Kamis, 03 Agustus 2017

Bangkitkan Syiar Kampus Lewat Buletin “Kholish”

Semarang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Berbagai terobosan baru terus dipacu untuk membuat kampus menjadi "hijau” yang syarat dengan lingkungan yang asri dan menyejukkan. Dengan semangat itulah IPNU-IPPNU Komisariat Universitas Negeri Semarang ingin memacu dunia kampus menjadi tempat yang tentram, damai dan menyejukkan.

Lembaga Pers dan Jurnalistik yang merupakan salah satu lembaga di kepengurusan IPNU-IPPNU Komisariat UNNES yang bergerak di bidang tulis-menulis terus berinovasi. Melalui semangat membangkitkan semangat syiar dakwah Islam Rahmatan Lilalamin di dunia kampus. Lembaga ini pada bulan Mei ini menerbitkan sebuah buletin "Kholis".

Bangkitkan Syiar Kampus Lewat Buletin “Kholish” (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangkitkan Syiar Kampus Lewat Buletin “Kholish” (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangkitkan Syiar Kampus Lewat Buletin “Kholish”

"Melalui buletin ini, kami berharap agar dunia kampus UNNES menjadi lebih terwarnai dan mahasiswa umum dapat mengetahui tentang informasi terkait kegiatan IPNU-IPPNU Komisariat UNNES sehingga tertarik untuk bergabung, mengabdi dan mengembangkan diri di organisasi ini," ujar Rekanita Wakhidati, Ketua Lembaga Pers dan Jurnalistik, di Semarang, Sabtu (11/5).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Buletin ini disebar di berbagai tempat-tempat strategis di dalam maupun luar kampus, seperti di Mushola dan Masjid serta tempat-tempat strategis agar dapat dibaca oleh mahasiswa maupun warga sekitar, juga akan diberikan kepada pembina IPNU-IPPNU.

Selain Buletin Kholish sebagai salah satu media cetak yang dipakai. Berita kegiatan maupun informasi terkait IPNU-IPPNU Komisariat UNNES dapat diakses melalui facebook, twitter dan blog di www.ipnuunnnes.blogspot.com

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menjadi harapan bersama agar berbagai media yang dimiliki tersebut dapat memberikan manfaat bagi pembaca dalam menelusuri tentang IPNU-IPPNU, NU dan ajaran Islam Ahlussunah Wal Jamaah di dunia kampus pada khususnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Muhammad Kridaanto

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, Pendidikan, Humor Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Aswaja Selaras dengan Karakter Pancasila

Pamekasan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Paham Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) sangat selaras dengan karakter Pancasila. Sebab, dalam sejarahnya, nenek moyang bangsa Indonesia memiliki kepekaan toleransi yang kukuh dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian serta kemanusiaan.

Aswaja Selaras dengan Karakter Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Selaras dengan Karakter Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Selaras dengan Karakter Pancasila

Demikian ditegaskan pengasuh Pesantren Al-Abror KH Syatibi Sayuthi Iyyad, Rabu (28/10) dalam pelantikan Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan PK Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Al-Abror, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Dikatakan, karakter Pancasila yang berhaluan Aswaja tersebut meliputi taat beragama, menghormati sesama manusia, bisa mempersatukan semua unsur, kepemimpinan dan keadilan sosial.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Syatibi menambahkan, keselaran Pancasila dan Aswaja itu dapat melebur dalam ajaran khas Islam bangsa ini. Dan itu tercermin dalam Islam Nusantara.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Islam Nusantara ini bukan paham atau aliran keagamaan baru. Melainkan, ia merupakan perwujudan dari Islam yang tawazun, tasamuh, dan rahmatan lilalamin. Pijakannya ialah menyemai kasih sayang kepada semua makhluk Allah," tegasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sholawat, Pesantren, Humor Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Said: Ujaran Kebencian Warnai Wajah Dakwah di Indonesia

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Maraknya ujaran kebencian yang kerap terlontar di atas mimbar pidato dan ceramah kerap mewarnai wajah dakwah di Indonesia. Hal ini dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ketika dakwah yang terlihat justru tidak berusaha memupuk kebersamaan dalam keberagaman.

