang sudah berusia 1300 tahun lebih itu, namanya Masjid Huaisheng terletak di Jalan Guang Ta Lu Kota Guangzhou Cina. Masjid ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhamad Saw, Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guang Ta, karena masjid dengan menara elok ini terletak di jalan Guang Ta. Ta berarti menara, karena menurut sejarahnya menara menara masjid yang tingginya 36 meter lebih ini tertinggi pada awal pembangunanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketika rombongan turun dari bus masuk menuju masjid, saya justru memisahkan diri menelusuri jalan raya Guang Ta, saya merasa kalau di Surabaya jalannya seperti suasan di Jalan Walikota Mustajab, banyak pohon rindang namun tidak terlalu ramai. Di sepanjang jalan Guang Ta saya menjumpai banyak took-tokoyang menjual makanan halal dengan harga yang cukup miring. Saya membeli Roti Cedar (roti khas Arab) hanya dengan 10 Yuan saja dan berbagai makanan khas kambing banyak kita jumpai di sepanjang jalan Guang Tha.

Maklum, saat ini jumlah penduduk Muslim di Cina sekitar 150 juta lebih, meski dalam catatan resmi pemerintah Cina hanya sekitar 50 juta penduduk saja. Penyebaran agamaIslam di Cina memang dimulai sejak awal abad ke 7, pada jaman dinasti Tang, atau bahkan lebih tua lagi, yaitu dinasti Song. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sekitar setengah jam saya menelusuri jalan Guang Ta saya kembali menyusul rombongan jamaah yang sudah masuk ke dalam masjid yang ternyata sedang melakukan jamah sholat dzhuhur dipimpin oleh H Ahmad Muhaimin Karim, eksekutif dakwah Islamic Union Hongkong. Komplek masjid ini tidak terlalu luas Masjid ini menempati area tanah seluas kurang lebih 3000 meter persegi saja. Untuk memasuki masjid ini harus memasuki dua pintu gerbang yang semacam tugu selamat datang memasuki masjid.

Masjid Huaisheng arsitekturnya mengadopsi arsitektur masyarakat setempat dipadu dengan arsitektur Arab pada bangunan menaranya. Bagi kita, sepintas lalu mungkin tidak menyangka kalau bangunan ini adalah masjid, karena memang modelnya seperti kelenteng. Nyatanyamasjid ini adalah masjid pertama di Cina, bahkan di Asia!

Walaupun begitu yang nampak ini adalah sebuah masjid adalah ornament kaligrafi arab tampak sekali tulisan-tulisan dalam bahasa arab yang merupakan kutipan dari ayat-ayat Al Quran. Juga terdapat ukiran prasasti waktu empat kali pemugaran bangunan tersebut, yakni pada dinasti Yuan , Ming, Qing dan terakhir tahun 1935. Pada manuskrip Cina kuno disebutkan bahwa masjid ini dibangun oleh Saad Bin Abi Waqas.

Masjid ini didirikan saat sahabat Nabi Saad Bin Abi Waqas menetap di Guangzhau yang kemudian menjadi salah satu tonggak sejarah Islam yang paling berharga di Cina. Ketika datang bersama para sahabat lain, Saad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan baik oleh Dinasti Tang, Kaisar Kao Tsung (650-683). Namun Islam sebagai agama tidak langsung diterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, Sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasa sesuai dengan ajaran Konfusius.

Namun sang kaisar merasa bahwa kewajiban sholat lima kali dalam sehari dan puasa selama satu bulan penuh terlalu berat baginya hingga akhirnya tdak jadi memeluk agama Islam. Namun begitu, ia mengizinkan Saad Bin Abi Waqas dan para sahabat untuk mengajarkan kepada masyarakat Guangzhou. Oleh orang Cina, Islam disebut sebagai Yi Si Lan Jiao atau agama yang murni. Sementara Makkah disebut sebagai tempat kelahiran Budha Ma-Hi-Wu atau Rasulullah Muhammad Saw.

