Selasa, 24 Januari 2012

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Magelang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, tindak pidana korupsi makin merajalela sedangkan pihak berwenang yang melakukan pemberantasan korupsi juga tidak bersih.

"Tambah tinggi tambah merajalela," katanya saat memberikan tausyiah Harlah Bersama Badan-Badan Otonomi Nahdlatul Ulama Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah di Lapangan "drh Soepardi" Kota Mungkid, di Magelang, Kamis (19/4) yang dihadiri ribuan warga nahdliyin setempat.

Ia mengatakan, seharusnya semakin banyak korupsi maka semakin mudah melakukan pemberantasannya. Korupsi, katanya, terjadi dari sekadar orang mengambil sandal di masjid hingga korupsi di Jakarta.

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemberantas Korupsi Tak Bersih, Korupsi Merajalela

Ia menyebut mereka yang tertangkap aparat karena melakukan korupsi sebagai sedang sial. "Saking banyaknya korupsi sebenarnya asal ambil (tangkap pelakunya,red) pasti kena," katanya.

Ia mengaku mendapat keluhan dari seseorang yang disangka korupsi Rp65 juta tetapi dirinya harus mengeluarkan uang hingga Rp400 juta untuk mengurusnya. "Lalu siapa sebenarnya yang korupsi. Siapa yang ketangkap itu yang sedang apes, yang nangkap kelakuannya sama tetapi tidak terjamah," katanya.

Pada kesempatan itu Hasyim juga mencontohkan perilaku buruk oknum aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya. "Seorang kehilangan kambing, lapor kepada petugas harus membayar senilai harga sapi, jadi orang itu kehilangan kambing dan sapi," katanya. (ant/kut)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai, Warta, Aswaja Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 17 Januari 2012

Keberadaan Pengadilan Tipikor Perlu Diperkuat

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Keberadaan pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) sebagai upaya luar biasa untuk menangani persoalan luar biasa, yaitu korupsi, yang telah menghancurkan bangsa Indonesia, perlu diperkuat.



Keberadaan Pengadilan Tipikor Perlu Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Keberadaan Pengadilan Tipikor Perlu Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Keberadaan Pengadilan Tipikor Perlu Diperkuat

Demikian dikatakan oleh Firmansyah Arifin, ketua Komisi Reformasi Hukum Nasional dalam dialog publik yang diselenggarakan “Menjaga Ritme Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH NU) di Jakarta, Kamis.

Melalui pengujian Mahkamah Konstitusi (MK), keberadaan pengadilan harus dilakukan rekonseptualisasi karena telah menyebabkan terjadinya dualisme dalam sistem peradilan tindak pidana korupsi yang bisa berakibat terjadinya diskriminasi dan ketidakpastian hukum. Akhirnya, pemerintah membuat Rancangan Undang-Undang Tipikor dan diberi waktu sampai 19 Desember 2009.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Firmansyah yang juga pengurus LPBH NU bidang pengkaderan ini menjelaskan keberadaan pengadilan ini perlu diperkuat mengingat korupsi yang sudah semakin merajalela dan menyentuh seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam institusi pengadilan.

“Maraknya praktek mafia pengadilan, rendahnya integritas dan kredibilitas hakim telah menunjukkan lembaga ini tidak immune dari praktek korupsi sehingga kepercayaan masyarakat terhadap peradilan umum rendah,” katanya.,

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia juga menunjukkan beban kerja yang tidak sebanding dengan jumlah hakim, terutama di tingkat pertama dan Mahkamah Agung MA), menjadi penyebab penanganan yang tidak jelas dan transparan.?

Dalam laporan tahunan 2006, MA menunjukkan untuk peradilan tingkat pertama, setiap hakim rata-rata memiliki beban perkara 946, tingkat banding, 24 dan tingkat kasasi 540 perkara.

“Kondisi ini tentunya dulit diharapkan produktifitas hakim dalam penanganan perkara serta keputusannya kurang berkualitas dan berkeadilan,” terangnya.

Keberadaan pengadilan Tipikor? dengan komposisi hakim ad hoc dan hakim karir,? diharapkan mampu memulihkan kepercayaan terhadap institusi pengadilan, menjamin proses yang lebih independent, professional, fair dan adil.