“Ujaran-ujaran kebencian, intoleransi, dan ajakan radikal mewarnai dakwah di negeri kita,” ujar Kiai Said dalam opininya di Harian Kompas edisi Kamis (29/11/2017) halaman 7 berjudul Dai Kombatan

Kiai Said: Ujaran Kebencian Warnai Wajah Dakwah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Ujaran Kebencian Warnai Wajah Dakwah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Ujaran Kebencian Warnai Wajah Dakwah di Indonesia

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini, dai-dai dengan tendensi kebencian tersebut tidak sedikit yang melahirkan atau menetaskan pengikut militan.

Hal ini, menurut kiai kelahiran Cirebon ini, didukung dengan karakter generasi milenial yang begitu mudah terseret arus radikalisme karena sihir dakwah yang berkecenderungan keras.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kemudian para radikalis mengendus celah dan kesempatan ini sehingga dengan mudah bermain menyalakan bara,” jelas Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

Untuk menyikapi derasnya arus ujaran kebencian yang menjadi salah satu faktor timbulnya radikalisme ini, NU dalam perhelatan Munas Alim Ulama dan Konbes di Lombok, NTB pada 23-25 November 2017 lalu membahas secara serius terkait hate speech ini.

Ujaran kebencian haram

Ujaran kebencian masuk kategori perbuatan tercela (akhlaq madzmumah). Karena itu ia haram dilakukan untuk kepentingan apa pun, termasuk untuk tujuan kebaikan seperti dakwah atau amar ma’ruf nahi munkar. 

Hal itu menjadi kesepakatan Sidang Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Maudluiyah Munas Alim Ulama 2017 yang digelar di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan, Kota Mataram, NTB, Jumat (24/11) lalu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Amar ma’ruf nahi munkar juga tidak bisa dilakukan dengan kemunkaran karena mengajak kebaikan juga harus dilakukan dengan kebaikan. Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi munkar tidak dapat dibenarkan melalui ujaran kebencian yang dalam Islam merupakan bagian dari kemunkaran,” kata Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU Mahbub Ma’afi membacakan rumusan sidang komisi.

Ujaran kebencian diharamkan karena menyerang kehormatan pribadi dan golongan yang dilindungi agama (hifdhl-‘irdh) dan membawa dampak yang serius bagi tata kehidupan sosial masyarakat, seperti permusuhan, pertikaian, dan kebencian antara satu orang dengan orang lain dan antara golongan dengan golongan yang lain.

“Perpecahan di kalangan golongan masyarakat akan mudah terjadi akibat ujaran kebencian yang menembus batas-batas pertahanan sosial masyarakat. Pada gilirannya, harmoni dan kerukunan masyarakat akan mudah terkikis dalam suasana dan iklim kebencian,” papar Mahbub.

Ia mengatakan, media sosial telah menjadi sarana yang paling cepat dalam penyebaran ujaran kebencian, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis. Twitter, Facebook, Whatsapp, dan Youtube, misalnya, menjadi alat yang efektif dalam menyebaran ujaran kebencian. 

“Konten-konten ujaran kebencian kini mudah diakses dan tersebar ke seluruh lapisan masyarakat melalui media sosial, baik anak-anak maupun orang dewasa. Penyebaran ujaran kebencian di media sosial pun sulit dibendung dan masuk ke dalam jantung kehidupan sosial masyarakat,” terang pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengah ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian Sunnah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 02 Agustus 2017

Sambut 2014, Ribuan Muslim Madura Istighotsah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pamekasan. Pondok Pesantren? Karang Nagkah, Tengracak, Plakpak, Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur,? menyambut tahun baru 2014 dengan kegiatan istighotsah, Selasa malam (31/12).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 3.500 umat Islam dari Kabupaten Pamekasan, Sampang, dan Sumenep. Mereka tampak khidmat mengikuti rangkaian kegiatan istighasah dari awal hingga usai. Semua hadirin menggunakan pakaian serba putih, sebagai simbol kesucian.

