Minggu, 04 Februari 2018

Ikutilah Kontes Blog Muslim PPM Aswaja

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk yang ketiga kalinya, Persaudaraan Profesional Muslim Ahlussunnah Waljamaah (PPM Aswaja) akan menyelenggarakan kontes menulis blog (Kontes Blog Muslim Ke-3).

Menurut Ketua PPM Aswaja Hari Usmayadi, seperti sebelumnya, kontes ketiga ini juga terbuka untuk umum. Hanya saja ada sedikit perubahan dimana tiap peserta atau calon peserta kontes diwajibkan mendaftarkan diri di blog httP;//www.kontesblogmuslim.com.

Ikutilah Kontes Blog Muslim PPM Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikutilah Kontes Blog Muslim PPM Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikutilah Kontes Blog Muslim PPM Aswaja

"Adapun tema kontes blog muslim ke-tiga kali ini adalah tentang "Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa"," katanya kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah Senin siang (3/11).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk syarat dan ketentuan serta peraturan lomba blog selengkapnya, pria yang akrab disapa Cak Usma ini meminta calon peserta untuk mengunjungi web http://www.kontesblogmuslim.com. (Mukhlisin/Abdullah Alawi)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jadwal Kajian, Olahraga, Humor Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Makam Aulia Raja Ilato Ramai Dikunjungi Peziarah

Gorontalo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam tata kehidupan masyarakat santri, para wali senantiasa menjadi salah satu rujukan spiritual. Meski para wali (aulia) ini telah wafar sejak beratus-ratus tahun lalu, namun mereka tetap senantiasa hidup dalam sanubari masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat santri tidak dapat menafikan faktor kewalian ini. salah satu bukti dari kenyataan ini adalah tradisi ziarah yang merupakan kebiasaan umat muslim di Gorontalo.

Makam Aulia Raja Ilato Ramai Dikunjungi Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Makam Aulia Raja Ilato Ramai Dikunjungi Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Makam Aulia Raja Ilato Ramai Dikunjungi Peziarah

Bukan hanya pada hari-hari tertentu, seperti jumat atau menjelang bulan suci Ramadhan, ada tradisi berziarah masyarakat Gorontalo yang cukup unik. Salah satu keunikan ziarah di gorontalo adalah tradisi menziarahkan jabang bayi. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tradisi ini berupa acara mengiring seorang bayi yang masih berusia di bawah umur 40 hari ke makam wali, salah satunya adalah ke Makam Aulia Raja Ilato Jupanggola di Kota Barat Gorontalo. Bayi yang diiring ini didoakan di makam wali, kemudian dang bayi diusap-usap dengan air yang telah diberi doa-doa.

Makam Ju Panggola atau Aulia Raja Ilato yang berlokasi di Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo paling banyak dikunjungi masyarakat. Di sekitar makamnya pula terdapat makam-makam warga yang berdomisili di sekitar makam Ju Panggola. Oleh sebab itu tak heran makam ini banyak dikunjungi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Imam Ali Abu Bakar, salah seorang imam, pemuka agama lokal menuturkan, tradisi ini memang bukan suatu keharusan, namun banyak masyarakat menganggap penting untuk menzirahkan bayinya kepada para Aulia.

"Tujuan dari menziarahkan bayi ini adalah untuk mengenalkan sang bayi kepada para aulia sejak sedini mungkin. Dengan meminta doa dari para pemuka agama di makam para wali, orang tua sang bayi berharap kelak anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang berbudi luhur dan selalu tertanam kecintaan kepada para ulama dan aulia," tutur Abu Bakar, Selasa (3/6).

Lebih lanjut Abu Bakar menjelaskan, masyarakat menganggap makam raja Ilato Ju Panggola keramat karena memiliki sejarah yang dramatis dan peninggalan yang dianggap istimewa. Di makam tersebut terdapat tanah putih yang berdasarkan keterangan warga hanya ada di lokasi makam Ju Panggola. Sehingga masyarakat menganggapnya keramat.