Ia menunjukkan dukungan masyarakat terhadap keberadaan pengadiilan Tipikor ini bisa dilihat dari jajak pendapat yang dilakukan oleh harian Kompas di 10 kota besar di Indonesia yang rata-rata diatas 50 persen.

Meskipun keberadaan pengadilan ini ideal, sejumlah tantangan masih menghadang. Proses pembahasan dan pengesahan RUU Pengadilan Tipikor dikhawatirkan mengalami hambatan karena resistensi yang muncul dari kalangan DPR karena ada yang tidak suka dan “mengganjal” keberadaanya. Pemilu tahun 2009 juga menjadi hambatan bagi penyelesaian RUU ini.

Pembentukan Pengadilan Tipikor di daerah untuk mengatasi korupsi yang sudah menyebar juga akan mengalami hambatan terkait sumber daya manusia (hakim ad hoc), anggaran dan pengawasannya sehingga bisa memperlambat atau tidak membentuk sama sekali pengadilan Tipikor. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU, Halaqoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 14 Januari 2012

Tata Kelola Migas Mesti Mengacu Letak Pesantren

Solo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pemerintah harus mengubah strategi tata kelola migas nasional dari kecenderungan capaian produksi minyak siap jual menuju kelola komprehensif dengan peningkatan cadangan. Strategi ini terkait erat dengan letak pesantren.

“Pasalnya, pesantren memiliki lahan besar. Ini merupakan sebuah kesempatan untuk membuat sumber energi baru,” terang Ketua Ikata Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Bidang Energi Darmawan Prasodjo dalam seminar yang diadakan PW RMI NU Jawa Tengah, di Hotel The Sunan Solo, Ahad (23/2).

Tata Kelola Migas Mesti Mengacu Letak Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Tata Kelola Migas Mesti Mengacu Letak Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Tata Kelola Migas Mesti Mengacu Letak Pesantren

Di hadapan ratusan peserta Darmawan yang juga pengurus RMI Jateng menunjuk contoh Brasil sebagai produsen etanol, “Di Brasil, Etanol dikelola oleh rakyat dan disubsidi negara. Kekuatan kapitalis migas bisa dikalahkan oleh kekuatan rakyat dalam hal ini pesantren,” tukasnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lebih lanjut ia mengatakan, pesantren sebagai salah satu stakeholder yang besar semestinya dilibatkan dalam kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak ini.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain Darmawan, dalam seminar yang bertajuk “Dialog Ulama dan Umara, Mencari Paradigama Baru Tata Kelola Migas di Indonesia” itu, tampak hadir beberapa tokoh sebagai narasumber di antaranya Mahfud MD, Ali Mundakir, dan Johanes Widjanarko. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 10 Januari 2012

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Sumenep, Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Buku tentang sejarah NU Sumenep yang berjudul Dinamika NU Sumenep Dalam Lintasan Masa dibedah di aula Yayasan Al-Arief Jate, pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Ahad (17/4).?

Buku yang ditulis Ach Taufiqil Aziz itu membahas tentang proses masuknya NU ke Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur serta perkembangan NU dalam setiap masa di daerah ujung timur pulau garam tersebut.

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Sejarah NU Sumenep Dibedah di Pulau Giliraja

Dalam acara yang diselenggarakan Ikatan Alumni Yayasan Al-Arief (Ikayasrif) itu, penulis buku memaparkan pentingnya memahami perkembangan NU lokal.?

"Ini juga supaya kita mengetahui lebih detail ternyata peran kiai kampung sebenarnya sangat besar dalam mengembangkan NU di Sumenep," ujar Ach Taufiqil Aziz, penulis buku saat menjelaskan di depan puluhan hadirin.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia menambahkan, dalam buku yang ditulisnya itu, dirinya juga ingin membukukan perjalanan NU di daerahnya. "Karena buku ini, buku pertama yang mengupas sejarah NU Sumenep," tandasnya.

Sementara itu, Kiai Sutarman, Pengasuh Pesantren Al-Arief mengatakan, buku tersebut akan sangat berguna bagi warga NU. "Kita harus tahu NU dengan baik, termasuk sejarahnya. Biar tidak hanya ikut-ikutan," katanya saat memberikan sambutan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Romza, Ketua Ikayasrif mengaku ingin meleburkan tradisi literasi di daerahnya. "Bedah buku salah satu upaya kami menggerakkan tradisi itu (bedah buku, red)," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hikmah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 05 Januari 2012

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Penasihat Menteri Besar Selangor Khalid Jaafar berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (18/12) sore. Ia mengaku tertarik dan mengapresiasi ajaran dan kiprah Nahdlatul Ulama selama ini.

