Selasa, 31 Januari 2017

Donor Darah, Program Unggulan GP Ansor Jaten

Karanganyar, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda  Ansor Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, rutin menggelar donor darah sebagai salah satu program unggulan. Selain menjadi wujud kepedulian terhadap sesama, donoro darah diyakini memberikan hal yang positif bagi si pendonor itu sendiri.

Donor Darah, Program Unggulan GP Ansor Jaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Donor Darah, Program Unggulan GP Ansor Jaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Donor Darah, Program Unggulan GP Ansor Jaten

“Di PAC Jaten sudah berjalan program rutinan donor darah, meskipun jeda waktu pelaksanaannya sekitar empat bulan sekali,” ungkap Ahmad Fatoni, salah satu pengurus PAC  GP Ansor Jaten, Senin (3/2).

Pendonor darah pertama pada program aksi donor darah perdana adalah Kiai Ahmad Hudaya. Ia adalah alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, yang kini aktif di berbagai organisasi, mulai dari PCNU Karanganyar, MUI, Bazis, Forum Kabupaten Sehat, FKUB Karanganyar, serta dosen Tafsir di Fakultas Usuludin dan Dakwah IAIN Surakarta.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Orang yang mendapatkan darahnya Kiai Hudaya adalah orang yang beruntung,” imbuh Fatoni sembari bercanda.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain donor darah, PAC GP Ansor Jaten juga memiliki program unggulan lainnya yaitu “Ansor Berdzikir” sebagai salah satu sarana  refleksi diri. Kemudian, program bersih-bersih makam sebagai salah satu bentuk pengabdian dan kepedulian kepada lingkungan.

“Meskipun program kami sederhana, namun kami berharap dapat mendatangkan kemanfaatan dan kemashlahatan bagi masyarakat setempat,” pungkasnya. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita, Hikmah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 24 Januari 2017

"Karatan", Grup Musik Pesantren dengan Alat Tradisional Sunda

Subang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Juni tahun 2012 adalah bulan bersejarah bagi Fauzi Muhajir (17). Pasalnya di bulan itu Fauzi bersama sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam grup musik “Karatan” memenangkan juara harapan I dalam perlombaan seni musik yang diselenggarakan oleh Lanud Suryadarma Kalijati, Subang.

Karatan, Grup Musik Pesantren dengan Alat Tradisional Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Karatan, Grup Musik Pesantren dengan Alat Tradisional Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

"Karatan", Grup Musik Pesantren dengan Alat Tradisional Sunda

Grup musik Karatan sendiri merupakan akronim dari “Karinding Attawazun”, sebuah grup musik tradisional yang ada di Pesantren Attawazun, Kalijati, Subang, peralatan musiknya terdiri dari alat musik tradisional warisan leluhur Sunda, yaitu karinding, celempung, toleat dan suling.?

Grup musik tersebut dipelopori oleh Fauzi Muhajir. Saat di temui Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Pesantren Attawazun, Senin (18/2), santri asal Kecamatan Ciater, Subang tersebut mengatakan bahwa dalam pembentukan grup “Karatan” bisa dibilang sangat mendadak.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Awalnya umpama besok ada lomba musik, hari tadi kita daftar jadi peserta, tadinya mau marawis, cuma kan (marawis) sudah ada, ya jadinya Karinding, kebetulan saya bisa karinding sedikit-sedikit,” ujar siswa kelas XII tersebut

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Fauzi pun kemudian berembug bersama sahabat-sahabatnya di kobong, dari rembugan tersebut menghasilkan grup musik karatan yang digawangi oleh Fauzi Muhajir, Rifaldi, Chorul Umam, M. Thaba-thaba, Farhan Zulfikar dan Dena Hediana.

Malamnya, setelah selesai mengikuti pengajian di Pesantren, Fauzi bersama sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam Karatan mulai latihan dari Nol, sebab awalnya yang menguasai seni Karinding di Pesantren yang diasuh oleh Ketua PCNU Subang tersebut hanya Fauzi saja.

“Alhamdulillah, dari puluhan peserta kita dapat Juara harapan I, padahal kita latihan cuma satu kali saja” kenang Fauzi dengan sumringah

Setelah tampil perdana di acara perlombaan tersebut, Grup musik Karatan mulai dikenal oleh masyarakat, sampai sekarang mereka sering tampil dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, seperti muludan, hajatan, dan lain sebagainya. Adapun lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu islami, terutama shalawat.

Redaktur? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anti Hoax, Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 21 Januari 2017

PAC Waru Juara Umum Jambore Harlah GP Ansor Sidoarjo

Sidoarjo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Perhelatan Jambore dalam rangka merayakan hari lahir ke-81 Gerakan Pemuda Ansor yang diadakan Pimpinan GP Ansor Sidoarjo, Jawa Timur, berlangsung meriah. Juara umum dalam perlombaan kali ini disabet Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Waru, Sidoarjo.

PAC Waru Juara Umum Jambore Harlah GP Ansor Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC Waru Juara Umum Jambore Harlah GP Ansor Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC Waru Juara Umum Jambore Harlah GP Ansor Sidoarjo

PAC GP Ansor Kecamatan Waru memperoleh juara I bidang keansoran dan kebanseran,  yakni mars dan orasi kebangsaan; juara I bidang keagamaan, yang terdiri dari terbang al-banjari dan dai; juga juara I di cabang olahraga, yaitu tenis meja dan catur.

Perlombaan yang diikuti 18 PAC ini terdiri dari beberapa kategori, antara lain empat perlombaan pada bidang keansoran dan kebanseran, dua perlombaan pada bidang keagamaan, dan lima perlombaan pada cabang olahraga (cabor).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Empat bidang keansoran dan kebanseran yang dilombakan adalah pelatihan baris berbaris (PBB), melantunkan mars, pencak silat, dan orasi kebangsaan; dua perlombaan yang ditandingkan pada bidang agama yakni lomba terbang al-banjari dan dai; sedangkan lima cabor yang dilombakan adalah  bulu tangkis, futsal, voli, tenis meja, dan catur.

"Kali ini yang menjadi juara umum kontingen dari PAC Ansor Kecamatan Waru Sidoarjo. Jambore yang diadakan ini untuk menambah keakraban dan silaturrahmi antar kader Ansor se-Sidoarjo," tutur Slamet Budiono, Ahad (3/5), di Pendopo Delta Wibawa usai acara jalan bareng santri.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Melalui kegiatan seperti ini, Slamet bersyukur lantaran kader-kader GP Ansor dari 18 Kecamatan itu diketahui banyak yang mempunyai bakat, baik di bidang agama, keansoran, olahraga dan lainnya. "Semoga kegiatan untuk mendukung kreativitas dan olahraga ini bisa diadakan setiap tahunnya. Jika perlu cabor dan lainnya, tahun depan jumlah yang dilombahkan ditambah," tandas Slamet. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah AlaNu Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gus Nadir: Smartphone Tidak Lantas Membuat Semua Orang Jadi Smart

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Rais Syuriyah PCINU Australia dan Selandia Baru Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) menyatakan, kepesatan perkembangan teknologi informasi tidak mengubah pola pikir orang fundamentalis menjadi modern.

“Era teknologi ini, tidak mengubah orang fundamentalis jadi modern. Orang-orang yang memiliki smartphone tidak lantas menjadi smart, jadi pintar,” kata Gus Nadir disambut riuh tawa hadirin pada acara diskusi bertajuk Mengaji dan Mengkaji Islam, Medsos, dan Generasi Milenial di kantor Pengurus Pusat GP Ansor, Jakarta Pusat, Senin (25/9) malam.

Gus Nadir: Smartphone Tidak Lantas Membuat Semua Orang Jadi Smart (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Nadir: Smartphone Tidak Lantas Membuat Semua Orang Jadi Smart (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Nadir: Smartphone Tidak Lantas Membuat Semua Orang Jadi Smart

Gus Nadir menjelaskan bahwa hal tersebut dibuktikan dengan menyeruaknya hoax dan hate speech. Banyak orang tidak pintar dan tidak memerhatikan etika bermedsos.

“Ketika seorang pemuda menghina Gus Mus atau ketika Profesor M Quraish Shihab disuruh membaca syahadat oleh seorang netizen, mereka-mereka itu tidak menggunakan etika dalam bermedia. Mereka tidak paham siapa yang mereka hina,” tutur Gus Nadir.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Generasi milenial memang lebih banyak berkomunikasi lewat layar ketimbang tatap muka langsung. “Mungkin, mereka pikir, yang dihadapi bukan siapa-siapa melainkan hanyalah sebuah layar,” kata dosen hukum di Monash Law School Australia itu.

Ia mengharapkan, etika bermedsos perlu dikaji dan juga menjadi tugas Ansor untuk menyebarkannya; untuk menebarkan bahwa Islam itu santun dan ramah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Ini menjadi tugas sahabat-sahabat Ansor. Acara (diskusi) ini tidak boleh berhenti sampai di sini,” imbuhnya.

Selain Gus Nadir, ada beberapa pemateri lain yang hadir pada diskusi malam itu, yakni Haidar Bagir dan Nuruzzaman (Kabid Hubungan dan Kajian Strategis GP Ansor), dengan moderator Tsamara Amany, yang sering disebut sebagai politisi milenial. (Wahyu Noerhadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 20 Januari 2017

Ikrar kesetiaan

Ikrar Kesetian, lengkapnya Ikrar Kesetiaan Warga Nahdlatul Ulama.

Istilah tersebut pertama kali digunakan pada perayaan hari lahir NU ke-68 menurut penanggalan Hijriah atau ke-66 dalam versi Masehi, di Parkir Timur Senayan Jakarta Pusat, 1 Maret 1992.

Seperti yang dituturkan KH Abdurahman Wahid, ikrar kesetiaan berisi tiga hal utama. Pertama, penyampaian rasa syukur pada Allah Swt. 

Ikrar kesetiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikrar kesetiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikrar kesetiaan

Kedua, penegasan NU bahwa NKRI adalah bentuk final yang diperjuangkan umat Islam Indonesia. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketiga, penegasan bahwa NU mendukung UUD 1945 dan Pancasila.  Pada saat dibacakan di rapat akbar, teks asli Ikrar Kesetiaan sendiri terdiri dari lima poin.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebelum dibacakan, ada prosesi penyerahan naskah, disebut ijab-kobul, dari ketua umum PBNU ke pembaca teks. Ikrar kesetiaan bukanlah nomenklatur resmi organisasi, tapi dapat digunakan pada kondisi tertentu. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nasional, Anti Hoax, Nusantara Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 19 Januari 2017

Kemenag Bangun Moderatisme Lewat Perkemahan Wirakarya Mahasiswa PTK

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI terus berupaya membangun kualitas pemahaman agama yang baik meliputi kebersamaan, moderatisme, gotong royong, dan kemandirian. Nilai-nilai tersebut akan diwujudkan melalui kegiatan Perkemahan Wirakarya (PW) Nasional Mahsiswa Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK). Kegiatan ini akan bergulir di IAIN Kendari Sulawesi Tenggara pada tanggal 16-22 Mei 2016 mendatang.

Dalam jumpa pers, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin menegaskan bahwa PW PTK ini merupakan salah satu instrumen untuk membangun jiwa kebersamaan dan kemandirian di antara seluruh generasi bangsa.

Kemenag Bangun Moderatisme Lewat Perkemahan Wirakarya Mahasiswa PTK (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Bangun Moderatisme Lewat Perkemahan Wirakarya Mahasiswa PTK (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Bangun Moderatisme Lewat Perkemahan Wirakarya Mahasiswa PTK

“Apalagi kegiatan ini pertama kali melibatkan perguruan tinggi non-Islam selama 13 tahun penyelengaraannya. Tentu hal ini langkah yang sangat strategis untuk membangun jiwa kemandirian, kebersamaan, dan kegotong-royongan,” ujar Kamaruddin.

Melalui kegiatan Pramuka ini, lanjut Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini, PTK bisa memaksimalkan perannya sebagai penjaga nilai-nilai keindonesiaan terutama untuk membendung ekstremisme dan paham radikal di kampus.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Secara nyata, perkemahan ini sebagai instrumen mewujudkan Islam moderat sekaligus mempromosikan Islam damai dan toleran,” tegas Kamaruddin.

Sementara itu, Rektor IAIN Kendari Nur Alim menjelaskan, dalam kegiatan bertajuk Merajut Harmoni, Berkarya untuk Negeri ini pihaknya sebagai tuan rumah menyajikan kegiatan-kegiatan menarik unruk membangun harmoni melalui berbagai karya para Pramuka Pandega dan Dewan Racana.

“Apalagi PW PTK tahun ini berbeda dari sisi peserta, sebab kita melibatkan perguruan tinggi non-Islam dan perguruan tinggi umum di Kota Kendari, bahkan para mahasiswa asing juga beberapa kita undang,” terang Nur Alim.

Melalui kegiatan Pramuka ini, lanjutnya, mahasiswa akan diarahkan secara dominan dalam keterlibatannya dengan problem-problem di tengah masyarakat. “Artinya berbasis sosial kemasyarakatan. Ini sesuai dengan poin-poin yang terdapat di Tri Darma Perguruan Tinggi maupun Dasa Darma Pramuka,” ujar Nur Alim.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hadir juga dalam jumpa pers ini Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bakhtiar dan Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Diktis Siti Sakdiyah. Kegiatan PW PTK ini akan dihadiri kurang lebih 1.500 Pramuka Pandega dari PTK se-Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Cerpen: Kecil itu Besar

“Uang satu juta rupiah



tidak akan menjadi satu juta

jika kurang seratus rupiah”

Cerpen: Kecil itu Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerpen: Kecil itu Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerpen: Kecil itu Besar

“Mengapa anda gelisah?” kata Sartono ketika melihat Sarkadi mondar-mandir di depan teras kontrakannya.

“Ane lupa kalau sekarang ada kuliah, No,” jawab Sarkadi.

“Lantas apa hubungannya kuliah dengan mondar-mandir, Di?” tanyanya kembali.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Begini, No. Ane lupa naruh kunci motor ane. Kayaknya tadi malem jatuh disini. Lah kalau sudah gitu kan ane nggak bisa kuliah,No.”

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kalau memang anda tahu kalau tadi malem jatuh, mengapa anda tidak mengambilnya tadi malam, di?”?

“Ane kira itu tidak mungkin hilang, No. Makanya ane biarin.”

“Wah, anda terlalu meremehkan suatu hal yang kecil, Di.”

Pagi bukanlah sebuah pagi jika tidak ada percekcokan antara Sarkamon dan kawan-kawan. Entah mengapa, selalu saja ada masalah setiap pagi. Mungkin ini menandakan bahwa pagi adalah awal dari sebuah masalah yang kan terpecahkan pada malam harinya. Mungkin.



Pada pagi itu, tidak didapati sepasang mata dari Sarkamon. Dia sibuk ngutek laptopnya yang masih error. Software antivirus yang ada di dalamnya ter-uninstall. Itu terjadi gara-gara Sartono meminjamnya untuk men-download sebuah game. Kalau manusia biasa, pasti kebanyakan nggrundel ketika sesuatu yang dimilikinya dirusakkan oleh temannya. Tapi sarkamon tidak. Dia tidak ingin masalah yang sepele seperti itu dijadikan sebagai cara untuk merusak pertemanan.?

“Ane harus bagaimana ini, No?” tanya Sarkadi melanjutkan pembicaraan.

“Anda cari sampai ketemu, Di! Saya tidak bisa meminjamkan motor saya kepada anda. Saya akan mengikuti seminar di luar kampus hari ini,” kata Sartono.

“Khalash, No! Nggak ketemu tapi..”

?

“Bukan tidak ditemukan, Di. Anda saja yang kurang giat mencari,” berkata Sartono dengan nada yang sedikit menasihati.

“Haduh.. kaifa hadza?”



Sebenarnya, kunci motor Sarkadi sudah diambil oleh Sarkamon tadi malam. Tapi dia enggan memberikannya. Dia ingin memberi sebuah pelajaran kepada Sarkadi agar tidak menyepelkan sesuatu yang kecil. Karena sesuatu yang besar tidak akan terjadi tanpa adanya sesuatu yang kecil.?

Ada sebuah kisah tentang betapa pentingnya seorang manusia untuk tidak menyepelekan sesuatu yang kecil. Pada suatu hari, ada sekelompok nelayan yang ingin berlayar untuk mencari ikan di lautan. Salah seorang nelayan ingin mencari jaring untuk ditebarnya dalam lautan. Pada ketika itu, dia mendapati seekor rayap yang berada di dalam perahu. Nelayan itu tidak menghiraukan keberadaannya. Dia beranggapan bahwa tidak akan mungkin seekor rayap yang kecil dapat menimbulkan masalah yang besar.



Di hari pertama dan kedua, perahu itu berfungsi dengan sebagaimana mestinya. Namun di hari ketiga, sebuah insiden terjadi. Seekor rayap telah menjadi berekor-ekor. Mereka melubangi bagian perahu yang dapat membuat tenggelam. Akhirnya, perahu yang besar seperti itu dapat tenggelam karena kecerobohan salah satu nelayan yang tidak menghiraukan seekor rayap. Untung saja, ada beberapa perahu yang dekat dari perahu mereka. Mereka tertolong dengan selamat dan penyesaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari zaman Nabi Adam Alaihis Salaam sampai zaman pro-kontra Koh Basuki yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta, banyak sekali terlihat manusia meremehkan hal-hal yang kecil. Dalam dunia pendidikan, banyak sekali siswa maupun mahasiswa yang menganggap sebuah tugas adalah hal yang remeh. Mereka jarang sekali mengerjakan sebuah tugas ketika tugas itu masih sedikit.

Namun ketika sebuah tugas itu menjadi bermacam tugas, mereka malah enggan mengerjakannya dan beranggapan bahwa tugasnya terlalu banyak. Sebenarnya ini bukan masalah banyak atau sedikitnya sesuatu, akan tetapi ini adalah masaah bagaimana kita menganggap besarnya sesuatu yang kecil, atau banyaknya sesuatu yang sedikit.

Jika kita mengerjakan sesuatu yang sedikit dengan cara yang berulang-ulang atau berkeanjutan, itu akan menjadi sesuatu yang banyak. Begitu juga mengenai besar dan keci. Seperti halnya cerita tentang keberadaan seekor rayap tadi. Pada awalnya, rayap itu memang hanya satu jumlahnya, karena tidak menganggap itu adalah sesuatu yang penting, seekor rayap itu menjadi berekor-ekor yang menimbulkan masalah yang besar.

Keberadaan sesuatu yang sedikit atau yang kecil biasanya sering dianggap sesuatu hak yang remeh. Satu hal yang harus dipikirkan kembali oleh manusia adalah keberadaannya tidak akan menjadi sebesar itu jika tanpa keberadaan kecilnya yang lalu.?

Dalam hakikat kehidupan manusia, dia diciptakan melalui segumpal daging dahulu. Tidak langsung menjadi sebesar itu. Dalam hal menabung juga begitu. Uang yang kita tabung tidak akan menjadi sebanyak itu jika kita tidak mengumpulkan dari yang sedikit.

Betapa pentingnya sesuatu yang sedikit atau yang kecil, uang satu juta rupiah tidak akan menjadi satu jika kurang seratus rupiah. Maka dari itu, harus kia sadari bahwa sesuatu yang kecil bukanlah hal yang remeh. Itu harus kita perhatikan lebih intensif dalam keberadaannya.

(Achmad Itsbatunnadzri)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah Pimpinan Pusat Muhammadiyah