Rabu, 04 Oktober 2017

Bersama Disnaker, Muslimat NU Sosialisasi Peluang Kerja di Dalam dan Luar Negeri

Brebes, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Brebes menggelar sosialisasi peluang kerja bagi generasi muda di Kabupaten Brebes. Sosialisasi memberi penekanan tentang peluang kerja di dalam negeri maupun luar melalui jalur resmi. Sehingga para pencari kerja tidak dikibuli dan mendapatkan pekerjaan yang layak serta mendapatkan perlindungan hukum yang pasti.

Demikian disampaikan Ketua PC Muslimat NU Hj Chulasoh di sela Sosialisasi di Gedung Wanita Kabupaten Brebes Jalan Ahmad Yani Brebes, beberapa waktu lalu.

Bersama Disnaker, Muslimat NU Sosialisasi Peluang Kerja di Dalam dan Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Disnaker, Muslimat NU Sosialisasi Peluang Kerja di Dalam dan Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Disnaker, Muslimat NU Sosialisasi Peluang Kerja di Dalam dan Luar Negeri

Chulasoh memberikan pemahaman kepada 100 peserta dari berbagai kalangan remaja yang sudah lulus SLTA dan Perguruan Tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan tetap. Muslimat NU menggandeng Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Tenaga Kerja kabupaten Brebes.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan materi tentang peluang kerja oleh Seksi Penempatan Tenaga Kerja di Dalam dan Luar Negeri Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah Fandi Anggara. Dia memberikan tips bagaimana mendapatkan pekerjaan ditengah persaingan global. Menuru Fandi dalam menggapai pekerjaan persyaratan keahlian atau latar belakang pendidikan tidaklah mutlak. Tetapi ada beberapa pengaruh yang bisa meloloskan atau menggagalkan seseorang dalam meraih suatu posisi pekerjaan.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Selain pendidikan, juga attitude, skill dan jiwa entrepreneurship harus dimiliki seorang pencari kerja,” terangnya.

Sedangkan peluang kerja di dalam daerah, disampaikan Kabid Pengembangan Tenaga kerja dan Transmigrasi Dinas Tengaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Brebes Bambang Mahanani. Dia memberikan gambaran bagaimana peluang kerja di Kabupaten Brebes,

Berdasarkan Kartu Pencari Kerja (AK1) di Kabupaten Brebes lebih kurang ada 980 orang pencari kerja periode akhir Mei 2016. “Namun, sudah terserap sebanyak 170 orang hingga akhir Mei,” ungkapnya.

Sementara peluang kerja yang ada sekitar 500-600 lowongan. Angka tersebut, mayoritas berada di luar negeri untuk job order pembantu rumah tangga, cleaning servis dan operator produksi.?

Sebenarnya, kata Bambang, banyak peluang kerja yang bisa diraih oleh para pencari kerja. Hanya kurang berselanjar dalam menangkap peluang itu. Pencari kerja banyak tidak tahu karena kurang mendapatkan informasi. Padahal, di Dinas Tenaga Kerja secara rutin dipampang peluang-peluang itu.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kendala lain, para pencari kerja sungkan memproses document kenegaraan seperti paspor, juga ketrampilan tambahan. “Kalau ingin mendapatkan yang sesuai dengan yang menjadi kebutuhan perusahaan, tentu harus terus menerus mengupdate informasi sembari menambah ketrampilan,” pungkasnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Olahraga, Syariah, RMI NU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 03 Oktober 2017

Membangun Epistemologi Islam Nusantara

Oleh Ali Romdhoni*

Keunikan kondisi umat Islam di Indonesia salah satunya ditandai dengan keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas) Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Keempat ormas ini memiliki ribuan dan bahkan hingga jutaan pengikut (jama’ah).

Membangun Epistemologi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Epistemologi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Epistemologi Islam Nusantara

Selain memiliki jama’ah, ormas-ormas ini juga memiliki variasi model kajian keislaman yang terus dikembangkan dan dipraktikkan oleh anggota komunitasnya.