Kedatangan Khalid disambut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jendral PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, dan Wakil Sekjen PBNU Suwadi D Pranoto.

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasihat Menteri Besar Selangor Komit Kembangkan Islam Nusantara

“Rencananya kami ingin mendirikan Nahdlatul Islam, Nahdlatul Ulama Malaysia, yang sama-sama mengerakkan sisi Islam Nusantara,” katanya kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah sesaat selepas pertemuan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di negaranya, kata Khalid, memang telah berdiri dari Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Malaysia tetapi itu mewadahi sebatas warga negara Indonesia, baik yang sedang menempuh studi maupun berstatus sebagai tenaga kerja Indonesia. Ia mengatakan ingin membentuk organisasi “Nahdlatul Ulama” versi Malaysia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mantan sekretaris pribadi Anwar Ibrahim ini mendukung Islam Nusantara yang menjunjung tinggi nila-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), tawassuth, dan i’tidal (moderasi). Menurutnya, Nusantara juga meliputi Malaysia, termasuk juga Kamboja, Thailand, dan lainnya.

“Bukan berarti kami menolak yang lain, tapi kami rasa Ahlussunnah sesuai dengan karakter wilayah kami,” imbuhnya.

Ditanya soal sebaran paham keagamaan yang berkembang di Malaysia, Khalid berujar, “Ancaman ekstemisme tidak begitu besar, tapi kita tidak boleh kita pandang kecil. Makanya kita perlu suarakan tradisi toleransi yang dalam Nahdlatul Ulama disebut tawassuth.”

Direktur Institut Kajian Dasar (IKD) Kuala Lumpur ini mengaku percaya Islam di Asia Tenggara lebih menjanjikan masa depan dibanding dengan Islam di Timur Tengah. Ditengok dari pertumbuhan ekonomi dan demokrasi, katanya, Asia Tenggara termasuk cukup baik.

Dalam pertemuan itu, KH Said Aqil Siroj menjelaskan kedekatan NU dengan muslim negara-negara tetangga, salah satunya dengan memberi mereka beasiswa untuk studi di perguruan tinggi-perguruan tinggi NU. Pertemuan juga menyinggung soal fenomena intoleransi, Wahabi, Syiah, dan Ahmadiyah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 26 Desember 2011

Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA

Oleh Ruchma Basori

Tiap tahun ajaran baru para orang tua sibuk mencarikan lembaga pendidikan terbaik bagi putra-puterinya. Melalui pendidikan, mereka menggantungkan cita-cita untuk masa depan anak-anaknya. Anak-anak yang sehat, berkarakter, bermoral, lagi cerdas menjadi dambaan. Karenanya para orang tua tidak segan-segan mengeluarkan sejmlah uang yang tidak sedikit agar anak-anaknya tidak sekadar sekolah, namun mendapatkan layanan pendidikan terbaik di negeri ini.? ?

Menyadari akan pentingnya menyiapkan masa depan anak bangsa, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah. Orang tua diimbau untuk mengantar anak di hari pertama sekolah. Bagi Mendikbud "Hari pertama sekolah menjadi kesempatan mendorong interaksi antara orang tua dengan guru di sekolah untuk menjalin komitmen bersama dalam mengawal pendidikan anak selama setahun ke depan. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan keterlibatan publik dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah."

Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA

Di saat harapan orang tua begitu besar, masih ada catatan kelam terhadap ritus penyambutan Peserta Didik Baru oleh sekolah. Biasanya dikenal dengan kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD), sebelumnya disebut Masa Orientasi Siswa (MOS) atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Khusus di lingkungan pendidikan Madrasah (MI, MTs dan MA) kini telah berubah nama menjadi Masa Ta’aruf Siswa Madrasah disingkat MATSAMA.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Saya tergerak hatinya untuk urun rembug berkaitan dengan MOS dan sejenisnya utamanya MATSAMA di madrasah. Cita-cita menciptakan anak-anak Indonesia yang unggul dan bermoral, tidak boleh kandas dan mati sebelum berkembang, karena praktek MOS yang penuh dengan kekerasan, perpeloncoan dan berakhir dengan tragedi kematian. Saya berharap banyak, MOS mestinya menjadi pintu gerbang mengantarkan lahirnya calon-calon pemimpin yang handal mengatasi berbagai persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan. ?

