Kamis, 13 Juli 2017

Ngabuburit ala Santri Pesantren Tremas

Pacitan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selama bulan suci Ramadhan, Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan dipenuhi dengan kegiatan pengajian kitab kuning. Pengajian dimulai sehabis shalat subuh sampai pukul 24.00 istiwa’ kecuali waktu shalat dan berbuka puasa. Pengajian diikuti oleh seluruh santri putra dan putri.

Pengajian Ramadhan akan berlangsung hingga tanggal 27 Ramadhan nanti. Di antara puluhan kitab yang dibacakan oleh pengasuh dan para ustadz adalah kitab karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, kitab Risalah? Ahlussunnah wal Jamaah.

Ngabuburit ala Santri Pesantren Tremas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngabuburit ala Santri Pesantren Tremas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngabuburit ala Santri Pesantren Tremas

Kitab karya pendiri Nahdlatul Ulama itu merupakan salah satu pedoman Nahdliyin dalam mempelajari tentang apa yang disebut Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.? Dalam kitab ini, dijelaskan beberapa persoalan? yang berkembang di masyarakat semisal tentang makna bid’ah, dan tanda-tanda hari kiamat yang terjadi pada masa sekarang ini.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Luqman Harits Dimyathi Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan memulai pengajian sehabis ashar. Serambi masjid Pondok Tremas dipenuhi oleh para santri yang dengan khidmat mendengarkan pembacaan kitab baris demi baris. Sesekali di sana sini diselingi humor segar yang menghangatkan suasana.

Sambil menunggu waktu berbuka tiba atau yang lazim disebut Ngabuburit, para santri memanfaatkan waktu senggang dengan melakukan ziarah ke makam masyayikh Pondok Tremas yang berada di Maqbaroh gunung Lembu yang berjarak 300 M barat daya pondok tremas. Di maqbaroh tersebut dimakamkan para kyai di antaranya Simbah KH Dimyathi bin Abdulloh (Simbah Guru), KH Abdurrozaq bin Abdulloh (Mursyid Thariqah Syadziliyah), KH Habib Dimyathi, KH Harits Dimyathi, dan para kiai lainnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pengajian Ramadhan di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan akan ditutup dengan khataman kubro yang akan diikuti oleh seluruh pengasuh dan para santri, khataman kubro diisi dengan pembacaan tahlil dan ditutup dengan tausyiah pesan-pesan pengajian dari pengasuh.

Setelah khataman, Selanjutnya para santri akan pulang ke kampung halaman masing masing dan akan kembali ke pondok untuk memulai aktivitas belajar di madrasah pada tanggal 15 Syawwal nanti. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU, Lomba, Santri Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 10 Juli 2017

PBNU Peringati Harlah ke-90 NU

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperingati hari lahir ke-90 organisasinya. Peringatan harlah ke-90 NU rencananya dilangsungkan di Gedung Pegadaian Pusat, Jalan Kramat Raya nomor 162, Jakarta Pusat, Senin (27/5).

PBNU Peringati Harlah ke-90 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Peringati Harlah ke-90 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Peringati Harlah ke-90 NU

Peringatan harlah ke-90 NU dimulai dengan kegiatan pengkhataman Al-Quran yang berlangsung sejak 06.00 hingga 17.00 oleh tim Jam‘iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH). Sementara kegiatan seremonialnya dimulai sejak pukul 19.00.

Kegiatan tahlil dan doa bersama mengawali seremonial harlah ke-90 NU. Tahlil dan doa dipimpin langsung seorang Rais Syuriah PBNU KH Syaifuddin Amsir. Sedangkan pidato harlah disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Peringatan harlah NU tahun ini mengambil tajuk, ’90 Tahun NU Berkhidmat Kepada Umat, Berbakti Kepada Negeri’. Sedangkan taushiyah harlah ke-90 NU akan disampaikan oleh Rais Aam KH M Ahmad Sahal Mahfudz.

