Jumat, 02 Juli 2004

Seperti Apa Cara Menghafal Al-Quran di Maroko?

Membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara berulang-ulang atau mengartikan arti kata demi kata ? terlebih dahulu dengan didampingi seorang hafidz, ini adalah metode ? menghafal al-Quran yang berlaku di Indonesia. Bagaimana dengan Maroko?

Ada sebuah film yang berdurasi kurang lebih 30 menit yang berkisah tentang cara menghafal Al-Quran di Maroko, yakni metode menghafal dengan cara menulis.

Seperti Apa Cara Menghafal Al-Quran di Maroko? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Apa Cara Menghafal Al-Quran di Maroko? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Apa Cara Menghafal Al-Quran di Maroko?

Metode ini menggunakan alat yang disebut lauh atau dalam bahasa Indonesianya papan ? dengan ukuran yang tidak terlalu besar berkisar 50 cm berbentuk persegi panjang dengan dihiasi garis-garis yang dibuat secara permanen, untuk memudahkan dalam menulis ayat-ayat Al-Quran.

Santri-santri hufadz atau santri penghafal Al-Quran yang mayoritas merupakan penduduk ? sekitar masjid setiap harinya harus menulis semua ? ayat Al-Quran yang akan dihafalnya. Penulisan ini dilakukan di atas papan yang telah disiapkan dengan menggunakan pensil yang terbuat dari bambu atau sejenisnya yang didesain dengan tinta khusus.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari sekian banyak santri, ada yang menulisnya hingga 5 ayat bahkan sampai 50 ayat, tergantung kadar kemampuannya. Setelah papan telah penuh dengan ayat Al-Quran yang akan dihafal, maka selanjutnya ketelitian sang guru dalam membetulkan tulisan santri inilah yang akan menentukan kebenaran hafalan santri.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah semua tulisan diperiksa, sang santri pun mulai membaca berulang-ulang dengan badan yang dihadapkan ke papan.

Keisitimewaan menghafal dengan cara menulis di atas papan santri akan lebih teliti ketika diminta menuliskan ayat-ayat Al-Quran yang telah dihafalnya karena telah terbiasa menyalin dari mushaf ke papan.?

Menurut Ust Ali, salah seorang staf pengajar di Darul Quran Kenitra, salah satu keistimewaan yang lain adalah konsentrasi seorang santri akan tertuju hanya pada satu papan yang ada di depanya, lain halnya ketika dengan menggunakan mushaf, konsentrasi itu akan terbagi dengan halaman lain yang dilihatnya.

Kelebihan lain adalah kesabaran yang terus dilatih pada diri santri ketika menuliskan ayat demi ayat dari Al-Quran, yang sejatinya mereka mampu untuk menghafal secara langsung tanpa menulis terlebih dahulu.

Apakah metode seperti ini perlu diterapkan di pesantren tahfidz yang ada di Indonesia? Silakan dicoba lebih dulu!

Nizar Presto

Mahasiswa STAINU Jakarta, sedang mengikuti program kelas internasional di universsitas Ibn. Thofail, Kenitra, Maroko.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai, Khutbah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 19 November 2003

Hadapi Radikalisme Agama dengan Pendekatan Dialogis

Kudus,Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menghadapi kelompok radikalisme agama tidak harus dengan cara kekerasan, melainkan? pendekatan dialogis. Dengan demikian, mereka tidak lari menjauh dari jalan yang benar.

“Jangan dijauhi atau dijustifikasi sehingga mereka tidak semakin menjauh. Kita harus mendekati dan selalu mengajak diskusi tentang ajaran-ajaran yang benar.”

Hadapi Radikalisme Agama dengan Pendekatan Dialogis (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Radikalisme Agama dengan Pendekatan Dialogis (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Radikalisme Agama dengan Pendekatan Dialogis

Hal itu dikemukakan Lukman Hakim pada seminar bertema Penguatan Islam Toleran, Menepis Radikalisme. Kegiatan tersebut diselenggarakan Lembaga Pusat Kajian Multikultural (PUSAKA) di Aula Balai Desa Rendeng Kudus, Jawa Tengah, pada Sabtu (28/12).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lukman menyatakan ideologi radikalisme telah menjadi bahaya laten yang mengancam bangsa Indonesia. Oleh karenanya semua komponen bangsa harus bersinergi melakukan upaya deradikalisasi secara menyeluruh bukan? hanya terhadap penganutnya semata.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Deradikalisasi harus terus digiatkan, tidak hanya disuarakan. Tetapi harus melalui pendekatan bil hikmah wal mauidhotil hasanah wajadilhum billati hiya ahsan,” ujar Lukman yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Tani Nusantara (Astanu).

Idoologi radikalisme agama, papar Lukman, akan lebih mudah merasuki jiwa masyarakat labil. Hal ini menunjukkan adanya kondisi sosial yang bermasalah dalam masyarakat yang disebabkan oleh kesenjangan sosial, ketidakadilan, kemiskinan maupun frustasi sosial yang komplek.

“Pelumpuhan ideologi ini harus dilakukan dimulai dari lingkup keluarga, lembaga pemerintaah, ormas agama dan lembaga pendidikan harus bersatu padu,” tegasnya lagi.

Peran pemerintah, kata dia, mempunyai tanggung jawab membasmi tindakan radikalisme dengan cara menegakkan kepastian hukum. Diantaranya menghukum siapa saja yang bertendak kekerasan dan perusakan. “Negara mempunyai tugas melindungi segenap warga negara Indonesia tidak memandang mayoritas maupun minoritas,” tandas Lukman.

Disamping itu, tokoh agama harus berperan aktif dalam memberikan penafsiran ajaran agama yang baik. Sebab, radikalisme yang berkembang akhir-akhir ini ditengarai juga adanya salah penafsiran terhadap ajaran agama tertentu.

“Tokoh agama harus bisa mengajarkan agama dengan baik seperti menumbuhkan semangat perdamaian, budaya saling menghormati adanya perbedaan agama dan cinta tanah air,” ajaknya. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Santri Pimpinan Pusat Muhammadiyah