Setitik noda

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam dekade terakhir ini kita sering mendengar tuntutan agar MOS di tiadakan. Karena dinilai banyak mendatangkan kemadlaratan dari pada kemaslahatan. Kita tentu masih ingat, kematian siswa SMP Flora, Bekasi, Evan Chistopher Situmorang (12) setelah mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS).

Okezone dari Koran SINDO, Selasa (4/8/2015) mencatat daftar pelajar yang meninggal akibat MOS selama beberapa tahun terakhir. Roy Aditya Perkasa (14) tewas setelah mengikuti MOS di sekolahnya, SMA 16 Surabaya pada 15 Juli 2009. Roy sebelumnya sempat pingsan, namun nyawanya melayang saat hendak diantar ke Rumah Sakit Sutomo, Surabaya.

Hal yang sama menimpa Amanda Putri Lubis, siswi baru SMAN 9 Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, meregang nyawa pada 13 Juli 2011. Dia diduga menjadi korban MOS karena mengeluhkan sesak napas usai mengikuti MOS di sekolah barunya. Pada tahun 2012, Muhammad Najib, siswa Sekolah Pelayaran Menengah Pembangunan di Jakarta dipaksa jalan kaki sejauh lima kilometer ketika mengikuti MOS. Karena kelelahan yang sangat berat, nyawa Muhammad Najib tak dapat tertolong.

Pada 29 Juli 2015, Febriyanti Safitri (12) menghembuskan napas terakhir saat mengikuti Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) di SMP PGRI Gadog, Megamendung, Kabupaten Bogor dan kasus kekerasan MOS. Terakhir dialami almarhum Evan Christopher Situmorang (12). Siswa baru SMP Flora, Bekasi tewas diduga karena kelelahan mengikuti MOS di sekolahnya.

Kita juga tidak menutup mata, sisi positif dari Masa Orientasi Siswa. Pengenalan sejak dini terhadap lingkungan sekolah dan madrasah, sistem dan tradisi akademik, pengembangan diri dan bagaimana menjadikan sekolah sebagai wahana efektif pembentukan kepribadian. Namun sayangnya harus sedikit ternodai berbagai kasus demi kasus utamanya kekerasan yang berakibat fatal nyawa melayang.

Hal lainnya adalah MOS juga telah disalahgunakan sebagai ajang perpeloncoan yang jelas-jelas tidak mencerminkan nilai-nilai akademis. Tugas-tugas yang memberatkan, pakaian dan atribut yang lucu, pemborosan dan irrasional.

Terkait dengan hal ini Anis Baswedan telah menegeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru dan Contoh Kegiatan dan Atribut yang dilarang dalam Pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah. Beberapa contoh Atribut yang dilarang adalah: (1). Tas karung, tas belanja plastik, dan sejenisnya; (2). Kaos kaki berwarna-warni tidak? simetris, dan sejenisnya; (3). Aksesoris di kepala yang tidak wajar; (4). Alas kaki yang tidak wajar; (5). Papan nama yang berbentuk rumit dan menyulitkan dalam pembuatannya dan/atau berisi konten yang tidak bermanfaat; (6). Atribut lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Sementara beberapa contoh aktivitas yang dilarang dalam Pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah adalah: (1). Memberikan tugas kepada siswa baru yang wajib membawa suatu produk dengan merk tertentu; (2). Menghitung sesuatu yang tidak bermanfaat (menghitung nasi, gula, semut, dsb); (3). Memakan dan meminum makanan dan minuman sisa yang bukan milik masing-masing siswa baru; (4). Memberikan hukuman kepada siswa baru yang tidak mendidik seperti menyiramkan air serta hukuman yang bersifat fisik dan/atau mengarah pada tindak kekerasan; (5). Memberikan tugas yang tidak masuk akal seperti berbicara dengan hewan atau tumbuhan serta membawa barang yang sudah tidak diproduksi kembali; (6). Aktivitas lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Selamat tinggal MOS

Melihat kenyataan pahit, tragis dan memilukan di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama mengeluarkan kebijakan baru mengganti Masa Orientasi Siswa dengan Masa Ta’aruf Siswa Baru (MATSAMA). Walaupun kita belum pernah mendengar kegiatan MOS di kalangan madrasah yang berakhir dengan tragedi.