Peringatan harlah NU ditandai dengan pemotongan tumpeng. Di akhir acara, paara hadirin rencananya akan dihibur dengan tayangan film ‘Sang Kiai’ yang menampilkan peran pendiri NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy‘ari dan NU dalam peristiwa bersejarah 10 November 1945.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hari peringatan bertepatan dengan tanggal 17 Rajab 1434 H, selisih sehari dengan tanggal lahir NU yang jatuh pada 16 Rajab. Warga NU umumnya memperingati dua harlah NU baik mengikut penanggalan Hijriyah maupun Masehi yang jatuh pada 31 Januari.

Penulis: Alhafiz Kurniawan?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Warta, Pahlawan, Sholawat Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 08 Juli 2017

Buku Syekh Khatib Sambas Diterbitkan Ulang

Pontianak, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Buku fenomenal Syekh Achmad Khatib Sambas (SAKS) akan terbit ulang. Saat ini tim penulis mulai melakukan revisi, sementara permintaan sudah cukup tinggi.

Buku Syekh Khatib Sambas Diterbitkan Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Syekh Khatib Sambas Diterbitkan Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Syekh Khatib Sambas Diterbitkan Ulang

"Insyaallah kita akan terbit ulang. Sejumlah kelompok pengajian meminta agar dicetak ulang. Segera akan kita lakukan sekaligus revisi," kata salah satu penulis buku itu, Erwin Mahrus di kantornya, Selasa (23/). 

Buku Achmad Khatib Sambas terbit tahun 2002 lalu. Penerbitnya Unta Press yang diluncurkan perdana di Hotel Kapuas Palace. Pengantarnya Ketua Umum KH Said Agil Siroj, Ketua Umum PBNU.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Tingginya permintaan terhadap buku itu membuat saya dan Rosadi Jamani sebagai penulis untuk segera terbit ulang. Segala kekurangan dibetulkan dan ada penambahan redaksi baru," jelas Erwin yang juga Dosen STAIN Pontianak ini.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

SAKS adalah putra terbaik Kalbar lahir di Sange Sambas. Hidup di awal tahun 1800-an. Dia wafat di Mekkah. Ia pendiri tariqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang terkenal di dunia.

"Buku beliau adalah Fathul Arifin di dalamnya memuat tata cara (tarekat) Qadiriyah wa Naqsabandiyah," papar putra Sambas ini.

Sosok SAKS sangat dikenal di sejumlah negara. Untuk Indonesia, sosok SAKS sangat dihormati di pesantren Suryalaya Tarikmalaya. Ia juga satu-satunya dari Asia Tenggara yang pernah jadi imam Masjidil Haram.

"Saat jadi imam di Makkah, banyak orang dari segala penjuru dunia belajar tariqat sama beliau. Muridnya itu membawa ajarannya ke negaranya masing-masing. Itu sebabnya, beliau banyak dikenal di sejumlah negara di dunia," urai Erwin.

Kenapa SAKS kurang dikenal di Kalbar, karena setelah ke Mekah tidak lagi kembali ke Kalbar. Walau demikian banyak muridnya yang membawa ajaran tariqat ke Kalbar. 

"Sekarang proses revisi sedang dilakukan. Bila tak ada halangan pertengahan tahun ini selesai, lalu kita cetak," kata Erwin. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 07 Juli 2017

KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, Pelajar Indonesia Pertama di Al Azhar Mesir

Lawatan Grand Syaikh Al Azhar Dr. Ahmad Muhammad Ath Thayyib ke Indonesia memiliki kesan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi para pelajar Indonesia yang pernah menimba ilmu di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Mengingat hubungan Indonesia dengan Mesir sudah terjalin sejak abad ke-19 Masehi. Namun tahukah anda, siapa generasi pertama pelajar Indonesia yang  menuntut ilmu di universitas kelahiran 911 Masehi ini?

Dalam buku Jauh di Mata Dekat di Hati; Potret Hubungan Indonesia – Mesir terbitan KBRI Kairo, disebutkan bahwa pada tahun 1850-an di komplek Masjid Al Azhar telah dijumpai komunitas orang Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Ruwak Jawi (hunian bagi orang Indonesia). Selain Ruwak Jawi, di masjid ini juga terdapat tiga Ruwak lain, yakni Ruwak Atrak (Turki), Ruwak Syami (Suriah) dan Ruwak Maghorobah (Maroko).