Selanjutnya, tradisi studi keislaman yang dikembangkan keempat ormas di atas bisa diklaim sebagai representasi dari tradisi studi keislaman khas Indonesia. Membangun kesimpulan seperti di atas sangat penting, terutama untuk meneguhkan dan mewujudkan mimpi umat Islam Indonesia, bahwa ke depan Islam di Nusantara berpotensi besar menjadi model dan rujukan masyarakat dunia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk mewujudkan mimpi di atas, perlu penelusuran epistemologi pemikiran keislaman (teologi, fikih, tasawuf, model dakwah) serta karakteristik ormas-ormas di Indonesia, kemudian direkonstruksi dengan tetap melihat akar kultural yang melatarbelakangi kelahiran ormas.

Dalam kajian filsafat ilmu, epistemologi membahas sumber, struktur, metode dan validitas satu pengetahuan. Epistemologi juga dipahami sebagai ilmu yang mengkaji keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Dalam konteks Islam Nusantara, kita perlu mengkaji historisitas pemikiran keislaman yang dikembangkan satu ormas, serta dinamikanya dari waktu ke waktu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kajian historis atas pemikiran keislaman satu ormas sangat penting, karena ormas yang mampu bertahan (survive) sampai hari ini memiliki pengalaman sejarah yang berbeda, dan masing-masing unik.

Selain itu, tipologi pemikiran keislaman yang dikembangkan satu ormas merupakan hasil dialektika antara ajaran Islam yang dikaji oleh komunitas, realitas sejarah di sekitar dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan oleh anggota ormas. Dari sini kemudian lahir interpretasi versi masing-masing ormas. Dalam pandangan penulis, lembaran panjang sejarah Islam di mana pun merupakan pergumulan masyarakat Islam untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam yang mereka kaji dalam ruang dan waktu tertentu.

Karena itu, kalau pun setiap ormas di negeri ini memiliki kesimpulan yang unik dalam melihat realitas sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama, hal itu lebih disebabkan kecenderungan corak pemikiran (‘ideologi’) yang sudah terbangun sejak lama, dan melatarbelakangi berdirinya satu ormas. Iya, sikap ormas adalah hasil ijtihad yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

Maka wajar ketika suatu ormas di Indonesia kelak mengalami pergeseran paradigma, seiring dengan laju perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Ormas yang sangat ekstrim dan fundamental dalam menafsir teks-teks agama, suatu saat bisa menampakkan wajah yang toleran dan ramah dalam bersikap. Hal ini bergantung pada pergulatan pemikiran para anak mudanya, serta sikap dari figur petinggi ormas itu.

NU dan Islam Nusantara

Islam Nusantara sebagai sebuah brand (merek, nama) lahir dari kegigihan, kerja keras dan proses panjang yang dilewati warga nahdliyyin di Indonesia dalam memperlihatkan dan menawarkan wajah Islam yang ramah dan peka terhadap persoalan kemanusiaan. Sebagai merek, Islam Nusantara sudah didengar oleh para calon pengguna (user). Bahkan sebagian dari mereka sudah mulai hunting di pasaran.

Islam dan masyarakat Indonesia yang memeluknya dinilai oleh warga dunia sebagai hal yang unik, yang berbeda dari umat Islam di beberapa negara yang memiliki jumlah muslim mayoritas. Di sini kemudian orang-orang mulai melacak proses masuknya Islam di Nusantara, mulai dari metode penyampaian nilai-nilai Islam serta respon masyarakat lokal dalam menerima ajaran agama Islam.

Dalam kondisi yang demikian, para pengusung Islam Nusantara harus menyiapkan diri dan semakin memantapkan langkah dalam menerima pertanyaan, kritikan dan juga tanggapan sinis dari masyarakat. Semua itu ada manfaatnya, terutama untuk mengukuhkan bangunan epistemology dari Islam Nusantara sebagai brand baru, yang kemunculannya sudah dinanti pengguna.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan para pengusung Islam Nusantara. Pertama, merumuskan bangunan pengetahuan Islam Nusantara. Ke depan, Islam Nusantara tidak terbatas menjadi topik pembicaraan di forum-forum informal dan bahan komentar di jejaring media sosial. Tetapi sangat mungkin menjadi bahan diskusi serius bagi para ilmuwan dunia. Karena itu, bangunan epistemology Islam Nusantara harus segera digali dan dirumuskan.