Matsama adalah istilah baru pengganti dari Masa Orientasi Siswa (MOS) di kalangan madrasah yang akan diterapkan secara serentak pada tanggal 18 Juli 2016. Tidak sekadar ganti nama, namun ada perubahan paradigma pagelaran dan ritus Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di madrasah yang sudah berjalan puluhan tahun.

Menurut Direktur Pendidikan Madrasah, M. Nur Kholis Setiawan, Matsama masih relevan untuk pengenalan lingkungan sekolah kepada siswa baru. “Pengenalan itu meliputi kegiatan rutin madrasah, fasilitas, nilai dan norma yang berlaku, pengenalan organisasi, sistem pembelajaran, serta pengenalan civitas madrasah. Matsama harus diisi dengan kegiatan edukatif, tetap mentaati peraturan atau tata tertib, serta menjunjung tinggi norma yang berlaku di madrasah (Pinmas Kemenag.go.id).

Kegiatan Matsama kata M. Nur Kholis wajib berisi kegiatan yang bermanfaat, bersifat edukatif, kreatif, dan menyenangkan. Perencanaan dan penyelenggaran kegiatan Matsama menjadi hak guru. Kementerian Agama melarang pelibatan siswa senior (kakak kelas) dan atau alumni sebagai penyelenggara. Dengan paradigma baru itu, Kementerian Agama bertekad menjadikan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah harus zero kekerasan dan kemubaziran.

Perubahan paradigma

Matsama dengan paradigma baru seperti apa yang diharapkan? Perubahan paradigma dari yang semula mengedepankan seremonial dengan aksesoris yang kurang mencerminkan nuansa akademik diganti dengan kegiatan yang berorientasi pada pengenalan sistem, tradisi dan budaya pembelajaran di Madrasah. Tradisi yang kerap diidentikan dengan perpeloncoan yang kadang dekat dengan kekerasan dan pelecehan, diganti dengan pengenalan siswa terhadap kultur madrasah yang kondusif, menyenangkan, ramah dan berorientasi pada mutu.

Matsama mestinya dapat mengantarkan para siswa komitmen pada nilai-nilai kebersamaan, tolong menolong, hidup bersama secara damai, saling menghargai, etos belajar, dalam wadah pendidikan madrasah yang memanusiakan manusia. Kegiatan seperti diskusi kelopok, permainan-permainan membentuk team building bisa dipertimbangkan untuk ini. Para siswa dilatih untuk tidak saja menjadi pribadi yang unggul (superman), tetapi juga dapat membangun kebersamaan (super team).

Tradisi senior-unior yang saling berhadapan bahkan hirarkhis mulai dikikis digantikan dengan hubungan kesebayaan yang edukatif. Relasi akademik mencoba dibangun bukan relasi senior unior yang kadang mengganggu kekritisan, kreatifitas dan komitmen untuk sukses bersama bukan sukses sendiri-sendiri.

Nilai-nilai keagamaan yang diajarkan dalam kitab Talimul Mutaalim juga harus menjadi pondasi dasar para siswa madrasah yang harus ditanamkan sejak Matsama. Cinta ilmu pengetahuan, hormat pada guru, saling mendoakan antara guru dan murid, nilai keberkahan dan keutamaan ilmu pengetahuan menjadi dasar etika para siswa madrasah yang kini juga mulai hilang.

Matsama dijadikan sebagai wahana memperteguh komitmen pada kebangsaan, NKRI dan menjunjung tinggi Pancasila, yang disadari akhir-akhir ini mulai memudar dikalangan diri siswa. Hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Bambang Pranowo, Guru Besar UIN Jakarta pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Lebih mengkhawatirkan lagi, menyebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Sementara jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Survei ini sangat mengkhawatirkan bagi masa depan Islam Indonesia yang toleran dan damai. Oleh karenanya Matsama menjadi wahana efektf mnanamkan sejak dini nilai-nilai kebangsaan. Bangga menjadi bangsa Indonesia diaman kita tinggal, menghirup udara segar, makan dan minum dari hasil bumi Indonesia.