Sambut 2014, Ribuan Muslim Madura Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut 2014, Ribuan Muslim Madura Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut 2014, Ribuan Muslim Madura Istighotsah

Lebih dari itu, dalam kesempatan tersebut, hadir pula sejumlah ulama. Yakni, KH Hasan Baqir (Pengasuh Karang Nangkah), KH Muhammad Syamsul Arifin (Darul Ulum), KH Abd Ghafur Syafiudin (Al-Mujtama), KH Nawawi Thaha (Ketua DPC PPP Pamekasan), dan KH Ali Karrar Sinhaji.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selanjutnya, terlihat pula KH Mundir Kholil, K Holil Muhammad, KH Bayan, KH Makmun Tamim, KH Lutfi Palpettok, KH Zubaidi, KH Muhtam, KH Abd Majid, KH Adnin Muhammad, KH Ilyas, dan sejumlah kiai lainnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Ra Baqir Hasan Baqir menegaskan, kegiatan tersebut sekaligus memperingati maulid Nabi Muhammad SAW serta membiasakan momentum malam tahun baru dengan kegiatan positif.

"Hal ini sekaligus untuk membentengi moral generasi Madura di masa mendatang. Tentu kita berharap, kegiatan seperti ini bisa digelar secara istikamah. Melalui kegiatan ini, diharapkan ada nuansa baru dan semangat baru," terang putra KH Hasan Baqir ini.

Sementara itu, Humas Panitia Baidowi menambahkan, kegiatan tersebut dimaksudkan juga sebagai bagian dari syiar Islam dan memperkuat ukhuwah melalui silaturahmi.

"Kegiatan ini tidak ada kaitan dengan politik, meskipun banyak tokoh parpol yang menghadiri dan mengikuti jalannya istighasah dengan penuh penghayatan," tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa

Sukoharjo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sukoharjo, belum lama ini (8/5) mengadakan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-53 PMII yang dan Satu Dasawarsa PMII Sukoharjo. 

PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa

Acara yang dihadiri ratusan peserta baik pengurus, anggota, maupun para alumni tersebut diselenggarakan di Gedung Pertemuan Kantor Kelurahan Ngadirejo Kartasura Sukoharjo.

Dalam acara yang mengusung tema "Memperteguh Peran Strategis PMII Sebagai Social Mandatory Dalam Kepemimpinan Demokrasi" ini, ketua PMII Sukoharjo, Jampit Ludiro dalam suatu orasi kebangsaan, ia mengatakan dengan lebih dari usia emas, organisasi PMII dalam level nasional telah terbukti sebagai perangkai negeri dan penjaga NKRI.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Itu bagian dari bukti PMII sebagai social mandatory,” kata Mahasiswa IAIN Surakarta itu.

“Sinergitas dan kolektifitas antara kader dan alumni, juga menjadi modal penting dalam menjaga ritme gerakan,” imbuh sang ketua.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Acara kemudian dilanjutkan dengan pentas monolog “Kemerdekaan” karya Putu Wijaya. Di akhir peringatan Harlah PMII ini, diadakan pemberian kenang-kenangan dari pengurus cabang untuk para mantan ketua, mulai dari periode 1 sampai periode 7.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pemkab Probolinggo Santuni 1.750 Anak Yatim

Probolinggo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam rangka berbagi kebahagiaan dan memulyakan anak yatim, Pemkab Probolinggo bekerja sama dengan KKKS dan Baznas Kabupaten Probolinggo memberikan santunan kepada 1.750 anak yatim, Rabu (12/10) siang.

Pemkab Probolinggo Santuni 1.750 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Probolinggo Santuni 1.750 Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Probolinggo Santuni 1.750 Anak Yatim

Pemberian santunan bertajuk Semarak Bulan Muharram 1438 H, Hidup Mulia Bersama Anak Yatim ini dipusatkan di Gedung Islamic Center Kota Kraksaan. Santunan ini diberikan untuk memaksimalkan momentum peringatan 10 Muharram 1428 yang merupakan harinya anak yatim.

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo H. Moch. Nawi dan jajaran Forkopimda, Rais PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri serta sejumlah tokoh agama dan masyarakat di Kabupaten Probolinggo.