"Biasanya tanah putih di makamnya Ju Panggola diambil untuk ditabur disumur yang airnya bau, hasilnya pun jadi tidak bau lagi dan itu berdasarkan keterangan peziarah. Saya sendiri juga sebenarnya takut syirik tapi hal-hal seperti itu adalah bukti kekuasaan Allah," terangnya.

Konon, hanya tanah, di sekitar makam ju panggola pada hari-hari tertentu mengeluarkan percikan air dengan aroma wewangian. 

Berdasarkan cerita sejarah konon ketika masa pemerintahan Ju Panggola, Ia menghilang dan tak tahu di mana rimbanya. Secara tiba-tiba sebuah batu nisan muncul dan telah menancap ditanah putih yang terletak di atas bukit yang merupakan wilayah kekuasaannya yang kini berseberangan dengan Danau Limboto.

Di sekitar batu nisan ada sebuah peninggalan dalam bentuk prasasti yang bertuliskan 1673 M bertepatan 1084 H. Di prasasti tersebut bertuliskan Taaloobayalipu yang hingga kini sebagian besar masyarakat Gorontalo tidak mengetahui artinya. Tahun tersebut diyakini warga sebagai tahun wafatnya pemilik makam yang diyakini Ju Panggola. Tapi kini prasasti tersebut telah dibongkar dan rencananya akan dibangun lagi dengan tulisan yang sama.

Sebagai seorang raja yang baik, bijak, dan sosial Ju Panggola pun di anggap memiliki keutamaan sebagaimana para Walisongo. Makamnya pun dianggap keramat sehingga banyak dikunjungi masyarakat.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Halaqoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sekitar 30 peserta dari Jakarta dan sekitarnya mengikuti pembukaan Pelatihan Hisab dan Rukyat yang diselenggarakan oleh Lajnah Falakiyah PBNU di masjid An-Nahdliyah lantai dasar kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Rabu (3/4) malam.

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Hisab-Rukyat Lajnah Falakiyah

Pembukaan dan materi pertama disampaikan langsung oleh KH Ahmad Izzuddin, Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI yang juga pengurus Lajnah Falakiyah PBNU, bersama Ismail Fahmi dari Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat, dan staf Lajnah Falakiyah PBNU, Maftuhin.

“Saya merasa senang. Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, masih ada yang mau belajar ilmu falak. Ini merupakan ilmu yang langka, makanya saya ini juga disebut mahluk langka,” katanya bergurau.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain memberikan pengantar, Izzuddin memberikan semangat kepada para peserta untuk rutin mengikuti pelatihan yang bertajuk “Pelatihan Hisab Rukyat Al-Khawarizmi Lajnah Falakiyah PBNU”.

Katanya, materi hisab-rukyat yang akan disampaikan hingga setahun ke depan sudah dalam bentuk yang praktis dan mudah sehingga dijamin para peserta akan bisa mengikuti setiap sesi materi dan praktik dengan baik.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rencananya pelatihan akan digelar satu bulan sekali di tempat yang sama. Namun tidak menutup kemungkinan Lajnah Falakiyah juga akan menyelenggarakan pelatihan dalam bentuk paket di luar Jakarta.

Busyairi, peserta dari Banten dalam sesi dialog meminta tim pelatih Lajnah Falakiyah PBNU untuk bisa memberikan pelatihan hisab-rukyat di Banten.

Pelatihan perdana ini berlangsung akrab. Izzuddin sendiri juga menyelingi materi dengan canda tawa. Seorang peserta juga sempat menanyakan kaitan antara ilmu falak dengan astrologi atau ramalan dan dijawab dengan sangat meyakinkan.

Pelatihan dilanjutkan dengan petunjuk teknis seperti cara penggunaan kalkulator saintifik dengan beberapa tipe yang akan digunakan selama pelatihan. Tim pelatih juga dalam kesempatan itu menyiapkan beberapa alat pendukung dari yang klasik hingga modern.

Penulis: Mahbib Khoiron

?