Salah satu pelajar pertama Indonesia yang tinggal di Mesir dan tercatat di buku terbitan tahun 2010 ini adalah KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, kakek dari Syaikh Mahfudz Attarmasi.

KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, Pelajar Indonesia Pertama di Al Azhar Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, Pelajar Indonesia Pertama di Al Azhar Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abdul Manan Dipomenggolo Tremas, Pelajar Indonesia Pertama di Al Azhar Mesir

KH Abdul Manan Dipomenggolo tinggal di Al Azhar Mesir sekitar tahun 1850 M. Selama di Negeri Piramid, beliau berguru kepada Grand Syeikh ke-19, Ibrahim Al Bajuri. Jadi wajar di tahun-tahun itu ditemukan kitab Fath al-Mubin, syarah dari kitab Umm al-Barahin yang merupakan kitab karangan Grand Syeikh Ibrahim Bajuri mulai dibaca di beberapa pesantren di Indonesia.

Pengembaraan KH Abdul Manan Dipomengolo dalam menuntut ilmu di timur tengah kelak diikuti oleh generasi selanjutnya, yaitu KH Abdullah (Putra KH Abdul Manan Dipomengolo), Syaikh Mahfudz Attarmasi, KH Dimyathi Tremas, KH Dahlan Al Falaki Tremas (Ketiganya kakak beradik, Putra KH Abdullah) yang menuntut ilmu di Makkah.

KH Abdul Manan Dipomengolo telah berhasil meletakkan batu landasan sebagai pangkal berpijak ke arah kemajuan dan kebesaran serta keharuman pondok pesantren di Nusantara. Kegigihannya dalam mendidik putra-putranya sehingga menjadi ulama-ulama yang tidak saja menguasai kitab-kitab yang dibaca, lebih dari itu, juga berhasil menyusun berbagai macam kitab dan memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan dunia Islam, seperti Syaikh Mahfudz, seorang ulama besar Nusantara, Malaysia, dan Thailand yang pernah menjadi imam Masjidil Haram dan pemegang sanad Shoheh Bukhori-Muslim.

Maka sangat wajar bila nama KH Abdul Manan Dipomengolo, pelajar Indonesia pertama di Al Azhar Mesir dan pendiri Pesantren Tremas disebut sebagai peretas jejaring intelectual chains generasi ulama-ulama nusantara. (Zaenal Faizin)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Khutbah, Hikmah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 06 Juli 2017

NU dan Kemiskinan Anak

Oleh Achmad Faiz MN Abdalla

Koran Kompas 25 Juli 2017 lalu memuat opini berjudul Kemiskinan Anak. Penulisnya adalah Iswadi, Kepala Subdirektorat Analisis Statistik BPS. Tulisan itu menarik karena memaparkan data, bahwa hampir dari setengah warga miskin di Indonesia adalah anak-anak. Hal yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya. Terlebih bila dikaitkan dengan bonus demografi, persoalan tersebut harus segera diatasi, atau minimal disadari. Karena bagaimana pun, anak adalah harapan bangsa ini di masa mendatang.

NU dan Kemiskinan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Kemiskinan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Kemiskinan Anak

Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2017 sebanyak 27,77 juta orang. Jumlah itu bertambah dari kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang. Nah, dari hampir 28 juta jiwa penduduk miskin pada Maret 2016 itu, sebanyak 40,22 persen adalah anak-anak. Menurut Iswadi, melihat pola pergerakan jumlah dan persentase penduduk miskin, secara kasar, jumlah dan persentase anak miskin pada 2017 tidak jauh berbeda dengan kondisi pada Maret 2016.

Dijelaskan oleh Iswadi, bahwa kemiskinan anak merupakan masalah multidimensional mengingat banyak faktor penyebab anak menjadi miskin. Kondisi rumah tangga merupakan penentu utama kemiskinan anak, baik dilihat dari pendekatan moneter dan nonmoneter. Penelitian menunjukkan anak miskin lebih banyak ditemukan dalam rumah tangga yang dikepalai perempuan, jumlah anggota rumah tangga lebih dari tujuh orang, dan kepala rumah tangga yang berpendidikan rendah.