Kedua, melakukan sosialisasi yang terorganisir kepada publik. Hal ini supaya nama ‘Islam Nusantara’ tidak diplintir kesana dan kemari. Mengingat dewasa ini masih saja ada pihak-pihak yang secara sengaja menyebarkan informasi yang memancing emosi pembaca.

Ketiga, mengajak beberapa elemen di Indonesia yang memiliki kesamaan visi dalam menampilkan wajah Islam yang ramah. Sehebat apa pun gagasan dan konten Islam Nusantara tidak bisa hanya diusung oleh sebagian kecil pihak. Apabila orang-orang yang tidak bertanggung jawab jumlahnya lebih besar, maka pesan Islam Nusantara akan dipahami oleh masyarakat secara keliru. Karena itu, seluruh elemen yang dimiliki bangsa ini harus diajak dan libatkan dalam menawarkan wajah Islam Nusantara yang ramah dan menjawab problem dunia modern.

Penulis prihatin dengan beberapa pihak yang kurang bijak dalam menawarkan dan menerima nilai-nilai atau pemikiran keislaman dewasa ini. Fanatisme yang berlebihan dari penganut organisasi keislaman terkadang justru melahirkan sikap ekstrim, permusuhan, dan kebencian dalam memandang kelompok lainnya. Tulisan ini penulis maksudkan sebagai ajakan untuk berfikir besar, menjadi muslim yang berkontribusi bagi kelangsungan umat manusia dunia. Dari Islam Nusantara untuk kelangsungan dunia. Wallahu a’lam.

*Ali Romdhoni, dosen filsafat dan kajian Qur’an Universitas Wahid Hasyim Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Lomba Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Suarakan Keadilan, PMII Depok Jalan Kaki Depok-Bandung

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Depok Universias Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menyambut tahun baru 2014. Wajah keadilan di Indonesia yang dianggap suram digambarkan dengan aksi simbolis berupa jalan kaki dari Depok ke Bandung, Jawa Barat.

Beberapa kader PC PMII Depok, antara lain Muzain, Fajar, dan Akbar berjalan kaki sejauh 169 KM dari sekretariat PC PMII Depok di Jalan Margonda Depok menuju ke kantor Pengadilan Negeri Bandung. Perjalanan dimulai sejak 30 Desember 2013 dan sampai ke tujuan Jumat kemarin, 3 Januari 2014.

Suarakan Keadilan, PMII Depok Jalan Kaki Depok-Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Suarakan Keadilan, PMII Depok Jalan Kaki Depok-Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Suarakan Keadilan, PMII Depok Jalan Kaki Depok-Bandung

Kantor Pengadilan Negeri Bandung dipilih karena ia merupakan perlambang penegakkan hukum di Jawa Barat. Di tempat ini pula aktivis PMII Indramayu, Rojak, disidang lantaran aksi demo bersama rekan-rekannya membela hak petani Indramayu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Memang perjalanan ini sebagai simbolisasi bahwa keadaaan hukum di Indonesia masih sangatlah jauh bagi mereka orang pinggiran (pejalan kaki),” bunyi siaran pers yang diterima Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berbagai bentuk penanganan hukum yang ada dinilai cenderung masih memihak kepada mereka yang berduit dan berkuasa. PC PMII Depok UI berharap, hukum akan berjalan lebih adil dan beradab di tahun 2014 ini.

Setelah sampai ke tempat tujuan, kader-kader PC PMII Depok membentangkan kain mori bertuliskan “Tahun 2014 #Keadilan” yang dimaksudkan sebagai pengharapan akan tahun 2014 untuk keadilan yang lebih baik dan lebih bersih.

Perjalanan juga sempat mengalami hambatan. Aksi jala kaki yang sedianya bertiga harus mencapai kantor Pengadilan Negeri Bandung berdua saja, karena salah seorang peserta, Fajar, mengalami cedera kaki dan tidak bisa melanjutkan perjalanan saat di wilayah Bandung Selatan.