Ada baiknya para siswa mulai dikenalkan sejak dini situs-situs sejarah, cagar budaya dan obyek-obyek kebudayaan Indonesia. Rihlah ilmiah dan kebudayaan ke tempat-tempat bersejarah menjadi penting. Jika sekiraya Madrasah jauh dari obyek tersebut, bisa didatangkan sejarahwan dan budayawan untuk berdialog dengan mereka. Madrasah dan sekolah harus mampu melahirkan anak-anak bangsa yang berbudaya, berkarakter Indonesia.

Selamat mengikuti Matsama bagi adik-adiku semoga menjadi pengalaman menarik dan menyenangkan.

Ruchma Basori, (Kasi Kemahasiswaan Dikti Islam Kementerian Agama RI, Sekjen PMU MAN Insan Cendekia dan Kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berita Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi

Maula Abdus Salam Masyisy Al Alami adalah seorang sufi yang hidup pada masa pemerintahan dinasti Muwahiddin. Ia lahir di Kampung Jbel Lalam wilayah Arouss Maroko dekat Tanger pada tahun 1140-1227 Masehi atau setara dengan 559-626 Hijriyah.

Pada ? abad kedua belas sampai abad ketiga belas, ia berhijrah ke Jbel Lalam , sebelah selatan kota Tangier Ibu kota perekonomian Maroko saat ini, di mana ia di makamkan disana sampai sekarang.

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Abdus Salam Masyisy, Pengarang Sholawat Masyisyi

Masyisy adalah bahasa berber yang ? berarti kucing kecil,panggilan ini diberikan oleh ayahnya waktu Ia masih kecil. Ia termasuk seorang Syarif keturunan dari Maula Idris pendiri kerajaan Idrisiyah ? di Fes yang bersambung nasabnya ke Sayyidina Hasan.

Saat masih kecil ,Ia pernah nyantri kepada Guru guru Quran di Kampungnya ,belau telah hafal Alquran pada usia 12 tahun dengan qira’ah sab’ahnya.Lalu belajar fiqih mazhab Maliki di Taza, kapada Sidi Salem dari kabilah Bani Yusuf dan Sidi Ahmed al-Hajj Aqatran Asalani dari kabilah ? Bani Abraj. Dan kemudian ? berguru thoriqot kepada Abu Madyan(Sidi Abu Madyan Shuayb al-Ghawt (w 594/1179), selah seorang guru besar Tarekat Sufi di ? Maroko.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah Nyantri kebeberapa guru ,ia pindah ke Sebta untuk bergabung kebarisan mujahidin untuk berperang ,sembari mengajar Alquran anak anak kecil ? di masjid masjid.

Sampai pada Akhirnya, ia mengabdikan dua puluh tahun terakhir dari hidupnya untuk ibadah dan bertafakur dipuncak ? Jabal al-Alam (Bukit Bendera),dan disinlah Syeh Abul Hassan Shadhili (w. 656/1241) mengaji kepadanya. Syekh Abu Hasan Syadhili ? adalah murid semata wayang dari Syeh Ibnu Masyisy.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia memiliki karya berbentuk tulisan yang berupa buku kumpulan refleksi tentang kehidupan beragama dan politik pada masanya ,serta pidato terkenal Nabi Muhammad (Kitab tasilya) yang ditulis ulang dan dikomentari oleh Syeh Ahmad ibn Ajiba (1747-1809),seorang ulama besar Maroko Abad 18. Selain itu, Ia adalah penulis dari sholawat indah dan keramat ? yang sangat terkenal, yaitu Sholawat Masyisyiyah yang sering diwiridkan dipesantren pesantren Nusantara.

Di Maroko ,sholawat ini masih lestari dan sering dibacakan secara berjama’ah di masjid masjid, zawiyah sufiyah sampai seringkali ? terdengar di radio radio kerajaan. Dan ini adalah upaya baik Kerajaan Maroko dalam melestarikan karya ulama’ agar tidak tergerus masa ,sekaligus upaya pengingat masyarakat untuk selalu bersholawat ,dan salam kepada Junjungan Kanjeng Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wasallam.

