Jumat, 02 Februari 2018

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) menilai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat kuat dalam integritas kebudayaan. Dia menyampaikan hal itu pada diskusi bulanan Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gusdurian, Jl. Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat Jumat (04/03) di Griya Gus Dur, dengan “Gus Dur dan Kearifan Lokal”.

Nia berpendapat, kuatnya integritas Gus Dur dipengaruhi pendidikan keluarga yang berada dalam lingkup Nahdlatul Ulama (NU). Keluarga Gus Dur menghargai kearifan lokal dan tradisi Nusantara yang dalam kajian-kajian dewasa ini dikenal dengan Islam Nusantara.

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan

Gus Dur, masih menurut Nia, tidak hanya mendewa-dewakan ilmu pengetahuan agama Islam yang dimilikinya. Sebagai orang Jawa yang merupakan bagian dari Nusantara, menyebabkan karakter Gus Dur semakin lengkap.

Karakter kebudayaan Gus Dur semacam itulah yang memengaruhi sikap, pandangan, dan tindakan politik Gus Dur sebelum, ketika, dan saat menjadi Presiden. “Saya menyaksikan proses dialog antara Gus Dur dengan teman-teman dari Papua di Istana Negara,” kenang Nia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gus Dur dengan pendekatan persuasif menggunakan identiatas kebudayaan. Gus Dur memperbolehkan nama Papua (sebagai nama untuk wilayah yang sebelumnya Irian Jaya).

Saat warga Papua meminta diakui lagu daerahnya, Gus Dur menyilakan mereka. Gus Dur menganggap semua suku mempunyai lagu kedaerahan, demikian juga warga Papua.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Itu sebabnya sampai sekarang pun bagi warga Papua, Presiden Indonesia adalah Gus Dur. Di rumah-rumah di Jayapura, foto Gus Dur masih dipasang.

Pada bagian lain, Nia menceritakan pendapat Gus Dur terhadap Undang-undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Gus Dur melihat UU tersebut berbahaya. Soal pornoaksi dan pornografi, sudah jelas Gus Dur dan siapa pun tidak setuju dan menolak kalau ditunjukkan di depan umum.

Namun, yang Gus Dur tidak sukai adalah apabila UU tersebut akan menyebabkan terjadinya diskriminasi dan pemberangusan budaya dengan penyeragaman. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hadits Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian

Jambi, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya menguatkan nilai-nilai Islam moderat di Indonesia. Pesan ini ditegaskan Kiai Said pada agenda pengajian Haul 3 Kiai Jambi (Syaikh Majid al-Jambi, Kiai Ibrahim Majid, dan Kiai Qadir Ibrahim) di Pesantren Asad di Jambi, Rabu (29/11/2017).

Hadir dalam agenda ini, Pengasuh Pesantren Asad KH Najmi Qadir,  Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen, Wasekjen PBNU H Suwadi D. Pranoto, Bendahara Pagar Nusa, Indrawan Husairi, Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda, Gubernur Jambi Zumi Zola, serta sesepuh NU dan pesantren di Jambi.

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian

Dalam ceramahnya, Kiai Said menegaskan pentingnya menyebarkan nilai-nilai Islam Nusantara di ranah internasional dan media sosial. "Islam Nusantara bukan aliran, bukan agama baru, tapi khashaish, mumayyizaat, tipologi. Ini yang harus dipahami secara mendalam," jelas Kiai Said.  

Dalam pandangan Kiai Said, penting untuk merawat budaya sebagai pondasi dakwah keislaman. "Islam Nusantara itu Islam yang dibangun dari sendi-sendi budaya. Budaya negeri ini, bukan budaya Arab, tapi budaya Nusantara," terang Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta.