Anak miskin secara moneter adalah anak berusia 0-17 tahun yang tinggal di rumah tangga miskin, yaitu rumah tangga dengan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah garis kemiskinan. Kemiskinan anak moneter dihitung dengan menggunakan metode yang sama dengan perhitungan kemiskinan penduduk secara umum. Bila nilai rata-rata pengeluaran per kapita per bulan suatu rumah tangga berada di bawah garis kemiskinan, maka seluruh anggota rumah tangga merupakan penduduk miskin.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam kemiskinan moneter itu, seorang anak akan sangat rentan menghadapi terampasnya (deprivasi) hak-hak dasarnya. Unicef mengembangkan multiple overlapping deprivation analysis (MODA) yang merupakan suatu ukuran komprehensif tingkat terampasnya hak-hak dasar anak secara multidimensi. Menurut Unicef, anak yang terdeprivasi adalah mereka yang hidup dalam kemiskinan sehingga terampas hak-haknya secara materiel, spiritual, dan emosional dalam memenuhi kebutuhan bertahan hidup dan berkembang. 

MODA membedakan konsep deprivasi untuk anak umur 0-4 tahun dan anak umur 5-17 tahun. Untuk usia 0-4 tahun, hak dasar seorang anak terampas jika ia tak mendapat ASI hingga umur 23 bulan, tidak mendapat imunisasi DPT, dan kelahirannya tidak dibantu oleh kesehatan terlatih. Selain itu, dianggap terampas hak-hak dasarnya jika tidak memiliki akses terhadap sumber air berkualitas, jauh dari sumber air, tidak mempunyai akses terhadap sanitasi yang berkualitas, tinggal di ruang tempat tinggal yang terlalu sempit dan tidak layak, serta mendapat perlakuan kekerasan dalam rumah tangga.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, untuk anak umur 5-17 tahun, hak dasar anak terampas jika ia tidak mengikuti program wajib belajar, tidak memiliki akses terhadap fasilitas pencarian informasi, tidak memiliki akses terhadap air berkualitas, tinggal di tempat tinggal dengan ruang yang terlalu sempit, materi lantai dan atap yang tidak layak, serta mendapat kekerasan dalam rumah tangga.

Di Indonesia, bekerjasama dengan Unicef, BPS melakukan penyesuaian indikator dalam mengidentifikasi terampasnya hak-hak dasar anak. Yaitu, jika luas lantai tempat tinggal per kapita kurang dari 7,3 meter persegi, tak memiliki sanitasi serta akses sumber air minum layak, rumah tangga memasak menggunakan bahan bakar alami, tak diberikan ASI eksklusif atau makanan tambahan, konsumsi kalori kurang dari minimum dietary energy requirement (MDER), proporsi lemak pada makanan yang dikonsumsi lebih dari 35 persen, tak bersekolah sesuai umur, tak memiliki akta kelahiran, menjadi pekerja anak, dan pernah atau sedang berstatus kawin.

Peran NU

Sebagai gambaran awal, pada 2015, sebanyak 5,99 persen dari 36,8 juta orang penduduk usia 10-17 tahun di Indonesia tercatat sebagai pekerja anak. Yang memprihatinkan, sebanyak 204.530 orang masih berumur 10-12 tahun dan 356.490 berumur 13-14 tahun. Padahal, mereka merupakan anak dalam usia wajib belajar. Selain itu, data juga menunjukkan, hampir 8 persen anak Indonesia yang lahir tidak ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Karena itu, edukasi dan sosialisasi proses melahirkan yang aman masih harus digiatkan. 

Sebanyak 95,04 persen bayi di bawah dua tahun pernah dikasih ASI. Namun rata-rata lama memperoleh ASI saja hanya 4,03 bulan, sedang rata-rata lama pemberian ASI dengan makanan pendamping 6,23 bulan. Rata-rata tersebut tentu masih jauh dari 23 bulan, sebagaimama ukuran yang ditentukan MODA. Padahal, perkembangan anak pada usia itu sangat berpengaruh pada daya tahan fisik saat dewasa serta perkembangan otak seorang anak.