Konon jaman dahulu, tiap bulan Mei dan Juni, banyak kapal dagang asing lalu lalang di sungai Mutiara. 

Seringkali umat Islam menyalakan lampu di puncak menara pada malam hari untuk memandu kapal-kapal yang berlayar, atau digunakan sebagai menara adzan mengajak umat Islam shalat. Menara tersebut akhirnya disamakan dengan mercusuar atau menara cahaya yang menjadi pemandu kapal. Menaranya berbentuk silinder sederhana dengan kubah bagian di atas merupakan bangunan bercirikhas arab, beda dengan Pagoda atau menara cina yang ada di tiongkok. Kalau dilihat dari tahun berdirinya pada awal abad ke 7, Masjid Huaisheng ini adalah masjid tertua di Asia setelah Masjidil Haram. Bandingkan dengan masjid Ampel Surabaya yang berdiri baru pada tahun 1421 M.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Abdul Aziz

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, Ulama Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 07 Agustus 2016

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Dalam masyarakat kita ada kecenderungan sebagian orang memandang sebelah mata mereka yang tak bisa memberikan keturunan. Apalagi jika mereka perempuan. Beberapa suami menceraikan istrinya hanya karena ia mandul. Hal seperti ini ? dialami seorang wanita yang Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994) memanggilnya “Bulik” untuk “mbasakke” anak-anak Mbah Ngis. Memang masih ada hubungan kerabat antara Mbah Ngis dengannya meski tidak sangat dekat. Sebut saja perempuan itu beranama Bulik Fulanah.

Betul. Bulik Fulanah dicerai suaminya hanya karena tak bisa memberikan keturunan. Sejak itu Bulik Fulanah hidup menjanda. Suami tak ada. Anak tak punya. Kakak atau adik sudah tiada. Orang tua juga sudah lama meninggal dunia. Bulik Fulanah tak punya keluarga. Ia sebatang kara. Masih beruntung ada keponakan yang bersedia menampung hidupnya di rumah di sebuah kampung yang padat penduduk.?

Empati  Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)
Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Bulik Fulanah hidup menderita. Ia tak punya apa-apa alias miskin. Jika diperbandingkan, Bulik Fulanah sangat kontras dengan Mbah Ngis meskipun ada beberapa persamaan, seperti sama-sama bukan orang kaya yang berjualan makanan kecil. Bulik Fulanah tak memiliki seorang anak pun. Mbah Ngis memiliki 13 anak. Bulik Fulanah dikenal suka banyak bicara. ? Sedangkan Mbah Ngis cukup tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Kebiasaan banyak bicara yang topiknya tidak selalu menarik kadang membuat beberapa orang tak menyukai Bulik Fulanah.?

Tetapi bagi Mbah Ngis, semua kekurangan Bulik Fulanah tak dipermasalahkan. Mbah Ngis cukup toleran terhadap hal-hal yang bersifat pribadi. Mbah Ngis cukup mengerti tidak setiap orang berpengatahuan luas atau memiliki banyak pengalaman menarik untuk diceritakan kepada orang lain. Mbah Ngis malahan menaruh iba yang mendalam terhadap nasib Bulik Fulanah sebagai sesama saudara sekaligus sesama perempuan.?

Sudah lama Mbah Ngis bertanya pada diri sendiri kapan bisa menyenangkan Bulik Fulanah dengan memberikan atau mewujudkan sesuatu yang membuatnya berbesar hati. Mbah Ngis lama berpikir soal itu hingga akhirnya Mbah Ngis menemukan gagasan.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gagasan itu adalah mengajaknya pergi ke Jakarta, sebuah kota metropolitan dengan segala kemegahannya. Mbah Ngis sendiri belum pernah ke Ibu Kota. Kali ini ada kesempatan bagi Mbah Ngis pergi ke sana, tapi bukan karena Mbah Ngis memiliki banyak uang. Salah seorang keponakan Mbah Dullah di Jakarta mempunyai hajat menikahkan putrinya.?

Keponakan itu cukup mapan secara ekonomi karena ia seorang pejabat penting. Mbah Ngis dan Mbah Dullah diundang menghadiri resepsi perkawinan itu. Segala sesuatu terkait dengan transportasi, konsumsi dan akomodasi selama di perjalanan Jakarta pulang-pergi sudah ada yang mengurus dan semuanya ditanggung oleh sang keponakan. Mbah Ngis dan Mbah Dullah tinggal menyiapkan diri, terutama kesehatannya, agar bisa hadir. Mbah Ngis sangat senang atas undangan ini dan bersyukur karena semua fasiltas tersedia secara cuma-cuma.?

Rasa syukur itu diwujudkan Mbah Ngis dalam bentuk menyisihkan selama sebulan penuh uang hasil berjualan makanan kecil setiap hari di pondok. Mbah Ngis ingin sekali mengajak Bulik Fulanah ke Jakarta dengan seluruh biaya ditanggung Mbah Ngis.?

Benar. Mbah Ngis, Mbah Dullah dan Bulik Fulanah serta rombongan lain dari Solo berangkat bersama ke Jakarta dengan menaiki Kereta Api Senja Utama. Itu adalah kali pertama dan terakhir bagi Mbah Ngis dan Bulik Fulanah pergi ke Jakarta. Juga merupakan kali pertama dan terakhir menaiki kereta api kelas bisnis.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sekembalinya ke Solo, Bulik Fulanah memiliki banyak cerita tentang Jakarta dan orang-orang besar yang dilihatnya di resepsi pernikhan putri keponakan Mbah Dullah. Banyak orang tertarik menyimaknya meski ada sebagian kecil berpura-pura tak mendengar. Yang pasti mereka semua menikmati “oleh-oleh” yang dibawa Bulik Fulanah dari Jakarta. ? Peristiwa ini terjadi puluhan tahun lalu di awal tahun 1990-an.?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 28 Juli 2016

Konsolidasi, PMII Sidoarjo Kumpulkan Ketua Komisariat se-Jatim

Sidoarjo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sidoarjo mengadakan pertemuan dan silaturahmi dengan seluruh ketua komisariat PMII se-Jawa Timur di aula Rahmatul Ummah, Ahad (19/2).

Menurut Ketua Panitia Arisky Gladhyansyah, temu dan silaturahmi dengan seluruh ketua komisariat PMII ini merupakan awal kebangkitan pengurus PMII yang ada di Jawa Timur agar lebih progresif dalam menyikapi persoalan kebangsaan.

Konsolidasi, PMII Sidoarjo Kumpulkan Ketua Komisariat se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsolidasi, PMII Sidoarjo Kumpulkan Ketua Komisariat se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsolidasi, PMII Sidoarjo Kumpulkan Ketua Komisariat se-Jatim

"Silaturahmi ini sebagai jembatan agar saling berinteraksi satu sama lainnya, dan menyamakan persepsi tentang konsep kaderisasi dan gerakan dalam mengawal NKRI," kata Arisky.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua PMII Sidoarjo Muhammad Mahmuda berharap melalui momentum tersebut seluruh kader PMII se-Jatim dapat merumuskan beberapa ritme kederisasi dan gerakan yang ada di setiap komisariat dan cabangnya masing-masing.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mahmuda mengapresiasi pertemuan tersebut. Pasalnya, para keder PMII tak hanya bersilaturahmi, melainkan juga mendapatkan materi seputar kebangsaan dan melakukan dialog kaderisasi.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Ketua PKC PMII Jatim, Ketua PMII Sidoarjo, Ketua IKA PMII Sidoarjo, Kodam Brawijaya, Letkol Didik Suryadi dan seluruh kader PMII Jatm. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 27 Juli 2016

Tak Mau Pergi, Kiai As’ad Tampar Komandan Jepang

Kisah pengusiran serdadu Jepang dari bumi Garahan, Jember tak lepas dari keberanian dan wibawa Kiai As’ad Syamsul Arifin selaku Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia. Saat itu, begitu pasukan gerilya tiba di markas serdadu Jepang, Kiai As’ad langsung menemui komandan serdadu negara matahari terbit itu, dan memberikan ultimatum; segera angkat kaki atau dihancurkan.