"Saya di Arab tiga belas tahun, pulang membawa empat anak. Tapi yang saya bawa pulang itu ilmu, bukan simbol-simbol budaya. Demikian pula Prof Quraish Shihab, Prof Aqil Munawar, dan Kiai Mustofa Bisri. Semuanya bawa ilmu, tidak ada yang mengimpor budaya Arab ke negeri ini," ungkapnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Said berpesan agar warga muslim negeri ini mencintai tanah air. "Mari kita cintai negeri ini. Mari kita kuatkan Islam dan nasionalisme kita. Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengusir orang-orang yang bikin gaduh, bikin rusuh di Madinah," jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Said mendorong pemimpin daerah tegas terhadap pelaku kerusahan, kelompok teroris. "Untuk sekarang, para pemimpin daerah, silakan usir para pengusik dan perusuh bangsa. Usir ideologinya, kalau orangnya silakan masuk NU, silakan masuk Muhammadiyah, masuk Persis, dan ormas Islam moderat lainnya," tegas Kiai Said. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Najmi, pengasuh pesantren Asad Jambi, mengungkapkan pentingnya meneladani kiai-kiai untuk masa depan santri. "Syekh Majid al-Jambi, Kiai Ibrahim Majid, dan Kiai Qadir Ibrahim, merupakan teladan bagi pengembangan keilmuan dan akhlak santri," ungkapnya. 

Pesantren Asad Jambi, didirikan oleh Kiai Majid al-Jambi, yang diteruskan oleh Kiai Ibrahim Majid dan Kiai Qadir Ibrahim. Kiai Majid al-Jambi, merupakan penasihat keagamaan Sultan Thaha, Kasultanan Jambi. Pada masa kolonial, Kiai Majid pernah diutus Sultan Jambi ke Kasultanan Ottoman di Turki, untuk melawan pasukan kolonial di Hindia Belanda. 

Pada kesempatan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengkonsolidasi pasukan inti Pagar Nusa di Jambi. "Kalau kita mau keras, itu harus punya keris, seperti pernyataan Kiai Wahab Chasbullah. Pasukan inti Pagar Nusa untuk mengabdi dan mengawal kiai, mengkampanyekan Islam Nusantara," jelas Nabil. 

Dalam kesempatan ini, Direktur NU Care-LAZISNU,  Syamsul Huda juga menyerahkan bantuan untuk perbaikan infrastrukur pesantren Asad Jambi. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Ansor Krejengan Libatkan Anak RA Lomba Mewarnai

Probolinggo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Siswa dan siswi TK dan RA perwakilan seluruh yayasan sekecamatan Krejengan kabupaten Probolinggo mengikuti lomba mewarnai yang diadakan GP Ansor Krejengan, Ahad (15/11) pagi. Dalam rangka memeriahkan Hari Pahlawan, para siswa yang terbagi menjadi dua kategori berdasarkan usia ini mencoba menuangkan imajinasi mereka melalui warna.

Ansor Krejengan Libatkan Anak RA Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Krejengan Libatkan Anak RA Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Krejengan Libatkan Anak RA Lomba Mewarnai

Kelompok kategori A untuk anak usia 4-5 tahun. Sementara kategori B untuk anak usia 6 tahun. Ketua GP Ansor Krejengan Ahmad Anshori mengatakan lomba mewarnai ini bertujuan untuk mengenalkan semangat tokoh-tokoh pahlawan sejak usia dini.

“Inilah usaha yang dilakukan oleh pemuda Ansor Krejengan dalam membantu suksesnya pendidikan kepada penerus bangsa. Karena banyak sekali orang saat ini tidak tahu bahkan tidak kenal dengan pahlawannya,” ujarnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Anshori, lomba ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemuda Ansor Krejengan dalam rangka meningkatkan kreativitas anak yang akan berdampak pada peningkatan rasa percaya diri dalam menghadapi masa depannya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kegiatan lomba ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan anak didik baik secara mental maupun IQ serta jiwa keseniannya. Sehingga anak-anak mampu menyalurkan bakat dan kemampuan yang dimilikinya,” jelasnya.

Anshori mengharapkan lomba mewarnai ini nantinya akan memunculkan para bibit-bibit muda yang mampu mengharumkan nama bangsa terutama di bidang kesenian. Lomba mewarnai ini sangat berguna bagi kreativitas anak.

“Mewarnai merupakan salah satu bagian dari dunia pendidikan anak sehingga butuh suatu perhatian, bukan saja dari orang tua tetapi juga dari semua pihak,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir

Mojokerto, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Katib Syuriyah PBNU KH M. Mujib Qulyubi mengatakan momentum Peringatan Hari Santri Nasional perlu direspon secara nyata, tidak sekadar heroisme sesaat.

Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)
Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)

Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir

Oleh dunia pendidikan, dalam hal ini Pergunu, perlu adanya peningkatan perhatian terhadap guru Agama dan Guru NU, yang selama ini belum tersentuh secara nyata.?

Negara wajib hadir untuk memperkuat eksistensi guru-guru tersebut. Perhatian terhadap guru-guru diniyah, guru TPA, dan TPQ, kiranya menjadi poin penting yang perlu diperhatikan Pemerintah.

Hal tersebut diungkapkannya saat mengisi diskusi pada Forum Silaturahim Kongres Pergunu II di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Kamis (27/10) pagi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari sisi Pergunu sendiri, Kiai Mujib mendorong agar guru-guru NU menguatkan kembali semangat berjihad melalui bidang pendidikan, yakni sebagai pengajar. Bahwa saat ini pemerintah menggulirkan sertifikasi guru, yang disatu sisi memperkuat kesejahteraan guru dan sisi lain mendorong profesionalisme, namun pada faktanya banyak yang hanya untuk mengejar kesejahteraan tanpa upaya peningkatan profesionalisme.

“Oleh karena itu, saya lebih cenderung mendorong agar jiwa atau semangat yang dikembangkan dari pesantren perlu juga dipegang oleh para guru NU. Jiwa pesantren yang apa adanya lillahi taala, para guru akan mendidik para siswa dengan sekuat tenaga. Ketulusan dari hati juga terasa, dan daya didik dan keihlasan. Itu yang harus dikembangkan,” terang Mujib.?

Kiai Mujib meneruskan, para dosen perguruan tinggi NU sebenarnya termasuk dalam Pergunu. Namun kehadiran para dosen di komunitas Pergunu tampak masih malu-malu. Hal ini perlu dirumuskan lagi agar para dosen yang merupakan kader NU dapat bersentuhan aktif dalam wadah Pergunu.

Selain itu, Kiai Mujib mengungkapkan adanya anggapan ironis terhadap guru-guru agama SMA, karena banyaknya mahasiswa yang diduga dipengaruhi ajaran golongan radikal saat di SMA.?

Ia mematahkan anggapan tersebut dengan menyebutkan hasil survey oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dirilis Februari 2016, yang menyebutkan bahwa radikalisme di perguruan tinggi salah satunya karena dari kegiatan Rohis (Kerohanian Islam) SMA. Para pembina Rohis belum tentu guru agama yang terjangkit radikalisme dari dirinya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ditemui Pimpinan Pusat Muhammadiyah seusai acara Forum Silaturahim, Kiai Mujib mendorong agar masyarakat NU mengupayakan penyebaran ajaran aswaja dan ke-NU-an melalui kegiatan ? seperti Rohis, tanpa harus berlabel NU.

Terkait dengan perkembangan Pergunu dewasa ini, Kiai Mujib menilai secara umum sudah cukup bagus dengan kelembagaan yang terbentuk. Namun secara organisatoris dan sitem manajemen organisai masih perlu ditingkatkan. Ia mendorong agar Pergunu tidak hanya menjadi event organizer.?

“Peran NU bagi Indonesia tidak terbantahkan. Namun itu jangan menjadi alasan Pergunu untuk mengandalkan program-program dari Kementerian yang ada. Pergunu jangan bergantung pada Pemerintah. Ini yang perlu di-rescedule agenda-agenda Pergunu. Sebagai banom NU, Pergunu harus ikut induknya (PBNU), jadi tidak usah blusukan (mencari proyek) ke Kementerian,” pungkas Kiai Mujib. (Kendi Setiawan/Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Jadwal Kajian, Pahlawan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Balai Media TNI Gelar Kunjungan ke PBNU

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Tim balai media Tentara Nasional Indonesia (TNI) Berita Mitra Warga menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Rabu (27/1) sore. Kepada Kang Said, tim media yang bergerak di bawah naungan Pusat Penerangan (Puspen) TNI dan Mabes TNI ini menegaskan bahwa media TNI mengangkat tayangan-tayangan nasionalis-religius.