Foto: peserta antusias memperagakan Mizwala Qiblat Finder, perangkat untuk menentukan arah kiblat



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaSantri, Pondok Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah"

Pringsewu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebentar lagi musim ibadah haji datang. Para jamaah yang tahun ini berangkat menunaikan rukun Islam kelima itu sudah mempersiapkan diri, baik secara mental maupun fisik. Tidak terkecuali calon jamaah haji Kabupaten Pringsewu, Lampung, yang mendapat kesempatan berangkat tahun 2015 ini.

Beberapa dari mereka tampak sudah mulai mempersiapkan diri dan mengundang sanak saudara serta masyarakat sekitar untuk hadir mendoakan keberangkatan mereka pada acara walimatus safar lil hajj (syukuran jelang pemberangkatan haji).

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah (Sumber Gambar : Nu Online)
“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah (Sumber Gambar : Nu Online)

“Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah"

Menurut informasi dari Bagian Kesmasag Pemda Kabupaten Pringsewu, calon jamaah haji Kabupaten Pringsewu akan dilepas secara resmi oleh Bupati Pringsewu, Sabtu (5/9) di gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Semakin dekatnya musim haji dan pernak-pernik rukun Islam yang kelima ini diangkat oleh KH. Hambali menjadi materi utama pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang dilaksanakan rutin di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (23/8).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut KH Hambali yang juga Ketua MUI Kabupaten Pringsewu, tidak semua orang dapat melaksanakan Ibadah haji ke Baitullah. Ibadah haji merupakan ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mampu.

"Mampu di sini artinya adalah mampu dalam banyak hal seperti mampu materi, fisik serta mampu dalam hal keilmuan di bidang haji," katanya seraya mengutip ayat al-Quran surat Ali Imran ayat 97 yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Menurut KH Hambali, mereka yang dapat berangkat haji ke Tanah Suci adalah mereka yang telah menerima anugerah dari Allah SWT. Oleh karena itu ia menyarankan kepada jamaah haji khususnya yang berangkat pada tahun ini untuk dapat memanfaatkan anugerah Allah ini dengan sebaik baiknya.

"Pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk berbagai macam ibadah seperti umrah, shalat arbain, membaca Quran dan Ibadah-Ibadah lain yang disunahkan," terangnya.

Namun KH Hambali juga mengingatkan kepada para Jamaah untuk tetap menjaga kondisi kesehatan fisik dan mental selama pelaksanaan ibadah haji agar syarat, rukun dan wajib haji dapat dilaksanakan dengan sempurna juga.

Tampak hadir pada kesempatan kegiatan Jihad ini beberapa pengurus NU yang juga akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ini, seperti Adi Ben Slamet (Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu), Muhammad Faozan (Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu) dan Ustadz Sodiqin (Ketua MWCNU Kecamatan Pringsewu). (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Bahtsul Masail, RMI NU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

Tidak dinyana sebelumnya, kesadaran kaum salafi terutama di Indonesia untuk menggunakan ruang publik sebagai spatial medium bagi dakwah mereka begitu menakjubkan. Kelompok ini sangat cepat belajar menatap kebutuhan masa depan mereka. Setelah era majalah cetak di kalangan mereka habis, ditandai dengan kejatuhan majalah cetak Sabili, Hidayatullah, dan beberapa jenis yang lainnya, kaum salafi begitu cepat melakukan proses adaptasi ke online media.

Sebagaimana yang saya sebutkan di tulisan sebelumnya –lihat dua post terakhir saya—, gejala seperti ini, selain dilatarbelakangi oleh “kewarasan” mengenai perlunya terus eksis di ruang publik, gejala ini juga menunjukkan adanya penerimaan yang rendah atas kelompok ini di ruang konkrit kalangan Muslim Indonesia. Karenanya, bagi mereka, hijrah untuk menggunakan ruang online media atau internet merupakan ruang baru yang menjanjikan. Sebuah medan baru untuk melaksanakan jihad baru juga. Jihad lama dengan senjata tidak dihapus, namun jihad baru melalui pena dan tulisan perlu digalakkan.?