Tampak pula Ketua Umum KKKS Kabupaten Probolinggo Hj. Nunung Timbul Prihanjoko didampingi Wakil Ketua Hj. Yuni Nawi, Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H Ahmad Muzammil dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain menerima santunan, para anak yatim piatu dari 24 kecamatan, ormas dan Yayasan Anak Yatim di Kabupaten Probolinggo ini juga memperoleh mukena, sarung dan alat-alat tulis sekolah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo H. Moch. Nawi dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut dilakukan untuk mengingatkan tentang keistimewaan dan keutamaan tanggal 10 Muharram. ”Kegiatan ini semata-mata untuk mengingatkan bahwa 10 Muharram adalah hari istimewa dan hari ulang tahunnya yatim piatu,” ungkapnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Nawi, begitu pentingnya menyantuni anak yatim sehingga bagi yang tidak memperhatikan anak yatim dan menafkahi orang miskin dianggap orang yang mendustakan agama. Bahkan dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa yang menanggung anak yatim nanti di surga oleh Rasulullah diibaratkan seperti jari telunjuk dan jari tengah.

”Begitu mulianya kalau kita ingin memulyakan anak yatim. Sebab nantinya akan bersama Rasulullah di surga seperti jari telunjuk dan jari tengah. Hal ini dikarenakan anak yatim sangat membutuhkan bimbingan baik jasmani maupun rohani,” tegasnya.

Kepada anak-anak yatim piatu Nawi berpesan agar senantiasa rajin sekolah, rajin mengaji serta selalu mematuhi nasehat orang tua dan guru di sekolah. Sebab semua itu adalah bekal di masa depan nanti.

Dalam kesempatan tersebut Nawi juga memberikan santunan kepada para anak yatim yang mampu menjawab pertanyaan seputar agama dan surat-surat pendek dalam Al Qur’an. Jumlah santunan yang diberikan tidak sama sesuai dengan jawaban yang disampaikan. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tegal, Anti Hoax Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 01 Agustus 2017

Menag: Pengajaran Islam Harus Mencerahkan Umat

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Islam harus diajarkan dengan cara-cara yang mencerahkan. Pengajaran Islam harus membuat orang yang menerima Islam menjadi tercerahkan, bukan malah berpikiran sempit dan menganggap diri dan kelompoknya yang paling benar sendiri.

“Dan menganggap yang berbeda dengannya salah,” kata Menag saat memberikan sambutan dalam acara Halaqah Ulama ASEAN di Jakarta, Selasa (17/10).

Menag: Pengajaran Islam Harus Mencerahkan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Pengajaran Islam Harus Mencerahkan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Pengajaran Islam Harus Mencerahkan Umat

Hal ini harus dilakukan agar umat Islam tidak saling tuding dan energinya habis untuk mendebatkan persoalan-persoalan yang bersifat cabang (khilafiyah). Bagi Menag, persoalan-persoalan yang bersifat cabang itu harus disikapi dengan arif karena itu sudah ada sejak dulu dan tidak akan pernah selesai. Ia meminta umat untuk lebih memfokuskan perhatiannya pada persoalan yang nyata dihadapi umat seperti kemiskinan, ketimpangan, dan lainnya.

Lukman menjelaskan, dengan pengajaran Islam yang mencerahkan maka umat akan memiliki wawasan yang terbuka dan tidak sempit sehingga mereka bisa menerima perbedaan yang ada.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia juga meminta umat agar tidak melakukan pengafiran kepada umat Islam lainnya karena perbedaan pandangan dan paham. Apabila yang diperdebatkan adalah hal-hal yang bersifat cabang, maka tidak perlu untuk melakukan hal-hal yang menjurus kepada pengafiran.

Ia juga mendorong kelompok Islam yang moderat untuk aktif dan mewarnai dunia maya untuk meredam kelompok kelompok ekstrem.

“Ini saatnya kaum moderat untuk lebih bersuara, mengisi ruang-ruang publik bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita Pimpinan Pusat Muhammadiyah