“Perjalanan jauh ini bukan untuk sensasi melainkan suara hati terdalam sebagai rakyat pergerakan yang masih memiliki hati nurani,” tulis PC PMII Depok ini. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nasional, Nahdlatul Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pengurus PBNU Dikukuhkan di Masjid Istiqlal Sabtu

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2015-2020 akan dikukuhkan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (5/9) pagi. Acara akan dirangkai dengan sholawat dan istighosah untuk keselamatan bangsa.

Pengurus PBNU Dikukuhkan di Masjid Istiqlal Sabtu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus PBNU Dikukuhkan di Masjid Istiqlal Sabtu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus PBNU Dikukuhkan di Masjid Istiqlal Sabtu

“Insya Allah besok dilaksanakan pengukuhan kepengurusan PBNU masa khidmat 2015-2020 hasil Muktamar Ke-33 NU di Jombang,” kata Sekretaris Jenderal PBNU H A Helmy Faishal Zaini dalam rilisnya, Jumat (4/9).

Helmy menambahkan PBNU ke depan akan fokus di 3 bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Maka dari itu, pengukuhan PBNU mengangkat tema ‘Dengan Doa dan Sholawat Kita ? Perkokoh Ukhuwah Wathoniyah Menuju Indonesia Makmur dan Sejahtera’.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kami mengajak umat Islam untuk mendoakan kedamaian dan keamanan Indonesia di tengah-tengah gejolak ekonomi dunia dan dalam negeri,” tuturnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain itu, lanjut Helmy, pengukuhan PBNU besok dijadikan momentum untuk merangkul kaum muda perkotaan yang kurang mengetahui Nahdlatul Ulama. Mereka, Helmy, menambahkan harus dijadikan NU.?

“Jadi sangat penting bagaimana kita membuat pola transformasi yang bisa masuk ke lapis anak muda. Mereka juga harus jadi NU, paling tidak punya kesadaran tentang NU.”

Acara pengukuhan PBNU besok akan dihadiri Wakil Presiden RI H. Jusuf Kalla dan menteri kabinet kerja. Rangkaian acara pengukuhan akan dimulai pukul 10.00 sampai 15.00 WIB. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pendidikan, Nasional, Cerita Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 02 Oktober 2017

IPNU Purwakarta Gelar Lomba Baca Kitab Kuning

Purwakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. IPNU Purwakarta beserta beberapa banom yang ada di lingkungan PCNU Purwakarta, menggelar panggung bagi mereka yang bisa membaca kitab kuning. Perlombaan yang digelar di Pendopo Pemda Purwakarta, Kamis (22/10) itu, diadakan dalam rangka merayakan Hari Santri.

Ketua IPNU Purwakarta Adi Setiawan mengungkapkan, santri dan kitab kuning bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Untuk itu ia bersama rekan-rekan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Purwakarta menggelar lomba membaca dan menerjemahkan kitab kuning.

IPNU Purwakarta Gelar Lomba Baca Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Purwakarta Gelar Lomba Baca Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Purwakarta Gelar Lomba Baca Kitab Kuning

"Kitab yang dilombakan dalam kegiatan ini adalah Kitab Adabul Alim wal Mutaallim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, kitab Alfiyah Ibnu Malik dan Kitab Taqrib," kata Adi usai kegiatan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kegiatan lomba ini diikuti oleh para santri sekabupaten Purwakarta. Mereka antara lain datang dari pesantren Al-Hikamus Salafiyah, pesantren Al-Muhajirin, pesantren Manbaul Ulum, pesantren Al-Mutmainnah, pesantren Az-Zahro, pesantren Fathul hikam, dan lainnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Kegiatan ini tadi dibuka langsung oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Ia mengapresiasi kegitan ini, karena ini untuk mengenang perjuangan para ulama sekaligus meneguhkan nilai keagamaan serta cinta tanah air. Ia juga mendorong agar ke depan IPNU mampu mengawal lomba terjemah kitab kuning dengan bahasa Sunda. Ia siap memfasilitasi hadiah dan sebagainya," kata Adi.

Pengumuman pemenang lomba, kata Adi, akan dibacakan pada saat malam puncak peringatan Hari Santri yang akan digelar di alun-alun Kian Santang Pemda Purwakarta pada Jumat (23/10) malam.