Tulisan ini tidak ingin mencari bagaimana masalah penggunaan teknologi internet atau online untuk keperluan dakwah di kalangan salafi, namun lebih ingin melihat antusiasme mereka dalam mengelola, menyajikan dan mengkampanyekan opini, diskursus, berita yang bernuansa salafi melalui surat kabar atau majalah, webpage, facebook, dan sarana-sarana online mereka lainnya. Basis analisis yang akan saya pakai di sini adalah teori-teori mengenai “ruang” (space) terutama abstract space. Yang saya maksud dengan abstract space di sini adalah ruang yang tidak tidak tersentuh oleh dunia nyata atau biasa disebut dengan istilah virtual. Selain itu, dalam menulis artikel ringan ini, saya terilhami oleh metode riset kualitatif yang biasa disebut dengan netnografi (netnography). Netnografi adalah etnografi di internet. Artinya, metode ini menggunakan teknik-teknik riset etnografis untuk mengkaji kebudayaan dan masyarakat yang muncul melalui komunikasi berbasis internet. Metode riset kualitatif ini pada mulanya digunakan untuk meriset konsumen di online misalnya forum-forum di internet untuk menjajagi apa yang diminati dan dikehendaki oleh konsumen. Metode ini sangatlah berguna untuk melihat kehadiran kaum salafi di ruang online –ruang-ruang forum–dan bagaimana mereka mempersuasi audien.

?

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Salafi Indonesia dan Ruang Maya Bag-1

Makna Ruang Maya Bagi Salafi

Sebagaimana kita tahu tahu bahwa kaum mainstream Indonesian yang berhaluan Sunni masih belum bisa menerima sepenuh hati kehadiran kalangan salafi. Meskipun istilah salafi atau salafiyyah sendiri sudah lama dipakai I Indonesia misalnya oleh kalangan NU untuk menamai pesantren mereka, namun salafi yang saya maksudkan di sini, masih dianggap oleh mainstream Islam di Indonesia sebagai Wahhabi. Dalam kajian Islam, Wahhabi sebenarnya masih dalam kategori Sunni, namun masyarakat Sunni Islam di Indonesia—merupakan Sunni terbesar di seluruh dunia—belum bisa memasukki Wahhabi ke dalam kelompok mereka. Dalam diskursus publik, mayoritas ulama di Indonesia keberatan dengan Wahhabi. Fenomena lain yang sering dijumpai adalah meskipun mereka secata teologis berafilalsi dengan Wahhabi namun kebanyakan juga tidak berterus terang atau enggan disebut sebagai kaum Wahhabi. Hal ini semua karena stigmatisasi Wahhabi di Indonesia sebagai kelompok sesat dalam Islam sudah sekalian lama terjadi. Sudah barang tentu bagi mereka yang belajar di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah NU, Perti, al-Wasiliyah organisasi-organisasi lainnya, pernah disodori pelajaran Ahlusunnah Waljamaah dengan menggunakan buku pegangan yang dikarang oleh KH. Siradjuddin Abbas. Jelas dalam buku beliau, I’tiqad Ahlussunnah Waljamaah, Wahhabi dikeluarkan dari firqah najiyah (kelompok yang selamat). Tidaknya hanya Wahhabi, seluruh mereka yang menolak Imam AshʿārÄ« dan MāturidÄ« sebagai pedoman i’tiqad mereka bukan menjadi bagian dari mereka.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Namun yang lebih mendasar lagi, penolakan atas Wahhabi oleh kalangan Islam mainstream juga disebabkan oleh kekhuwatiran mereka akan ajaran Wahhabi yang mengancam pada tradisi keagamaan kaum mainstream. Di sini kaum mainstream bisa dikatakan sebagai kaum ortodoks dimana mereka menggunakan alasan-alasan kesucian doktrin agama untuk melarang ajaran lain yang dipandangnya keluar dari ortodoksi. Talal Asad menyatakan ortodoksi adalah pengaturan kembali pengetahuan yang bertujuan membangun sebuah relasi penguasaan wacana dalam hal pengaturan mana bentuk-bentuk praktis Islam yang benar. (210-11, Genealogy of Religion).