Sebanyak 1,53 persen anak perempuan usia 10-17 tahun berstatus kawin dan 0,11 persen berstatus cerai (Iswadi, Kemiskinan Anak, Kompas, 25 Juli 2017). Sedang penelitian BKKBN pada tahun 2014, 46 persen atau setara dengan 2,5 juta pernikahan yang terjadi setiap tahun di Indonesia mempelai perempuannya berusia antara 15 sampai 19 tahun (CNN Indonesia, 22 Maret 2016). Indonesia bahkan menjadi salah satu negara tertinggi di Asia Timur dan Pasifik untuk jumlah angka perkawinan usia anak. Tidak heran bila kondisi pernikahan anak di Indonesia sudah masuk dalam kategori darurat. 

Menariknya, Jawa Timur yang merupakan basis Nahdlatul Ulama menjadi daerah dengan jumlah perkawinan anak tertinggi se-Indonesia (Kompas, 24 Juli 2017). Jumlahnya mencapai 35 persen dari jumlah perkawinan. Maka, harus menjadi perhatian penanggung jawab terkait, termasuk NU melalui Fatayat dan Muslimat NU, untuk melakukan edukasi yang lebih gencar kepada orangtua sebagai filter utama pencegahan perkawinan anak. UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan, orang tua bertanggung jawab untuk mencegah perkawinan anak usia dini.

Oleh sebab itu, edukasi dan sosialisasi melalui organisasi masyarakat menjadi sangat relevan. Pemerintah tidak akan dapat berjalan sendiri mengatasi persoalan kemiskinan anak tersebut. Kesadaran masyarakar perlu dibangun, dan untuk membangunnya, peran organisasi masyarakat seperti NU sangat dibutuhkan. Terlebih, mengatasi persoalan itu tidak hanya menjadi kepentingan negara, melainkan kepentingan bersama, termasuk NU sendiri yang sedikit banyak warganya dihadapkan pada persoalan kemiskinan.

Berdasarkan data BPS pada September 2016, angka kemiskinan di kota mencapai 7,73 persen dan di desa 13,96 persen. Perbandingan ini tidak banyak berubah dibandingkan dengan September 2015, di mana kemiskinan di kota mencapai 8,22 persen dan di desa 14,09 persen. Artinya, disparitas jumlah masyarakat miskin yang tinggal di perdesaan dengan perkotaan masih sangat tinggi, yakni hampir dua kali lipat. Sedangkan sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa sebagian besar massa NU berbasis di perdesaan. 

Isu kemiskinan telah menjadi perhatian Muslimat NU pada rapimnas Maret lalu. Muslimat NU pun telah bertekad untuk mengatasi persoalan kemiskinan di perdesaan. Bahkan mengajak beberapa pihak bekerjasama, di antaranya Kementerian Desa. Tekad Muslimat NU tersebut tentu harus didukung, dan harus diseiringkan dalam kerangka mengatasi persoalan kemiskinan anak. Muslimat NU diharapkan dapat menjadi banom yang terdepan dalam mengatasi persoalan kemiskinan anak tersebut.

Pengajian dan kegiatan rutin yang diadakan, harus mulai disisipi edukasi tentang pemenuhan hak-hak dasar anak. Tekad Muslimat NU dalam pengentasan kemiskinan tentu harus dibarengi dengan pembangunan kualitas SDM, terutama SDM anak yang merupakan aset bangsa di masa mendatang.

Sebaliknya, mengatasi persoalan kemiskinan anak tentu tidak cukup bila hanya disandarkan pada kesadaran disertai edukasi belaka, melainkan harus disertai upaya konkret untuk mengatasi kemiskinan sesungguhnya. Dengan begitu, anak dapat mencapai potensi diri atau berpartisipasi secara penuh dan setara dalam lingkup sosial.

Penulis adalah Pelajar NU Gresik, aktif di Sekolah Bangun Desa SoeKa Institute Gresik.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Quote, Pemurnian Aqidah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 05 Juli 2017

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis

Semarang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pesantren sejak dulu merupakan lembaga pendidikan yang turut melahirkan karya tulis. Tak jarang, para kiai yang menekuni bidang tertentu mengabadikan gagasan dan wawasannya dalam bentuk sebuah kitab.