"Insya Allah pada malam puncak akan dihadiri 10.000 santri dari berbagai pesantren dan majelis talim yang ada di Purwakarta," imbuhnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Goethe Institut-PBNU Jajaki Sejumlah Kerja Sama

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Goethe-Institut Indonesia menjajaki sejumlah kerja sama dengan PBNU mencakup antara lain kebudayaan, pengembangan sumber daya manusia, teknik perkapalan, ekonomi dan keuangan syariah.

Penjajakan itu mengemuka pada pertemuan Direktur Goethe-Institut Indonesia Sohns Katrin saat bersilaturahim ke PBNU di Jakarta, pada Rabu (11/2). Ia ditemui Ketua PBNU H Eman Nuryaman, dua Wakil Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama PBNU Dr Jaenal Efendi (M.A alumni Goetingen Univ Jerman) dan Asyrofudin Nur Widodo, dan Wakil Ketua Lembaga perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PBNU M. Afifi.

Goethe Institut-PBNU Jajaki Sejumlah Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Goethe Institut-PBNU Jajaki Sejumlah Kerja Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Goethe Institut-PBNU Jajaki Sejumlah Kerja Sama

Ditemui setelah pertemuan, Jaenal Efendi mengatakan Goethe-Institut Indonesia, tertarik datang ke PBNU masyarakatnya banyak sehingga temanya harus luas. Tapi paling tidak, arah kerja sama ke kebudayaan, pengembangan sumber daya manusia, teknik perkapalan, ekonomi dan keuangan syariah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PBNU akan membuat draft kerja sama kedua belah pihak, kemudian mengadakan pertemuan kembali untuk menyepakati bidang-bidang yang penting untuk dikerjasamakan. “Tapi pintu masuk awalnya melalui cultur (kebudayaa, red.), juga ekonomi Islam yang sebenarnya masuk ke dalam kebudayaan juga,” terang Jaenal.

Nanti, lanjut dia, Goethe-Institut Indonesia akan mengajak NU untuk diperkenalkan dengan Kedutaan Besar Jerman. Dari situ bisa ada kerja sama yang lebih luas lagi. (Abdulllah Alawi)



Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nusantara, Ulama, AlaNu Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 01 Oktober 2017

Kisah Wali Allah Bernama “Kiai Cebolek”

Kiai Cebolek adalah sebutan untuk seorang ulama besar yang bernama Syekh Ahmad al-Mutamakkin. Beliau disebut-sebut sebagai salah satu “Wali Allah” yang sangat berpengaruh pada zamannya. Beliau juga diterima oleh masyarakat karena menggunakan strategi yang arif, dengan menghormati khazanah tradisi lokal yang sudah mengakar. Kebijaksanaan, kearifan, dan kedalaman wawasan keilmuan serta spritualitas Kiai Cebolek ini yang menjadi modal penting dalam dakwah Islamnya di tanah Jawa.

Kiai Cebolek hidup sebagai ulama besar di kawasan Desa Cebolek atau kampung Cebolek, sekitar 30 kilometer arah utara kota Pati, Jawa Tengah. Dalam kajian sejarah sastra Jawa, nama daerah tersebut sudah diabadikan dalam sebuah serat (treatise) yang disebut Serat Cebolek. Sebuah kitab yang memuat kisah-kisah beraroma keagamaan dan kekuasaan yang melibatkan sosok Kiai Cebolek melawan kekuasaan kerajaan.

Kisah Wali Allah Bernama “Kiai Cebolek” (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Wali Allah Bernama “Kiai Cebolek” (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Wali Allah Bernama “Kiai Cebolek”

Dari Sebagian kalangan, ada yang beranggapan bahwa Kiai Cebolek mengajarkan Ilmu hakikat yang menyimpang dari Syari’at Islam. Bahkan derajat kontroversinya disamakan dengan kontroversi yang ditimbulkan oleh Syekh Siti Jenar. Kontroversi Kiai Cebolek merupakan salah satu dari contoh ketegangan yang sudah ada sejak lama antara Islam legalistik (eksoteris) dan tasawuf (esoteris). Hal itulah yang kemudian menjadi tema utama pembahasan dalam serat cibolek ini.