Meskipun di Saudi Arabia, salafi-Wahhabi bisa dikatakan sebagai pemegang ortodoksi, tapi di Indonesia mereka tidak demikian adanya. Dari perspektif kaum mainstream Islam Indonesia, salafi-Wahhabi adalah kaum heterodok karena pemegang kebenaran ajaran Islam di Indonesia adalah kelompok mainstream Islam yang memiliki perbedaan cara pandang keagamaan dengan kaum salafi-Wahhabi. Karenanya, pada titik ini, keberadaan kaum Wahhabi sebenarnya hampir mirip dengan nasib-nasib kelompok sempalan lainnya, katakanlah kelompok Syiah atau Ahmadiyah. MUI sendiri misalnya secara implisit menolak salafi melalui fatwa-fatwa mereka yang menolak jihad ekstrim kaum salafi-Wahhabi sebagaimana juga menolak kaum Syiah. ? Nahdlatul Ulama secara keras menolak model pemikiran dan praktik keagamaan kaum Wahhabi.? Kembali kepada pandangan Talal Asad? bahwa kaum Muslim yang memiliki kuasa untuk mengatur, mempertahankan, mempersyaratkan, merendahkan atau mengganti hal-hal yang tidak benar adalah kaum ortodok.

Sebagai kelompok heterodok, kaum salafi-Wahhabi di Indonesia memerlukan ruang untuk mengekspresikan dan mempertahankan doktrin mereka yang dianggap “menyimpang” dari mainstream Islam di Indonesia dan “internet space” adalah pilihan yang tepat. Ketika mereka tidak bisa atau terancam oleh ketatnya ortodoksi dalam “concrete space,” maka ruang internet menyediakan mereka kebebasan untuk berdakwah karena di dalam ruang ini mereka adalah atau kita adalah pemegang kendali diskursus yang kita kehendaki. Berbeda dengan model interaksi “dari muka ke muka,” interaksi di ruang internet bisa dilakukan secara arbitrer, doktriner dan sekaligus otoriter. Dalam konteks Indonesia, Salafi-Wahhabi memerlukan ruang yang demikian ini untuk bergerak? karena pada dasarnya mereka adalah “kaum ortodoksi” juga di negara asalnya, namun karena ortodoksi mereka tidak mendapatkan legitimasi maka mereka menjadi heterodok. Di ruang maya ada proses dialog dan interaksi, tapi pemegang domain secara unilateral bisa menghentikan atau mentiadakan proses dialog atau forum. Ruang maya juga merupakan hal yang paling strategis untuk berkampanye pada audien yang tidak memerlukan penelahaan panjang (tidak kritik). Namun patut diakui bahwa daya juang kaum salafi-Wahhabi di ruang maya luar sangat efektif. Saya tidak menjumpau kelompok-kelompok heterodok lain yang seperti salafi-Wahhabi ini yang sedemikian efektif dan strategis dalam menggunakan “internet space.” Katakanlah kelompok Ahmadiyah dan Syiah Indonesia, mereka tidak punya “cyberspace fighters” sebagaimana yang dipunyai oleh kaum salafi-Wahhabi. Internet space sekarang menjadi semacam masjid virtual pusat pembelajaran alternatif.

Dalam kondisi yang terdesak di ruang konkrit, web-space menyediakan sifat immediacy, kecepatan untuk memanfaatkan media online ini dalam merespon peristiwa, kejadian, atau hal-hal genting lainnya, dalam waktu yang hampir bersamaan. Surat kabar, hasil riset, majalah dan sumber-sumber informasi offline lainnya tidak memiliki ini. Kita teringat ketika kaum salafi-Wahhabi mendapatkan tuduhan sebagai pelaku pengeboman beberapa tempat penting di Eropa, dengan cyberspace mereka bisa bereaksi secara cepat baik reaksi dan meluas itu untuk melakukan pembenaran maupun pengingkaran akan keterlibatan dirinya. Meskipun para ahli cyberspace crime bisa menemukan “concrete space” yang dijadikan sebagai tempat dimana mereka mengeluarkan pernyataan tersebut, tetapi hal ini memerlukan waktu yang lumayan agak panjang dan cara yang agak rumit.?