“Untuk konten-konten nasionalis, kita menggalang kelompok nasionalis. Kita mau menggalang kelompok pesantren dalam soal religious,” kata Direktur Balai Media TNI R Arvin I Miracelova yang datang bersama empat awak medianya di Jakarta, Rabu (27/1) sore.

Balai Media TNI Gelar Kunjungan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Balai Media TNI Gelar Kunjungan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Balai Media TNI Gelar Kunjungan ke PBNU

Kang Said mengapresiasi tim media binaan Puspen TNI ini. Kang Said menerangkan bahwa NU sudah sejak dini memproduksi konten-konten nasionalis-religius. Kang Said menyebut sejumlah media NU yang hingga kini terus istiqamah seperti Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aswaja TV, NU TV, TV9 Surabaya, Risalah, Aula, Bangkit, Duta Masyarakat, dan media-media online lainnya.

“Kalau masalah konten, kita tidak kekurangan. Semua media yang saya sebutkan tadi luar biasa produktivitasnya,” ujar Kang Said.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kang Said mengajak tim media TNI untuk ikut memantau kelompok-kelompok pengajian yang sembunyi. Pada prinsipnya, dakwah tidak boleh sembbunyi-sembunyi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kalau ada kelompok sembunyi, kita mesti curiga. Kenapa harus eksklusif? Kita NU, Muhammadiyah dan ormas lain terbuka sejak awal. Kalau tertutup, mereka mau apa?” kata Kang Said.

Berita Mitra Warga ini diresmikan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmayanto di Balai Media TNI, 8 Agustus 2015. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Daerah, Kajian Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kami memohon penjelasan tentang hadits riwayat Muslim yang menyatakan bahwa ayah dan ibu Nabi Muhammad SAW masuk neraka. Kami memohon penjelasan hadits ini. Apakah benar di Hari Kiamat ayah dan ibu Nabi Muhammad saw masuk neraka? Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hilmi Qosim Mubah)

Jawaban

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya dan pembaca yang budiman di mana pun berada. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Sebelum berbicara lebih jauh kita terlebih dahulu menyebutkan hadits riwayat Imam Muslim yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk penduduk neraka kelak di akhirat.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kita setidaknya menemukan dua hadits yang diriwayatkan di dalam kitab Jamuis Shahih Muslim terkait masalah ini. Hadits pertama diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik. Hadits kedua diriwayatkan Sahabat Abu Hurairah RA.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hadits riwayat Anas bin Malik RA menceritakan sebagai berikut.

? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ?. ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

Artinya, "Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, ‘Di neraka.’ Ketika orang itu berpaling untuk pergi, Nabi Muhammad SAW memanggilnya lalu berkata, ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka,’” (HR Muslim).

Sementara hadits riwayat Abu Hurairah RA menyebutkan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, "Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya. Di sana Beliau SAW menangis sehingga para sahabat di sekitarnya turut menangis. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Kepada Allah Aku sudah meminta izin untuk memintakan ampun bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengizinkanku. Lalu Aku meminta kepada-Nya agar Aku diizinkan menziarahi makam ibuku, alhamdulillah Dia mengizinkanku," (HR Muslim).

Secara harfiah pemahaman yang kita dapati dari keterangan dua hadits di atas menujukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk ke dalam penghuni neraka. Tetapi sebenarnya ulama baik dari kalangan ahli hadits maupun kalangan ahli kalam berbeda pendapat perihal ini. Di antara ulama yang memaknai hadits ini secara harfiah adalah Imam An-Nawawi. Dalam kitab Syarah Muslim yang ditulisnya menunjukkan secara jelas posisinya seperti keterangan berikut ini.

? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengertian hadits ‘Seorang lelaki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ dan seterusnya, menunjukkan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kufur bertempat di neraka. Kedekatan kerabat muslim tidak akan memberikan manfaat bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mereka yang meninggal dunia di masa fatrah (masa kosong kehadiran rasul) dalam keadaan musyrik yakni menyembah berhala sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika itu, tergolong ahli neraka. Kondisi fatrah ini bukan berarti dakwah belum sampai kepada mereka. Karena sungguh dakwah Nabi Ibrahim AS, dan para nabi lainnya telah sampai kepada mereka. Sedangkan ungkapan ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka’ merupakan ungkapan solidaritas dan empati Rasulullah SAW yang sama-sama terkena musibah seperti yang dialami sahabatnya perihal nasib orang tua keduanya. Ungkapan Rasulullah SAW ‘Ketika orang itu berpaling untuk pergi’ bermakna beranjak meninggalkan Rasulullah SAW.” (lihat Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, Dar Ihyait Turats Al-Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1392 H).

Sementara ulama lain menilai hadits ini telah dimansukh (direvisi) oleh riwayat Sayidatina Aisyah RA. Dengan demikian kedua orang tua Rasulullah SAW terbebas sebagai penghuni neraka seperti keterangan hadits yang telah dimansukh. Salah satu ulama yang mengambil posisi ini adalah Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya dan seterusnya. Menurut Imam An-Nawawi, ‘Hadits ini terdapat pada riwayat Abul Ala bin Mahan penduduk Maghrib, tetapi tidak terdapat pada riwayat orang-orang desa kami dari riwayat Abdul Ghafir Al-Farisi. Namun demikian hadits ini terdapat di kebanyakan ushul pada akhir Bab Jenazah dan disimpan. Tetapi terkadang ditulis di dalam catatan tambahan. Hadits ini diiwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.’ Hemat saya jelas, Ibnu Syahin menyebutkan di dalam kitab Nasikh dan Mansukh bahwa hadits ini dan hadits yang semakna dengannya telah dimansukh oleh hadits yang menerangkan bahwa Allah menghidupkan kembali ibu Rasulullah sehingga ia beriman kepada anaknya, lalu Allah mewafatkannya kembali. Ini terjadi pada Haji Wada’. Perihal masalah ini saya telah menulis tujuh kitab,” (Lihat Abdurrahman bin Abu Bakar, Abul Fadhl, Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj).

Kalangan ahli kalam juga membicarakan perihal ahli fatrah. Menurut kalangan Muktazilah dan sebagian ulama Maturidiyah, orang-orang ahli fatrah yang wafat dalam keadaan musyrik termasuk penghuni neraka. Karena bagi mereka, manusia tanpa diutus seorang rasul sekalipun semestinya memilih tauhid melalui daya akal yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Sementara kalangan Asy-ari menempatkan ahli fatrah sebagai kalangan yang terbebas dari tuntutan tauhid karena tidak ada rasul yang membimbing mereka. Berikut ini perbedaan pendapat yang bisa kami himpun.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Ulama berbeda pendapat perihal ahli fatrah. Apakah kehadiran rasul yang mana saja sekalipun Nabi Adam AS yang jauh sekali dianggap cukup bahwa dakwah telah sampai (bagi masyarakat musyrik Mekkah) atau mengharuskan rasul secara khusus yang berdakwah kepada kaum tertentu? Menurut kami, yang shahih adalah pendapat kedua. Atas dasar itu, ahli fatrah selamat dari siksa neraka meskipun mereka mengubah dan mengganti keyakinan mereka, lalu menyembah berhala. Kalau ahli fatrah itu terbebas dari siksa neraka, tentu kita yakin bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari neraka karena keduanya termasuk ahli fatrah. Bahkan keduanya termasuk pemeluk Islam berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah menghidupkan keduanya setelah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai rasul sehingga keduanya berkesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat. Riwayat hadits ini shahih menurut sebagian ahli hakikat. Syekh Jalaluddin As-Suyuthi menulis sejumlah kitab terkait keselamatan kedua orang tua Rasulullah SAW di akhirat. Semoga Allah membalas kebaikan Syekh Jalaluddin atas karyanya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Baijuri ala Matnis Sanusiyyah, Dar Ihya’il Kutub Al-Arabiyyah, Indonesia, Halaman 14).

Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam karyanya Nuruz Zhalam Syarah Aqidatil Awam menegaskan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Syekh Ibrahim Al-Baijuri mengatakan, ‘Yang benar adalah bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah SWT menghidupkan kembali kedua orang tua Rasulullah SAW sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. Sebuah riwayat hadits dari Urwah dari Sayidatina Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasululah SAW memohon kepada Allah SWT untuk menghidupkan kedua orang tuanya sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. As-Suhaili berkata bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, termasuk mengistimewakan karunia-Nya dan melimpahkan nikmat-Nya kepada kekasih-Nya Rasulullah SAW sesuai kehendak-Nya,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruzh Zhalam ala Aqidatil Awam, Karya Toha Putra, Semarang, Tanpa Tahun, Halaman 27).

Dari dua pandangan ulama di atas, Penulis lebih cenderung pada pendapat yang mengatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk kalangan muslim dan golongan orang-orang yang beriman. Karena sah menurut akal (ja’iz aqli) bahwa Allah SWT mengabulkan permintaan Rasulullah SAW memandang pangkat kekasih-Nya yang begitu agung dan mulia itu di sisi-Nya dan begitu luasnya kemurahan Allah itu sendiri. Wallahu a’lam bis shawab.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah ini menyebabkan kita saling menyalahkan satu sama lain atau bahkan meremehkan ulama besar yang berbeda pendapat dengan kita. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, Kyai Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pribumisasi Islam Ala Gus Dur

Oleh M. Husnaini*

Judul Buku: Islamku, Islam Anda dan Islam Kita

Agama Masyarakat Negara Demokrasi

Pribumisasi Islam Ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pribumisasi Islam Ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pribumisasi Islam Ala Gus Dur

Penulis: KH. Abdurrahman Wahid

Penerbit: The Wahid Institute

Tebal: xxxvi + 412 halaman

Cetakan: I, 2006


Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Persoalan yang paling rumit di dalam keberagamaan adalah masalah penafisiran. Kesalahan pada ranah ini akan berakibat fatal karena dapat mendestruksi keseluruhan nilai yang terkandung di dalam agama yang luhur ini. Terorisme dan bunuh diri di antaranya dilatari oleh kesalahan dalam menafsirkan agama tersebut, di samping sebab-sebab lain, seperti globalisasi, kepentingan politik dan ekonomi. Di sinilah, membedah pemikiran Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid ) menjadi sangat urgen untuk mengantarkan kita kepada pemahaman agama (baca: Islam) secara komprehensif.

“Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita” adalah sebuah potret pemikiran Gus Dur tentang Islam dalam kaitannya dengan isu-isu mutakhir, seperti nasionalisme, demokrasi pluralisme, Hak Asasi Manusia (HAM), kapitalisme, sosialisme dan globalisasi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebagai seorang cendekiawan, Gus Dur merupakan tokoh Muslim yang penuh talenta. Pembahasannya tentang Islam selalu mampu menerobos wilayah-wilayah yang sering tidak terpikirkan oleh para ulama pada umumnya. Dalam konteks ini, Gus Dur ternyata mampu menghadirkan Islam mulai dari masa awal kehadirannya hingga saat ini, dari nuansa tekstual hingga kontekstual, dari aspek struktural hingga kultural.

Seperti pernyataan Dr. M. Syafi’i Anwar, dalam kata pengantarnya, dalam buku ini, benang merah yang sangat penting dari pemikiran Gus Dur adalah penolakannya terhadap formalisasi, ideologisasi, dan syariatisasi Islam. Sebaliknya, Gus Dur melihat kejayaan Islam justru terletak pada kemampuannya untuk berkembang secara kultural. Oleh karena itu, Gus Dur lebih memberikan apresiasi kepada upaya kulturalisasi dibanding upaya ideologisasi. Pemahaman seperti inilah yang menggugah Gus Dur untuk melantangkan pentingnya pribumisasi Islam, terutama dalam konteks keindonesiaan.

Dalam upaya ini, menurut Gus Dur, penafsiran terhadap Islam tidak murni pemahaman atas teks-teks suci belaka, tetapi juga pemahaman terhadap konteks lokalitas keberagaman dan kekinian. Dalam aras ini, varian-varian kebudayaan harus didukung oleh pendekatan tekstual sebagaimana terdapat dalam dasar-dasar fikih dan kaidah-kaidah fikih. Dengan demikian, Islam harus ditafsir sebagai proses partisispatif dan dinamis.