Namun dia rupanya masih berkelit, bahkan minta waktu 3 bulan untuk pergi. Kiai As’ad tidak mau dikibuli, dan hanya memberi waktu 3 hari pada Jepang untuk pulang ke negaranya.

Tak Mau Pergi, Kiai As’ad Tampar Komandan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Mau Pergi, Kiai As’ad Tampar Komandan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Mau Pergi, Kiai As’ad Tampar Komandan Jepang

Saat hari ketiga habis, Kiai As’ad kembali menemui komandan Jepang. Tapi dia masih belum juga mau pergi dengan baragam alasan, Kiai As’ad pun marah. Dan tanpa babibu, beliau menampar muka sang komandan. Sejurus kemudian, Kiai As’ad menggebrak meja yang ada di depan sang komandan, dan meja itu pun patah jadi dua.

Cerita tersebut diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshoamd saat memberikan sambutan dalam acara “Jember Bershalawat Dalam Rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Tasyakuran Pemberian Gelar Pahlawan Nasional KHR. As’ad Syamsul Arifin” di alun-alun Jember, Senin malam (19/12).

Menurut Kiai Muhyiddin, kisah ditamparnya Komandan Jepang tersebut menunjukkan betapa Kiai As’ad mempunyai wibawa dan keberanian yang luar biasa. Bisa dibayangkan, seorang komandan yang begitu dihormati? anak buahnya, tiba-tiba ditampar di depan mereka, dan dia tidak melawan. “Itu karena Kiai As’ad biasa berpuasa, tirakat sehingga mudah mendapatkan? pertolongan dari Allah,” ucapnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah sambutan Kiai Muihyiddin, lantunan shalawat benar-benar membaha di langit Jember. Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin yang memimpin pembacaan shalawat dan diiringi oleh musik hadrah, cukup piawai juga. Sesekali ia menerangkan kehebatan Rasulullah SAW.

Kendati hujan rintik-rintik masih turun, namun peserta shalawat yang memadati separuh lapangan, tak beringsut dari tempat duduknya. Mereka tetap khidmat bershalawat hingga hampir memasuki paruh malam.

Acara tersebut juga dihadiri oleh cucu Kiai As’ad,? ? Uswatun Hasanah. Bahkan kakak Ra Azaim Ibrahimy tersebut juga sempat memimpin lantunan shalawat. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 10 Juli 2016

9 Ribu Orang Hadiri Pengajian Akbar

Semarang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Hari kedua, Senin (27/8) jam 07-00 hingga 15.00 digelar hafalan Al-Qur’an bil ghoib oleh 40 orang khuffadz (penghafal Al-Quran) yang disimak puluhan santri dan warga sekitar. Lalu malamnya, ada pengajian akbar bersama Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya bertema Maulid Nabi dan Haul Wali. 

9 Ribu Orang Hadiri Pengajian Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Ribu Orang Hadiri Pengajian Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Ribu Orang Hadiri Pengajian Akbar

Tak kurang 9 ribu orang hadir dalam pengajian Haul perdana di masjid Mbah Sholeh Darat ini. Ketua panitia Haul ke-112 Agus Taufiq yang tak lain salah satu buyut Mbah Sholeh Darat sampai menangis karena haru ketika berpidato laporan panitia. 

Dia sangat terharu, betapa besar dukungan umat Islam, khususnya kaum nahdliyin, sehingga masjid Mbah Sholeh Darat yang dulu sepi, malam itu dibanjiri ribuan orang hingga dua sisi jalan depan masjid ditutup semalam. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Terima kasih atas bantuan semua pihak yang membantu secara ikhlas kelancaran Haul ini. Sungguh saya sangat terkesan dengan keikhlasan panjenengan semua. Amanah menggelar kegaitan ini baru bisa saya laksanakan sekarang. Ini haul pertama yang istimewa,” ujarnya sambil terisak di atas pangung utama. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kerahkan Pasukan

Dalam pengajian akbar tersebut, sebanyak 120 pasukan Banser dikerahkan menjaga 10 pos seputar pengamanan di sekitar lokasi pengajian. Para pengurus PC GP Ansor Kota Semarang juga hadir lengkap dengan seragam hijau kebesaran mereka. 