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis

"Tradisi pesantren adalah tradisi jurnalistik karena setiap yang ingin menjadi seorang ulama haruslah memiliki karya atau tulisan," kata salah seorang intelektual muda NU Zuhairi Misrawi saat mengisi pelatihan jurnalistik Majalah Santri di kampus IAIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2).

Kegiatan bertema ”Menegaskan Kembali Akar Jurnalistik Pesantren” ini diikuti dewan redaktur Majalah Santri dari 12 perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA). Hadir dalam acara ini, Sekretaris Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Tengah yang juga Ketua Prodi Ilmu Falak IAIN Walisongo KH Arja Imroni.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut, Zuhairi menjelaskan tentang kuatnya akar pesantren dalam tradisi kepenulisan. Ulama-ulama Nusantara dapat produktif menulis juga disebabkan kegigihan mereka dalam hal membaca banyak literatur. Teladan ini, menurut Zuhair, perlu terus dilestarikan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Karena ketika mengiginkan menjadi penulis yang baik maka jadilah pembaca yang baik,” ujarnya.

Pemimpin Umum Majalah Santri Surotul Ilmiyah menekankan pentingnya merawat budaya menulis dalam pesantren. Menurut dia, kegiatan menulis adalah tradisi positif yang diwariskan ulama sejak dulu. Pelatihan jurnalistik menjadi salah satu upaya merealisasikan dan membangkitkan semangat ini di lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara itu.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Quote Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 01 Juli 2017

Rekor Baru, Donor Darah Santri-Pelajar 693 Kantong

Jombang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ini mungkin baru pertama kalinya di Indonesia, kalangan pelajar dan Santri melakukan donor darah masal. Bahkan kegiatan social ini tercatat dalam Indonesia Book of Records. Dalam satu hari, bisa terkumpul sebanyak 693 kantong darah dari kalangan pelajar dan santri.

Rekor Baru, Donor Darah Santri-Pelajar 693 Kantong (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekor Baru, Donor Darah Santri-Pelajar 693 Kantong (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekor Baru, Donor Darah Santri-Pelajar 693 Kantong

Kegiatan yang tercatat dalam Indonesia Book of Records Kategori Siswa Pelajar ini dilakukan pelajar MAN Tambakberas Jombang, Jawa Timur, Rabu (28/11) kemarin.

“Kegiatan ini untuk membangun kepekaan sosial dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan  mewujudkan semangat kepedulian kepada sesame,” ujar Sutari, Kepala Madrasah yang berada dilingkungan Pesantren yang dikenal memiliki sosok KH Wahab Chasbullah selaku pendiri NU.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dikatakannya, sebenarnya, lebih dari seribu peserta yang mendaftar untuk mengikuti kegiatan donor darah ini. Namun beberapa peserta yang persyaratannya tidak memenuhi syarat. Baik dari segi kondisi siswa, usia siswa, dan berat badan siswa. ”Bahkan ada peserta yang sampai menangis oleh karena tidak memenuhi syarat,” ungkap Sutari mengatakan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dengan perolehan sebanyak 693 kantong donor darah, maka kegiatan donor darah ini sekaligus tercatat dan dinobatkan Indonesia Book of Records (IBoR) sebagai Rekor Indonesia Pertama Donor Darah Kategori Siswa/Pelajar.

“Hasil ini  yang paling terbanyak selama kita ketahui, karena waktunya hanya sehari,” ujar Presiden IBoR, Bapak Paul Winarto mengatakan yang disambut tepuk tangan para siswa, para guru, dan petugas PMI yang hadir.

Paul mengatakan, sebelumnya donor darah pemecahan rekor IBoR telah terpecahkan di Bandung. Dengan perolehan sebanyak 491 kantong darah. “ Sebelumnya di Kota Bandung. Namun kategori untuk umum. “Dan kali ini untuk pertamakalinya IBoR mencatat rekor donor darah kategori siswa/pelajar, dalam hal ini dilakukan oleh MAN Tambakberas Jombang,” pungkasnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, AlaSantri, Doa Pimpinan Pusat Muhammadiyah