Pendekatan tersebut merupakan salah satu karakter terpenting dari mayoritas Muslim, khususnya kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Dalam Muktamar NU tahun 1935, para ulama telah melahirkan sebuah pandangan keagamaan yang merupakan cikal bakal bagi keindonesiaan, yaitu wajib hukumnya mempertahankan Indonesia yang—pada saat itu—dipimpin oleh orang-orang non-Muslim (Hindia Belanda). Salah satu alasannya, agar ajaran Islam dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga negara secara bebas. Selain itu, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, terakhir di Surabaya, juga mengeluarkan maklumat bahwa Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bersifat final.

Dalam kaitan ini, Gus Dur sampai pada kesimpulan bahwa wacana negara Islam dan wacana politik Islam yang sejenis merupakan pemahaman yang kurang tepat (hal. 81-84), karena pada dasarnya, Islam hadir bukan untuk membentuk sebuah institusi negara, melainkan untuk mendorong terwujudnya nilai-nilai universal. Atas dasar itulah, NU memandang bahwa solidaritas kemanusiaan menempati urutan teratas baru disusul kemudian solidaritas kebangsaan dan ke-Islam-an.

Dalam buku ini, Gus Dur memberikan tiga kerangka keber-Islam-an yang patut kita apresiasi bersama secara serius dan mendalam, terutama dalam menciptakan Islam yang damai. Pertama, Islamku, yaitu keber-Islam-an yang berlandaskan pada pengalaman pribadi perseorangan. Sebagai sebuah pengalaman, pandangan ke-Islam-an seseorang tidak boleh dipaksakan (harus disamakan) kepada orang lain. Jika itu terjadi, maka akan mengakibatkan munculnya dislokasi pada orang lain yang pada akhirnya dapat “membunuh” keindahan dari pandangannya sendiri.

Kedua, Islam Anda, yaitu keber-Islam-an yang berlandaskan pada keyakinan. Dalam hal ini harus diakui bahwa setiap komunitas mempunyai keyakinan tersendiri terhadap beberapa hal tertentu. Pandangan kalangan NU bisa jadi berbeda dengan pandangan kalangan Muhammadiyah. Demikian pula sebaliknya. Namun perbedaan tersebut jangan sampai dijadikan alasan untuk saling menebar kekerasan di antara satu kelompok terhadap kelompok yang lain. Dengan kata lain, keyakinan kelompok tertentu harus dihormati dan dihargai dengan sepenuh hati.

Ketiga, Islam Kita, yaitu keber-Islam-an yang bercita-cita untuk mengusung kepentingan bersama kaum Muslimin. Dalam buku setebal 412 halaman ini, Gus Dur menekankan pentingnya menerjemahkan konsep kebajikan umum sebagai jembatan untuk mengatasi problem Islamku dan Islam Anda.

Pada umumnya, diskursus ke-Islam-an hanya terhenti pada kedua model tersebut. Oleh karena itu, Gus Dur menawarkan solusi akan pentingnya merajut antara keber-Islam-an yang berbasis pada pengalaman dan keyakinan untuk membangun pemahaman keagamaan yang berorientasi pada perdamaian dan keadilan sosial.

Nah, buku ini dapat mengantarkan kita kepada pemahaman Islam yang berbasis perdamaian, apalagi di tengah ketegangan yang terjadi antara dunia Barat dan dunia Islam saat ini. Konflik intra-agama dan antar-agama, serta konflik yang berbasis kepentingan politik. Karena itu, harapan untuk mengakhiri kekerasan harus senantiasa digaungkan setiap saat. Sebagaimana Gus Dur telah (selalu) “menyenandungkan” keberagamaan yang penuh kedamaian, bukan kekerasan.

*) Penulis adalah Peminat buku, Alumnus Pondok Pesantren Al-Ishlah, Sendangagung Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Kontributor Jaringan Islam Kultural.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sholawat, Daerah Pimpinan Pusat Muhammadiyah