Lalu 32 pesilat Pagar Nusa Kota Semarang plus 5 pendekar dan 3 Pasukan Inti (Pasti) mendukung pengamanan ring I di sekitar panggung utama yang diisi 40-an ulama dan habaib. 

Sementara di barisan perempuan, seragam batik hijau Muslimat NU terlihat meriah diantara hadlirat berpakain putih. Ketua PC Muslimat NU Kota Semarang Nyai Hajjah Hanifah Syarofuddin mengaku mengerahkan seluruh PAC Muslimat NU untuk menghadiri pengajian tersebut. 

Tak ketinggalan barisan aktivis Fatayat NU, IPNU dan IPPNU dengan seragam identitas masing-masing. Tak hanya tenaga dan pikiran, PCNU Kota Semarang juga menyumbang secara materi. Baik uang, barang maupun apa saja yang bisa diberikan atau dipinjamkan. 

Kala grup rebana menabuh terbang  dan melantunkan sholawat Simtud Duror, para hadirin mengikutinya dengan serempak. Seiring dalam nada, termasuk saat berdiri dalam mahalul qiyam ketika sampai pada bacaan “Selamat Datang Wahai Rasulullah”. 

Tak hanya itu, sebagaimana biasa dilakukan NU yang menjadi penjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, ada defile bendera Merah Putih oleh regu Banser khusus. Satu bendera secara simbolis diserahkan kepada Kepala Biro Bina Mental Pemerintah Provinsi Jawa Tengah H. Muhammad Aris yang mewakili Gubernur Jateng. Dilanjutkan menyanyikan lagi Indonesia Raya oleh seluruh hadirin. 

Banser dan Pagar Nusa juga hadir dengan seragam masing-masing di acara Tahlilan di makam Kiai Sholeh Darat pada Selasa (28/8). Di tengah ribuan peziarah yang diorganisir jamaah Pengajian Ahad Pagi pimpinan KH Abdul Muin, pasukan Banser dan Pagar Nusa ikut berdoa dan membaca tahlil di seputar kompleks makam Kiai Sholeh Darat di Bergota, Semarang. Tak ketinggalan ketua PCNU Kota Semarang H Anasom dan jajarannya hadir diantara peziarah. 

Kepala Satkorcab Banser Kota Semarang Margono memimpin langsung satu regu Banser pagi itu. Pasukannya beserta tim pesilat Pagar Nusa, mengawal kirab perjalanan dzurriyyah (keturunan dan keluarga) Kiai Sholeh Darat dari masjid peninggalan Kiai Sholeh di Kampung Darat di Semarang Utara menuju pemakaman umum Bergota di Semarang Tengah. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: M Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan, Ahlussunnah, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 06 Juli 2016

Warnai Medsos dengan Hal-hal Positif dan Cerdas

Tangerang Selatan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Media sosial bukan lagi barang baru bagi generasi milenial. Ia seolah menjadi zona kedua dalam menjalani kehidupan.

Forum Silaturahim Buntet Pesantren Cirebon (Forsila BPC Jakarta Raya) dan Ikatan Pelajar, Pemuda, dan Mahasiswa Kuningan (IPPMK) Jadetabek menggelar diskusi Cerdas Berselancar di Media Sosial dengan tema Poros Gerakan Baru Mahasiswa Milenial di Intermezzo Cafe, Ciputat, Tengerang Sel;atang, Banten, Senin (16/10).

Warnai Medsos dengan Hal-hal Positif dan Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
Warnai Medsos dengan Hal-hal Positif dan Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

Warnai Medsos dengan Hal-hal Positif dan Cerdas

Penasihat Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara Romzi Ahmad memulai diskusi dengan mengenalkan istilah-istilah yang digunakan di media sosial. Generasi milenial merupakan penduduk asli digital.