Berikut redaksinya:

أÙ„لَّهُÙ…ÙŽÙ‘ صَلِÙ‘ عÙŽÙ„ÙŽÙ‰ Ù…ÙŽÙ? Ù’ مِÙ? ْهُ اÙ? ْشÙŽÙ‚ÙŽÙ‘تِ اÙ’لاَسÙ’رَارُ.وَاÙ? ْفÙŽÙ„ÙŽÙ‚َتِ اÙ’لاÙŽÙ? ْوَارُ. وَفِÙ? ْهِ ارÙ’تَÙ‚َتِ اÙ„ْحÙŽÙ‚َائِÙ‚ُ. وَتَÙ? َزَّلَتÙ’ عُÙ„ُوْمُ أدÙŽÙ…ÙŽ فَأَعÙ’جَزÙŽ اÙ„ْخÙŽÙ„اَئِÙ‚ÙŽ.وَلَهُ تَضَاءÙŽÙ„َتِ اÙ„ْفُهُوْمُ فÙŽÙ„َمْ Ù? ُدÙ’رِÙƒْهُ مِÙ? َّا سَابِÙ‚ÙŒ وَلاÙŽ لاَحِÙ‚ÙŒ. فَرِÙ? َاضُ اÙ„ْمَلَكُوْتِ بِزَهÙ’رِ جÙŽÙ…َاÙ„ِهِ مُوْÙ? ِÙ‚َةÙŒ. وَحِÙ? َاضُ اÙ„ْجَبَرُوْتِ بِفÙŽÙ? ْضِ أÙŽÙ? ْوَارِهِ مُتَدَفِÙ‘قَةÙŒ. وَلاÙŽ شÙŽÙ? ْئÙŽ إِÙ„اÙŽÙ‘ وَهُÙˆÙŽ بِهِ Ù…ÙŽÙ? ُوْطÙŒ. إِذÙ’ لَوْ لاÙŽ اÙ„ْوَاسِطَةُ لَذَهَبÙŽ كَمَا قِÙ? ْلَ اÙ„ْمَوْسُوْطُ. صَلاَةÙ‹ تَلِÙ? ْقُ بِÙƒَ مِÙ? ْكَ إِÙ„ÙŽÙ? ْهِ كَمَا هُÙˆÙŽ أَهÙ’لُهُ. أÙ„لَّهُÙ…ÙŽÙ‘ إِÙ? َّهُ سِرُّكَ اÙ„ْجَاÙ…ِعُ اÙ„دÙŽÙ‘اÙ„ُÙ‘ عÙŽÙ„ÙŽÙ? ْكَ. وَحِجَابُÙƒَ اÙ’لاَعÙ’ظÙŽÙ…ُ اÙ„ْقَائِÙ…ُ بÙŽÙ? Ù’Ù? ÙŽ Ù? َدÙŽÙ? ْكَ. أÙ„لَّهُÙ…ÙŽÙ‘ أÙŽÙ„ْحِقْÙ? ِÙ‰ بِÙ? َسَبِهِ. وَحÙŽÙ‚ِÙ‘قْÙ? ِÙ‰ بِحَسَبِهِ. وَعَرِÙ‘فÙ’Ù? ِÙ‰ إِÙ? َّاهُ مَعÙ’رِفَةÙ‹ أَسÙ’لَمُ بِهَا ? مِÙ? Ù’ مَوَارِدِ اÙ„ْجَهÙ’لِ. وَأÙŽÙƒْرَعُ بِهَا مِÙ? Ù’ مَوَارِدِ اÙ„ْفَضÙ’لِ. وَاحÙ’مِلْÙ? ِÙ‰ عÙŽÙ„ÙŽÙ‰ سَبِÙ? ْلِهِ إِÙ„ÙŽÙ‰ حَضÙ’رَتِÙƒَ. حÙŽÙ…ْلاÙ‹ مَحÙ’فُوْفًا بِÙ? ُصÙ’رَتِÙƒَ. وَاÙ‚ْذِفÙ’ بِÙ‰ عÙŽÙ„ÙŽÙ‰ اÙ„ْبَاطِÙ„ِ فَأَدْمَغَهُ. وَزُجÙŽÙ‘ بِÙ‰ فِÙ? بِحَارِ اÙ’لأَحَدِÙ? َّةِ. وَاÙ? ْشُلْÙ? ِÙ‰ مِÙ? Ù’ أَوْحَاÙ„ِ اÙ„تَّوْحِÙ? ْدِ.وَأَغÙ’رِقْÙ? ِÙ‰ فِÙ? عÙŽÙ? Ù’Ù? ِ بَحÙ’رِ اÙ„ْوَحÙ’دَةِ. حَتَّى لاÙŽ أَرÙŽÙ‰ وَلاÙŽ أَسÙ’مَعÙŽ وَلاÙŽ أَجِدÙŽ وَلاÙŽ أُحِسÙŽÙ‘ إِÙ„اÙŽÙ‘ بِهَا. وَاجÙ’عÙŽÙ„ِ اÙ„لَّهُÙ…ÙŽÙ‘ اÙ„ْحِجَابÙŽ اÙ’لاَعÙ’ظÙŽÙ…ÙŽ حÙŽÙ? َاةÙŽ رُوْحِÙ? Ù’ وَرُوْحَهُ سِرÙŽÙ‘ حÙŽÙ‚ِÙ? ْقَتِÙ‰ وَحÙŽÙ‚ِÙ? ْقَتَهُ جَاÙ…ِعÙŽ عَوَاÙ„ِÙ…ِÙ‰ بِتَحÙ’قِÙ? ْقِ اÙ„ْحÙŽÙ‚ِÙ‘ اÙ’لأÙŽÙˆÙŽÙ‘لِ.Ù? َاأÙŽÙˆÙŽÙ‘لُ Ù? َاآَخِرُ Ù? َاظَاهِرُ Ù? َابَاطِÙ? ُ,إِسÙ’مَعÙ’ Ù? ِدَائِÙ‰ بِÙ…َا سÙŽÙ…ِعÙ’تَ بِهِ Ù? ِدَاءÙ‹ عَبÙ’دِÙƒَ زÙŽÙƒَرِÙ? َّا .وَاÙ? Ù’صُرÙ’Ù? ِÙ‰ بِÙƒَ Ù„ÙŽÙƒÙŽ.وَأÙŽÙ? ِÙ‘دÙ’Ù? ِÙ‰ بِÙƒَ Ù„ÙŽÙƒÙŽ. وَاجÙ’مَعÙ’ بÙŽÙ? Ù’Ù? ِÙ‰ وَبÙŽÙ? Ù’Ù? ÙŽÙƒÙŽ. وَحُلْ بÙŽÙ? Ù’Ù? ِÙ‰ وَبÙŽÙ? Ù’Ù? ÙŽ غَÙ? ْرِÙƒَ. اÙ„له,اÙ„له, اÙ„له.إِÙ? ÙŽÙ‘ اÙ„َّذِÙ? فَرَضÙŽ عÙŽÙ„ÙŽÙ? ْكَ اÙ„ْقُرÙ’ءَاÙ? ÙŽ لَرَادُّكَ إِÙ„ÙŽÙ‰ مَعَادٍ. رَبÙŽÙ‘Ù? َا آتِÙ? َا مِÙ? Ù’ لَدُÙ? ْكَ رَحÙ’مَةÙ‹ وَهÙŽÙ? ِÙ‘ءÙ’ Ù„ÙŽÙ? َا مِÙ? Ù’ أÙŽÙ…ْرِÙ? َا رَشَدًا.رَبÙŽÙ‘Ù? َا آتِÙ? َا فِÙ? اÙ„دُÙ‘Ù? Ù’Ù? َا حَسÙŽÙ? َةÙ‹ وَفِÙ? اÙ’لآخِرَةِ حَسÙŽÙ? َةÙ‹ وَقِÙ? َا عَذَابÙŽ اÙ„Ù? َّارِ. إِÙ? ÙŽÙ‘ اÙ„له وَمَلاَئِÙƒَتَهُ Ù? ُصَÙ„ُÙ‘وْÙ? ÙŽ عÙŽÙ„ÙŽÙ‰ اÙ„Ù? َّبِÙ? ِÙ‘.? Ù? َآأÙŽÙ? ُÙ‘هَا اÙ„َّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آÙ…ÙŽÙ? ُوْا صَلُÙ‘وْا عÙŽÙ„ÙŽÙ? ْهِ وَسÙŽÙ„ِÙ‘مُوْا تَسÙ’لِÙ? ْمًا.. Foto: Makam Syekh Abdus Salam Masyisy

Muhammad Nurul Alim

Mahasiswa universitas Imam Nafie ,Tanger Maroko, Bendahara PCINU Maroko.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, AlaSantri, Kiai Pimpinan Pusat Muhammadiyah