Buku yang berjudul “Suluk Kiai Cebolek: Dalam Konflik Keberagamaan dan Kearifan Lokal” karya Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin ini mencoba mengurai kisah kontroversi dan kemasyhuran sosok Kiai Cebolek. Ada tiga hal yang mempengaruhi kemasyhuran Kiai Cebolek yaitu Pertama, Kiai Cebolek menguasai ilmu-ilmu keislaman (syari’ah), bidang kalam, bidang fiqih, dan bidang tasawuf. Kedua, Kiai Cebolek menguasai elemen-elemen kebudayaan lokal yang bersifat non-Islam, khususnya kisah pewayangan (kisah Bima dan Dewa Ruci), dan memanfaatkan tradisi lokal itu sebagai medium untuk menyampaikan ajaran Islam tanpa melanggar ketentuan syariat yang sudah dipahaminya. Ketiga, komitmen Kiai Cebolek pada gerakan kultural-kerakyatan dengan tidak terpengaruh bingar-bingar kekuasaan yang banyak menggoda para tokoh agama.

Terdapat sisi menarik dari buku ini, yaitu penulis telah mampu memaparkan kosmologi kesufian Kiai Cebolek yang membentuk simetrisitas relasi antara Allah, manusia, dan alam. Penulis telah menunjukkan temuannya, berupa suluk Kiai Cebolek yang tidak tersusun dalam puisi-puisi seperti suluk dalam teks kewalian sebelumnya, justru suluk Kiai Cebolek ditemukan dari ornamen-ornamen pada langit-langit Masjid Kajen Pati. Pada ornamen-ornamen ini terukir berbagai aneka alam lestari, misalnya, pohon, ular, burung, bulan, matahari, manusia, dan beberapa unsur kelestarian alam. Keseluruhan ornamen ini telah dikupas secara filosofis menjadi sebuah suluk kewalian yang bisa membentuk keseimbangan jiwa dan kepribadian yang baik yang lebih ramah terhadap lingkungan hidup.?

Selain itu, dalam buku ini disinggung juga perspektif KH Abudarahman Wahid (Gus Dur) mengenai Kiai Cebolek, bahwa gerakan Kiai Cebolek diakui sebagai gerakan “Pribumusasi Islam”. Sehingga kita bisa menengok cara-cara konsep “Pribumusasi Islam” itu sendiri lewat pandangan Kiai Cebolek. Pribumisasi yang diterapkan oleh Kiai Cebolek merupakan sebuah fase kesadaran ide, yakni kesadaran atau realisasi tentang gagasan yang mampu membentuk sikap dan kepribadinan individu yang direalisasikan dalam keimanan dan amal perbuatan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari apa yang telah dipaparkan, secara sederhana buku ini bukan sekedar utopia atau juga bukan sekedar definisi ideologis. Sebab dakwah yang dilakukan Kiai Cebolek yakni menembus langsung dalam jantung eksistensial manusia, yakni totalitas manusia sebagai “sebaik-baik ciptaan”. Melainkan dakwah yang ? menyentuh semua aspek mulai dari amal perbuatan, pemikiran, kejiwaan, dan rohani itu sendiri.

Pembangunan perspektif dakwah dari sosok Kiai Cebolek yang terkisah secara apik dalam buku ini, tentunya sangat cocok sekali bagi kalangan Muslim terutama di ranah Nusantara untuk membacanya. Mengenal dan meneladani beliau sebagai ulama besar yang menjunjung tinggi kearifan lokal serta amal perbuatan dan kerohanian melalui suluk-suluknya, pastilah sangat diharapkan. Namun, bagi sebagian kalangan mungkin saja ada yang menentang perspektif ini dengan alasan kontroversialnya Kiai Cebolek seperti halnya Syekh Siti Jenar.

Data buku

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Judul Buku : Suluk Kiai Cebolek: Dalam Konflik Keberagaman dan Kearifan Lokal

Penulis : Ubaidillah Achmad dan Yuliyatun Tajuddin

Penerbit : Prenada

Tahun terbit : Cetakan ke-1 Februari 2014

Jumlah Hal : xvi + 300 halaman

Peresensi : Muhammad Fakhrur Riza, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sholawat, Kiai, Ubudiyah Pimpinan Pusat Muhammadiyah