Dalam satu dekade terakhir, setelah beberapa peristiwa pengeboman di beberapa tempat penting di Indonesia dimana kaum salafi-Wahhabi adalah pihak yang banyak dituduh, dicurigai dan ada juga yang sudah terbutki secara hukum, mereka menyadari akan marginalisasi kelompok mereka di ruang konkrit. Tidak hanya menyadari hal ini, namun mereka berusaha untuk mencari ruang baru (alternative site). Ruang baru ini tidak hanya menyediakan kenyamanan bagi mereka, namun juga mempermudah transnasionalisasi ide dan gagasan mengingat frontier di dalam virtual space sangat cair dan bahkan bisa dikatakan borderless (tanpa batas). Di dunia nyata, transnasionalisasi membutuhkan ongkos yang tidak murah. Memindahkan dan mengirimkan orang, buku, dan juga hal-hal sarana lainnya dari satu negara ke negara lain tidak bisa dilakukan tanpa dukungan uang yang banyak. Lihat berapa uang yang dihabiskan oleh pemerintah Saudi dalam menyebarkan Islam-versi mereka ke negara-negara lain dalam kurun 30 tahun terakhir ini. Namun dalam dunia maya, mobilitas dan migrasi ide dan gagasan tidak memerlukan kehadiran seseorang, rujukan yang tersentuh, dan lain sebagainya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lalu bagaimana dengan otoritas agama? Dunia maya tidak kurang canggih dalam mengakomodasi dan mempertahankan otoritas agama. Apabila di dunia offline, otoritas agama bisa runtuh gara-gara penampilan seorang pemegang otoritas yang kacau, di dunia maya, otoritas agama tidak hanya disediakan ruang untuk menyampaikan, tapi juga ruang untuk memperindah dan bila perlu memanipulasi kekurangan-kekurangan yang terjadi di ruang offline. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh ruang maya dan salafi Wahhabi Indonesia membaca ini sebagai hal yang berguna bagi perjuangan mereka.

*) Penulis adalah Rais Syuriah PCI-NU Jerman, saat ini menetap di Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Meme Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah

PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom

Sukoharjo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukoharjo,, Jawa Tengah, melantik pengurus inti lembaga, lajnah dan badan otonom di Lingkungan NU Sukoharjo. Acara digelar sekaligus untuk dengaan harlah NU ke-85 dan haul KH. Abdurrahman wahid, di gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Sukoharjo, akhir pekan lalu.

Ketua PC NU Sukoharjo, H. Muhammad Nagib Sutarno dalam sambutannya menjelaskan, amanat konfrensi cabang (Konfercab) dan  Musyawarah Kerja (Musker) PC NU Sukoharjo tahun 2010, seluruh lembaga, lajnah dan banom di lingkungan NU Sukoharjo segera melakukan reorganisasi.

PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom

”Pengurus inti lembaga, lajnah dan Banom nantinya segera melakukan musyawarah dan koordinasi, untuk melengkapi kepengurusan dan menyusun program kerja. Keberhasilan PCNU ada juga di pundak lembaga dan banomnya. Maka kita harus aktif bekerja. Komunikasinya diperbaikin, jaringanya diperluas,” ujar Sutarno.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lembaga, Lajnah dan Banom yang dilantik itu antara lain LDNU, Maarif NU, RMI, LPNU, LPPNU, LKKNU, Lakpesdam, LPBHNU, Lesbumi, LWNU, LAZIZNU, LTMI, LPKNU, LFNU, PERGUNU, dan Jamiatul Qurro wal Hufadz.