Pencipta lambang Forsila itu juga mengungkapkan kegelisahannya terkait hilangnya ghirah untuk menokohkan seseorang. Padahal, dari ‘kelompok sebelah’ melakukannya by design.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk menokohkan seseorang itu, menurut pria yang akrab disapa Gus Romzi itu tidak cukup hanya mengandalkan admin. Tetapi juga butuh orang yang berpengaruh, orang yang sudah dikenal luas dan memiliki banyak followers untuk bahu membahu menokohkan seseorang itu.

“Admin saja tidak cukup, tapi butuh influencer,” katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua PB PMII Bidang Luar Negeri itu pun mencontohkan, bahwa santri juara MTQ internasional masih kalah tenar dengan salah satu imam masjid.

Pria asal Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon, itu juga menyampaikan, bahwa tidak perlu berpikiran mengubah pola pikir seseorang melalui media sosial.

“Jangan berpikir punya target meng-NU-kan. Bukan untuk mengislamkan atau deradikalisasi, tetapi untuk mengimbangkan postingan, mewarnai media sosial dengan hal-hal positif,” katanya.

Selain Gus Romzi, kegiatan yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari latar belakang organisasi alumni pesantren dan primordial itu juga menghadirkan Koordinator Media Komunitas Kretek Rizqi Jong.

Bang Jong, panggilan akrabnya, mengemukakan bahwa media sosial saat ini ditakuti sebagai sebuah wadah gerakan. Ia mencontohkan peristiwa Arab Spring yang dimulai dari Tunisia pada 2011 silam itu berawal dari postingan seseorang di media sosialnya.

Mahasiswa saat ini belum melakukan hal tersebut. Jangankan di ranah nasional, lingkup kampus pun menurutnya mahasiswa saat ini masih kurang peka.

Hal tersebut ditengarai karena media sosial masih sebatas digunakan oleh mahasiswa untuk hal-hal pribadi. Contohnya, saat makan lalu diunggah.

“Medsos hanya digunakan untuk hal-hal pribadi,” katanya.

Untuk membuat gerakan di media sosial, Bang Jong hanya menyarankan buat hal-hal yang sifatnya sederhana, tetapi harus konsisten.

“Buat gimik sederhana. Yang penting konsisten,” ujarnya.

Selain itu, ia juga berpesan agar merumuskan kembali bagaimana bermedia sosial. “Kita harus merumuskan kembali bagaimana kita bermedia sosial. Selanjutnya, laksanakan,” tutupnya. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Nasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 04 Juli 2016

Khofifah: Pesantren Buntet Besar Kontribusinya terhadap NU

Cirebon, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa turut mendampingi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo saat melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Buntet, Kamis (13/4/2017), dalam rangka Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon 2017.

Usai prosesi peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo, Ketua Pimpinan Pusat Muslimat itu menyampaikan pada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bahwa pesantren Buntet merupakan pesantren yang sangat besar kontribusinya terhadap Nahdlatul Ulama.

Khofifah: Pesantren Buntet Besar Kontribusinya terhadap NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Pesantren Buntet Besar Kontribusinya terhadap NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Pesantren Buntet Besar Kontribusinya terhadap NU

“Pesantren Buntet ini pesantren yang sangat besar kontribusinya terhadap kelahiran dan kebesaran nama Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Khofifah berharap agar keluarga dan santri Buntet Pesantren dapat mewarisi besarnya kontribusi yang telah ditorehkan para sesepuh.

“Mudah-mudahan seluruh inisiasi, seluruh kontribusi dari para sesepuh pesantren Buntet akan bisa diwarisi oleh keluarga besar Buntet dan santri-santri Buntet, menjadi bagian dari penguat kemasalahatan umat, agama, bangsa, dan negara,” ucapnya. (M Syakir Niamillah/Mukafi Niam)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah