Senin, 19 Agustus 2013

Fakultas Syariah UIN Raden Intan Larang Organisasi Anti-Pancasila

Pringsewu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Menyikapi makin maraknya aksi kelompok ekstrem yang bertentangan dengan prinsip Islam yang rahmatan lil alamin, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Raden Intan Bandarlampung mengeluarkan surat edaran yang ditandatangani tangani langsung oleh dekan fakultas tersebut, Alamsyah.

Surat Edaran dengan nomor B.420/in.04/DS/pp.009/04/2017 tertanggal 12 April 2017 ini merupakan hasil kesepakatan Rapat Pimpinan UIN Raden Intan pada Senin (10/4) menyikapi pernyataan dan larangan Menteri Agama RI tentang aktivitas berpaham anti-Pancasila di perguruan tinggi keagamaan.

Fakultas Syariah UIN Raden Intan Larang Organisasi Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Fakultas Syariah UIN Raden Intan Larang Organisasi Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Fakultas Syariah UIN Raden Intan Larang Organisasi Anti-Pancasila

Surat edaran tersebut menilai kelompok anti-Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 dapat membahayakan keutuhan bangsa. "Ya. Kamis lalu saya tandatangani," tegas Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Intan Alamsyah saat dikonfirmasi tentang hal itu.

Ada empat poin yang termuat dalam surat edaran itu, yaitu setiap organisasi mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Intan Lampung baik MPM, BEM, HMJ dan UKM harus memiliki visi, misi dan program untuk mewujudkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dan Bhinneka Tunggal Ika serta mewujudkan kampus yang akademis dan ilmiah serta memiliki tanggung jawab kepedulian terhadap masyarakat.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Semua mahasiswa, demikian bunyi surat edaran tersebut, harus bersikap dan berperilaku Islami, moderat, dan melaksanakan kode etik mahasiswa.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Intan juga secara tegas melarang keberadaan semua organisasi mahasiswa dan perilaku yang ekstrem yang bertentangan dengan nilai ajaran Islam rahmatan lil alamin dan empat pilar kebangsaan.

Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut akan diberi danksi tegas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 09 Agustus 2013

Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku

Maluku yang dikenal dengan sebutan Jazirah al-Mamluk (Kepulauan Raja-raja) adalah sebuah negeri di Timur Indonesia yang yang sangat berpengaruh dengan empat kerajaan yaitu Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan.?

Islam ? masuk di Maluku melalui jalur perdagangan di abad ke-15. Alasan kenapa Islam masuk lewat jalur perdagangan, karena pada awal abad ke-15 Maluku Sohor sebagai kepulauan rempah-rempah yang menjadi sasaran pada pedagang asing untuk mendapatkan cengkeh dan buah pala. Pedagang-pedagang itu diantaranya dari Asia-Arab, Gujarat, Cina, dan pedagang-pedagang Jawa serat Melayu yang telah memeluk agama Islam.

Syekh Mansur adalah salah satu pedagang dari Arab yang meyiarkan Islam di Tidore pada masa pemerintahan Calano Caliati. Sementara Datu Maulana Hussein adalah salah satu pedagang ? dari Jawa yang juga berpengaruh dalam penyebaran Islam di Ternate pada masa pemerintahan Kalano Marhum.?

Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku

Sementara itu, Portugis menyebut bahwa Islam masuk di Maluku semenjak pelantikan Sultan Zainal Abidin ditahun 1486. Namun, sumber lain menyebut Islam sudah ada di Maluku sekitar 50-60 tahun sebelum tahun 1486.?

Setelah Islam masuk di Maluku, pengaruh dan perkembangan Islam belum kuat terutama di Ternate. Oleh sebabnya, Zainal Abidin pergi ke Jawa untuk mempelajari Islam secara langsung dari Sunan Giri. Sunan Giri adalah salah satu ulama atau wali terkenal di tanah Jawa. Dari sinilah muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin (1486-1500); Kesultanan Tidore dipimpin oleh Sultan Mansur; Kesultanan Jailolo yang dipimpin oleh Sultan Sarajati; Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh Sultan Kaicil Buko.

Penyebaran Islam di Maluku, tanpa terkecuali tidak dapat dipisahkan dari kerja keras seorang pedagang sekaligus muballigh asal Jawa bernama Datu Maulana Hussein. Ia tiba di Ternate pada 1465. Hussein adalah seorang muballigh besar pada masanya. Ia memiliki pengetahuan agama Islam yang luas dan dalam, serta pakar tilawah dan kaligrafi Arab.?

Dikisahkan pada suatu hari Hussein, dengan suara yang merdu dan keahlian membuat kaligrafi, setiap ia mendendangkan lantunan ayat-ayat suci membuat banyak orang berdatangan untuk mendengarkannya. Dengan demikian masyarakat perlahan-lahan mulai menerima Islam. (Sidra Sofyan)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 01 Agustus 2013

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan!

Bantul, Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Kapolda DIY Brigjen H Ahmad Dhofiri menyampaikan, perlu koordinasi berkelanjutan dalam upaya menangkal paham radikalisme. Hal tersebut disampaikannya saat mengisi “Halaqah PCNU Bantul dan Polda DIY”, di Gedung PCNU Bantul, Sabtu (20/5).

Kapolda menambahkan, Yogjakarta yang dikenal sebagai kota pelajar, kota gudeg, kota wisata adalah miniatur Indonesia. Karenanya banyak wisatawan dari berbagai daerah mengunjungi dan tinggal untuk belajar.

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda DIY: Satu Kata Bagi Pengganggu Indonesia, Lawan!

“Namun, di Yogjakarta masih ada kelompok yang memaksakan ideologi, separatisme; juga ada. Perlu kita sadari dan waspadai bahwa radikalisme itu gerakannya cepat dengan keras yang tumbuh di mana-mana,” kata Kapolda.

Ia menyebutkan adanya TKW yang awal keberangkatan berdandan dengan rambut masih biasa. Setahun bekerja di luar negeri, rambutnya sudah pirang kemudian berubah menggugunakan cadar.?

“Terus mau melakukan bom bunuh diri di Istana Merdeka. Alhamdulillah aparat mencium niat jahat tersebut dan langsung mengamankan pelaku,” paparnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Oleh karena itu, ia mendorong agar masyarakat merawat dan menjaga empat pilar yang membuat kokoh berdiri bangsa ini yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.?

Kapolda mengharapkan masyarakat dan semua elemen bangsa untuk mewaspadai aksi gerakan seperti itu, karena mengancam keutuhan NKRI.?

“Kalau ada yang menggangu keutuhan Indonesia, hanya satu kata: lawan!” pekiknya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia mengutip lagu Ya lal wathon “Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu.?

Turut hadir pada kegiatan tersebut rektor UNU Yogjakarta Purwo, anggota DPD RI HA Hafith Asrom, Rois Syuriah PCNU Bantul KH Kholiq Syifa, Kodim Bantul, Direktur NU Care Bantul Rustam Nawawi. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, Nahdlatul Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 25 Juli 2013

Syekh Nawawi Banten dan Belut

Kiai Tamad (90) meriwayatkan salah satu kebesaran Syekh Nawawi Al-Bantani. Ia mendapat riwayat itu dari gurunya, Mama Ajengan Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur) Purwakarta. Mama Sempur adalah salah seorang murid langsung Syekh Nawawi di Makkah.

Syekh Nawawi adalah seorang alim yang seumur-umur tidak pernah memakan ikan jenis apapun. Suatu ketika, seorang Arab (tidak disebutkan namanya) mengejek kebiasaan orang Nusantara. Ia mengatakan, orang Nusantara itu memakan barang haram, yaitu belut.

Syekh Nawawi Banten dan Belut (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Nawawi Banten dan Belut (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Nawawi Banten dan Belut

Menurut orang Arab itu, belut adalah ular, maka hukumnya haram.

Meski Syekh Nawawi tak pernah memakan belut, ia yakin hewan yang umum dimakan di tanah kelahirannya itu halal. Maka ia mengatakan kepada orang Arab, bahwa belut halal!

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Orang Arab menolak pendapat itu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Karena kehabisan cara untuk menjelaskan, Syekh Nawawi memukulkan tangannya ke dalam pasir di hadapan orang itu. Tangannya langsung menelusup seperti ke dalam lumpur. Ia mengambil sesuatu.

Ketika tangannya diangkat kembali, seekor belut berada dalam genggamannya. Lalu ia menunjukkan kepada orang itu. Inilah belut yang dimakan orang Nusantara. Beda dengan ular.

Syekh Nawawi menjelaskan perbedaan ular dan belut terletak pada insangnya. Karena belut memilki insang, maka hukumnya seperti ikan. ?

Kiai Tamad menjelaskan kisah itu di kediamannya, kampung Pungangan, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang pada Rabu, (10/4).

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Doa, Kyai Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 20 Juli 2013

Ikhtiar Revolusi Mental Jamiyyah Shalawat Nariyyah Blitar

Blitar, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Ribuan jamaah Majelis Talim dan Dzikir Jamiyyah Shalawat Nariyyah Mustaghitsu Al-Mughits asuhan KH Mohammad Sunhaji Nawal Karim Zubaidi Abdul Ghofur (Gus Shon) Selasa malam (26/7) tumplek blek di jantung desa Jati, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur untuk menghadiri rutinan perdana setelah jeda selama sebulan puasa dan Idul Fitri.

Jamaah datang dari daerah sekitar, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Jombang, dan Malang. Hadirin didominasi kalangan anak muda, tidak jarang ada juga yang sudah tua. Rata-rata mereka datang dengan berombongan roda empat dan sepeda motor berboncengan.

Ikhtiar Revolusi Mental Jamiyyah Shalawat Nariyyah Blitar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Revolusi Mental Jamiyyah Shalawat Nariyyah Blitar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar Revolusi Mental Jamiyyah Shalawat Nariyyah Blitar

Majelis Talim dan Dzikir Jamiyyah Shalawat Nariyyah Mustaghitsu Al-Mughits adalah suatu organisai yang menjadikan Shalawat Nariyyah sebagai salah satu amalannya, berlandaskan ajaran Ahlussunnah wal-Jama’ah serta ajaran ulama salafussholih. Jam’iyah ini berpusat di Pesantren Mambaul Hikam, Mantenan Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Jam’iyyah ini berdiri kurang lebih 7 tahun lalu diprakarsai KH Muhammad Shonhaji Nawal Karim Zubadi. Ia adalah cucu dari KH Abdul Ghofur, pendiri Pondok Pesantren Mambaul Hikam Mantenan. Meski baru 7 tahun begitu pesat perkembanganya. Hal ini tidak lepas dari figur pemimpin yang kharismatik dan keturunan dari ulama besar.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jam’iyyah Shalawat Nariyyah Mustaghitsu Al Mughits dilaksanakan dengan berbagai macam rutinan, baik itu rutin induk, rutin pusat sughro, rutin pusat kubro, rutinan cabang dan rutin iqroran (buka cabang) setiap Selasa malam. Setiap rutinan buka cabang sementara ini dihadiri kurang lebih 15-30? ribu jamaah bahkan lebih.

Adapun rangkaian kegiatannya, yaitu pembacaan surat Yasin dan pembacaan Shalawat Nariyah dan pengajian (talim) yang disampaikan Gus Shonhaji. Di samping itu, selama acara berlangsung disediakan fasilitas pengobatan gratis bagi para jamaah. Pengobatan gratis ini ditangani tim khusus berjumlah 30 orang.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Ini bagian dari ikhtiar revolusi mental umat agar mereka bisa terarah sesui perintah Allah SWT dan tuntunan? rasulillah SAW,’’ ujar Gus Shon. (imam kusnin ahmad/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Warta, Nasional, Kyai Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 29 Juni 2013

NU Padang Sosialisasikan Kartanu

Padang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Warga Nahdlatul ? Ulama (NU) di Kota Padang diminta untuk terus meningkatkan ukhuwah islamiyah, baik di bulan suci Ramadhan maupun setelahnya. Karena dengan ukhuwayah ? islamiyah yang semakin kuat, berbagai persoalan di tengah umat dapat dicarikan solusinya.?

?

Ketua PC Nahdlatul Ulama Kota Padang Yultel Ardi, menyebutkan hal itu pada acara buka bersama keluarga besar NU Kota Padang, Jumat (1/7), di kantor PCNU Padang. Menurut Yultel ? jika ukhuwah islamiyah umat rusak, maka akan menimbulkan kekacauan. Kalau sudah kacau, tentu tidak akan memberikan ketenangan dan kenyamanan dalam beribadah dan berbuat amal kebaikan.

NU Padang Sosialisasikan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Padang Sosialisasikan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Padang Sosialisasikan Kartanu

"Dengan acara buka bersama ini, momen penting bagi keluarga NU Padang meningkatkan ukhuwah islamiyah," kata ? Yultel Ardi, alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Propinsi Sumatera Barat.?

Menurut Yultel, selain buka bersama, yang lebih penting pula adalah sosialisasi Kartanu (Kartu Anggota NU). Disebutkan, anggota NU di Indonesia berjumlah jutaan orang. Namun tidak memiliki kartu sebagai tanda anggota. "Salah satu upaya mendata anggota NU tersebut adalah dengan menerbitkan Kartanu. Melalui momen ini, kami minta agar orang NU di Padang dan Sumatera Barat mulai mendaftarkan dirinya sebagai anggota NU ke kantor PC NU," ujar dia.?

"Selain itu, di bulan Ramadhan masjid, surau, mushalla ramai dikunjungi jamaah. Pasca Ramadhan biasanya masjid, surau dan mushalla kembali sepi dari jamaah. Pengurus NU sebagai tokoh umat diminta tetap memakmurkan masjid pasca Ramadhan. Masjid harus dimakmurkan dengan berbagai kegiatan ibadah dan amaliah," kata Yultel menambahkan.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Usai buka bersama, Ketua PC NU Padang Yulter Ardi menyerahkan paket lebaran kepada salah seorang anggota NU Padang secara simbolis. (Armaidi Tanjung/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 22 Juni 2013

Cari Berkah denganTarawih Keliling

Pekalongan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kota Pekalongan yang kental dengan para ulama dan habib bisa digolongkan sebagai kota yang memiliki tradisi ke-NU-an yang begitu kuat. Setiap bulan Ramadhan tiba, banyak masyarakat Pekalongan yang ngalap (mencari) berkah lewat kegiatan tarawih keliling masjid-masjid yang ada di Pekalongan.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Irzam Hasani (21), mahasiswa Undip Semarang. Ia rela menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman guna menikmati nuansa Ramadhan di Pekalongan. Bersama dengan dua rekannya, Shofiyullah dan Khadziq, mereka ingin meramaikan bulan Ramadhan kali ini dengan melakukan tarawih keliling ke masjid maupun majelis habaib yang ada di Kota Batik ini.

Cari Berkah denganTarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Berkah denganTarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Berkah denganTarawih Keliling

Pada malam ke-4 di bulan Ramadhan ini, Jumat (12/7), mereka memulai kegiatan tarawih kelilingnya di gedung Kanzus Shalawat, Pekalongan. Di gedung Kanzus Shalawat yang biasa digunakan untuk majelis maulid Nabi ini, digelar salat tarawih berjamaah selama bulan Ramadhan.

Bersama sekitar 30 jamaah yang rata-rata berasal dari Pekalongan dan sekitar mereka terlihat khusyuk melaksanakan salat tarawih. Sebagai imam, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf, menantu dari Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, juga mengajak jamaah untuk berdzikir selepas salat tarawih.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketika ditanya tentang alasannya melakukan tarawih keliling ini, Irzam mengatakan dirinya bersama dua rekannya ingin ngalap berkah kepada habaib yang ada di Pekalongan. “Mumpung pulang kampung, saya sempatkan untuk tarawih keliling ke tempatnya habaib,” ujarnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senada dengan Irzam, Khadziq yang sedang menempuh pendidikan di STAIN Pekalongan ini juga menyampaikan niatnya melakukan kegiatan ini. “Kita pengen ngalap berkah dengan salat bersama habib, alhamdulillah bisa kesampaian,” tutur mahasiswa yang juga aktif di PMII STAIN ini.

Untuk malam berikutnya mereka berencana melanjutkan tarawih kelilingnya ini ke masjid Raudhah, Pekalongan, masjid milik Habib Baqir Alatas yang juga sering dijadikan sebagai tempat untuk tarawih keliling oleh masyarakat Pekalongan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Rodif Hafidz

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hikmah, Habib Pimpinan Pusat Muhammadiyah