Sementara itu, Bupati Sukoharjo  H. Wardoyo Widjaya mendrong agar NU menguatkan nilai-nilai kemoderatatan sampai warga.  Dalam kesempatan itu, dia menyatakan siap bantu NU Sukoharjo, baik secara materi maupun moral.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kelompok musik hadrah dari MWC NU Kartasura, ikut memeriahkan acara ini. Selain tampil dipanggung, mereka juga mengiringi kehadiran penceramah KH Mahyan dari Purwodadi, Jawa Tengah. Ribuan warga Nahdliyin Sukoharjo tumplek blek mendengarkan siraman rohani dari Kiyai nyentrik itu. Sekitar puluk 23.30, acara baru selesai. (ccp)Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, Santri, RMI NU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

LPBI NU: Bojonegoro Perlu Siapkan Desa Tangguh

Bojonegoro, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) mengadakan Focus Grup Discussion (FGD) di aula kantor PCNU Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (13/10). Lembaga PCNU yang konsen menangnani bidang kebencanaan itu, menginginkan Bojonegoro perlu menyiapkan program Desa Tangguh.

Hal ini menggingat di Kota Ledre sering terjadi bencana musiman, misalnya banjir bandang, luapan Bengawan Solo, longsor, dan lainnya ketika musim penghujan tiba. Sementara di musim kemarau juga terjadi kebakaran, angin ribut, dan bencana lain. "Kekuatan utama adalah komunitas untuk menciptakan desa tangguh supaya dapat menangulangi bencana," kata Ketua PC LPBI NU Bojonegoro Rohmad Maulana.

LPBI NU: Bojonegoro Perlu Siapkan Desa Tangguh (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU: Bojonegoro Perlu Siapkan Desa Tangguh (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU: Bojonegoro Perlu Siapkan Desa Tangguh

Sebab, katanya, Desa Tangguh memiliki komunitas yang konsen terhadap bencana, baik pemerintah desa, masyarakat dan juga melibatkan stekholder. "Desa tangguh setidaknya ada 6 aspek dan 60 indikator, paling tidak desa sudah menerapkan beberapa indikator desa tangguh," sambungnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ditambahkan, LPBI NU sebagai lembaga NU berupaya bagaimana menjawab dan memberi bantuan kemanusiaan, terutama di bidang kebencanaan. "LPBI membutuhkan masukan dari MWC (Majelis Wakil Cabang NU) yang terdampak bencana, baik kekeringan, kebakaran, banjir maupun yang lainnya," imbuhnya.

Sementara itu, pengurus PCNU Bojonegoro, Zainuddin Asyhari mengapresiasi kegiatan LPBI NU Bojonegoro. Meskipun bencana tidak dapat diprediksi, namun upaya mitigasi juga sangat perlu dilakukan bagi masyarakat, sehingga desa tangguh perlu dilakukan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Bencana itu ada tiga, adzab, ujian ataukah sunnatullah," ungkap mantan ketua PC IPNU Bojonegoro itu dalam membuka FGD yang dihadiri relawan dan pengurus LPBI NU. Serta narasumber, Kasi Kesiapasiagaan BPBD Bojonegoro, Sukirno.

Sebagai warga Nahdiyin, perlu mukhasabah atau intropeksi. Kepedulian LPBI dalam kebencanaan tetap eksis awal sampai akhir, termasuk saat bencana gunung kelud dan yang lainnya, PC LPBI NU Bojonegoro ikut memberikan bantuan.

"Sebagai warga negara Indonesia, LPBI perlu melakukan pencerahan-pencegahan dimasyarakat juga. Terkait masukan dari MWC NU juga bisa ditindak lanjuti," jelasnya.

Sementara itu, Kasi Kesiapsiagaan BPBD Bojonegoro, Sukirno menjelaskan tentang peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB) Nomor 1 tahun 2012, tentang pedoman umu desa/kelurahan tangguh bencana.

Di Bojonegoro, Desa Tangguh sudah dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) melalui Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat). "Rencananya BPBD di tahun 2016 akan membuat percontohan desa tangguh," jelasnya.

Dua desa yang akan menerapkan program tersebut di desa yang terdampak banjir bengawan dan banjir bandang. Desa belum ditentukan, tetapi kemungkinan ada 6 kecamatan yang menjadi pilihan diantaranya Kecamatan Temayang, Gondang, Malo dan yang lainnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah