Selasa, 18 Juli 2017

Bandha Masjid Perlu Dikelola Produktif

Semarang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bandha (aset) wakaf yang dimiliki masjid perlu dikelola agar produktif. Pengelolaan tersebut maksudnya diupayakan supay menghasilkan uang yang bisa dipergunakan untuk kemakmuran masjid dan umat di sekitarnya.

Para nazhir masjid perlu mengupayakan hal tersebut agar? masjid tidak sekadar menjadi tempat ibadah sholat saja. Tidak sebatas fungsi sebagai takmir yang memakmurkan masjid dengan kegiatan keagamaan saja.

Bandha Masjid Perlu Dikelola Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Bandha Masjid Perlu Dikelola Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Bandha Masjid Perlu Dikelola Produktif

Demikian disampaikan Ketua Lajnah Talif wan-Nasyr PWNU Jateng Dr H Muhyar Fanani MAg saat memberikan pembekalan kepada para nazhir masjid utusan kabupaten/kota se-Jateng dalam Workshop Workshop "Optimalisasi Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf Produktif Angkatan II yang diselenggarakan Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah, di Hotel Muria, Semarang, Selasa, (4/11/2014).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo ini menyatakan, mayoritas aset masjid, baik berupa tanah maupun bangunan, tidak dikelola secara produktif alias dibiarkan saja sebagai harta tak bergerak. Dia mengutip data Kemenag RI, di tahun 2008 ada tanah wakaf masjid seluas 1,6 milyar meter persegi, dan menjadi 3,49 milyar meter persegi pada 2012. Aset seluas itu,? hanya 34 persen yang telah dikelola secara produktif. ?

Apabila dirupiahkan, 3,49 miliar meter persegi yang berada di 420.003 titik itu dengan asumsi harga tanah hanya Rp100 ribu per meter persegi, nilainya mencapai Rp 349 triliun.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Inilah sebabnya kita perlu mengajak seluruh nazhir masjid berpikir soal bisnis dan ekonomi," tuturnya.

Ia tambahkan, wakaf selain tanah juga bisa digali dari umat Islam. Yaitu wakaf uang yang saat ini sudah ditampung dalam Tabungan Wakaf Indonesia (TWI) dan wakaf berupa saham (surat berharga). Potensi dari wakaf non tanah ini, menurutnya, mencapai Rp 4 triliun per tahun.

Disebutkannya, kelemahan umum umat Islam adalah kurangnya ilmu manajemen dan kurangnya profesioanlitas dalam urusan dunia. Rata-rata takmir atau nazhir masjid adalah orang-orang berjiwa ikhlas yang pikirannya hanya dipenuhi soal pahala dan sorga, tentang kehidupan akhirat. Kalaupun memproduktifkan bandha masjid, sekedar membuka toko atau menyewakan tanah, sambil berharap usaha itu berkembang. Tanpa manajemen yang profesional.

"Yang dibutuhkan adalah ilmu manajemen. Jadi harus profesional jika ingin produktif. Tidak asal-asalan," ujarnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Perlu Kemitraan

Muhyar menyadari, tidak realistik apabila mendorong para nazhir masjid melakukan usaha itu sendirian. Yang paling mungkin adalah mendorong mereka bermitra dengan pebisnis, atau merekrut orang yang ahli bisnis menjadi pengelola wakaf masjid. Dan dalam kemitraan itu memakai asas bisnis profesional. Yakni dengan perjanjian yang jelas, dengan aturan hak dan kewajiban yang rinci dan terukur.

"Nazhir perlu bermitra dengan pebisnis yang terpercaya. Karena tidak realistis jika kita mendorong nazhir mengelola usaha sendiri. Kecuali memang mereka yang punya keahlian itu," tandasnya.

Hal itu menurutnya, sesuai dengan UU nomor 41 tahun 2004 tentang Perwakafan. Terlebih, lanjutnya, UU ini juga mengatur tentang perlunya memberi tunjangan kesejahteraan kepada nazhir masjid.

Ia jelaskan, ciri-ciri sebuah wakaf telah produktif adalah apabila memenuhi tiga hal. Yaitu semua pembiayaan dilakukan dalam bingkai proyek, kesejahteraan nazhir diperhatikan, dan asas akuntabilitas dan transparansi dipraktekkan.

Karena itu, kata dia, nazhir masjid haruslah orang yang kreatif, tekun dan cakap. Ini sebagai syarat tambahan selain keimanan dan akhlaknya. Dan untuk itu, memang harus mendorong perubahan cara kerja nadzhir. Jika selama ini 92 persen menjadi nazhir sebagai sambilan, diubah menjadi nazhir penuh dan terlembagakan. Tidak perorangan.

Muhyar menyayangkan acara tersebut tidak menghadirkan pemateri dari praktisi bisnis atau motivator. Dia mengritik pihak Kemenag masih berpikir seperti umumnya takmir masjid. Membahas tentang perekonomian, tetapi yang dihadirkan ulama semua. Ahli fiqih dan ahli ibadah semua.

"Mestinya workhsop ini menghadirkan pembicara dari praktisi bisnis dan motivator. Semisal Tung Desem Waringin, Andrie Wongso dan semacamnya. Padahal ini sudah angkatan ke-2. Mestinya pembicaranya jangan ahli agama semua," pungkas dia.

Dalam jadwal workshop tersebut, tertera para pembicara selain Muhyar Fanani adalah H. Ahmad Furqon Lc MAg, Dr H Ayoeb Amin MAg, Ahmad Arif Budiman MAg, dan Prof. Dr. HM Ali Mansyur Mhum. Sedangkan para moderator, seluruhnya adalah para pegarai Kanwil Kemenag Jateng. [ichwan/Abdullah]

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Internasional, Syariah, Anti Hoax Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 17 Juli 2017

Haul Ke-44 Mbah Wahab Diramaikan Ribuan Jamaah Ishari

Jombang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang kembali menggelar haul pendiri dan penggerak NU, KH Abdul Wahab Chasbullah. Haul Mbah Wahab ke-44 dimeriahkan penampilan ribuah jamaah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) se-Jatim.

"Setiap haul (Mbah Wahab) memang selalu ada hadrah Ishari, begitu pula dengan dalam pengitan ke-44 sekarang, ada sebanyak 3000 yang kita undang. Karena beliau memang gemar dengan seni hadrah," tutur KH Hasib Wahab, salah satu putra pendiri NU ini.

Haul Ke-44 Mbah Wahab Diramaikan Ribuan Jamaah Ishari (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Ke-44 Mbah Wahab Diramaikan Ribuan Jamaah Ishari (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Ke-44 Mbah Wahab Diramaikan Ribuan Jamaah Ishari

Gus Hasib, begitu ia biasa dipanggil, menambahkan Ishari didirikan oleh Mbah Wahab untuk mengakomodasi kesenian umat muslim, yakni hadrah dari beberapa daerah di antaranya Bangil dan Pasuruan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia menceritakan bahwa semasa hidup, Kiai Wahab sangat senang hadrah. "Bahkan kalau sedang tidak ada kegiatan, tangan beliau terlihat memukul-mukul tangan, seperti isyarat memukul terbang hadrah, sambil melagukan bacaan shalawat," tandasnya bercerita.

Hadrah Ishari merupakan seni dengan bacaan shalawat, lagu, gerakan roddat, pukulan rebana, dan bunyian keplok tangan. Seni hadrah ini terlihat sangat indah ditampilkan bersama ribuan jamaahnya yang lengkap memakai seragam. Sedangkan beberapa orang bertugas memukul alat musik bernama “terbang” di atas panggung.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam catatan sejarah, jamiyyah yang awalnya bernama seni hadrah ini resmi berganti nama menjadi Ishari yaitu pada tanggal 15 Rajab 1378 H / 23 Januari 1959. Atas perintah Rais Aam PBNU KH Abdul Wahab Hasbullah, pada Tahun 1961 Ishari diputuskan menjadi salah satu badan otonom di organisasi NU.

Gus Hasib menambahkan, bahwa kesenian hadrah yang tergabung dalam Ishari didirikan salah satunya untuk menandingi kesenian PKI, Lekra waktu itu. "Mbah Wahab kemudian menyampaikan ke Presiden Soekarno, dan presiden setuju, akhirnya hadrah itu diberi nama Ishari ini," pungkas KH Hasib Wahab yang kini masuk salah satu Ketua PBNU hasil Muktamar Ke-33 NU Jombang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 16 Juli 2017

Berebut Gus Dur

Siapa yang tak kenal Gus Dur? Tentunya Gus Dur pasca dipilih menjadi presiden Republik Indonesia. Sebagaimana saya sebelum nyantri ke Lirboyo, saya tak pernah kenal Gus Dur, kecuali beberapa kali mendengar nama beliau melalui paman saya. Paman saya itu termasuk “fans” berat Gus Dur itu kerap kali membincangnya.

Saat menapaki sekolah di jenjang SMA, saya juga memiliki seorang kawan yang merupakan penggemar berat Gus Dur. Bahkan dia kerap kali berdebat dengan guru-guru di sekolah yang kadang kala menyindir Gus Dur yang katanya kontroversial itu.

Berebut Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Berebut Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Berebut Gus Dur

Singkatnya, saya kenal lebih jauh dengan sosok Gus Dur ketika menginjakkan kaki ke Jakarta dan sempat singgah untuk “tabarrukan” kepada beliau di pondok pesantren Ciganjur pada bulan Ramadan tahun 2009, beberapa bulan sebelum beliau “mangkat” ke rahmatullah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berebut Gus Dur

Gus Dur ibarat “teks” yang diperebut-tafsirkan oleh banyak akademisi. Mereka saling berebut untuk menelaah pemikiran-pemikirannya sekaligus “meringkusnya” ke dalam sebuah label tertentu. Gus Dur sufi, Gus Dur Humanis, bahkan SBY pun tak ketinggalan memberi label Gus Dur sebagai bapak pluralis adalah sederet contoh terbaik dalam membuktikan betapa pemikiran, tindakan, dan ucapan-ucapan Gus Dur ditafsirkan oleh sejumlah orang.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di sisi lain masyarakat awam tidak mau ketinggalan, mereka juga berebut Gus Dur dan menjadikannya sebagai figur yang harus diziarahin layaknya ziarah ke para wali.

Di lain pihak, para kritikus-kritikusnya pun tidak tinggal diam. Mereka –hingga kini—masih sibuk menghakim-hukumi Gus Dur sebagai bapak liberal, sesat, dll. Sebagaimana yang lain, penulis yang kebetulan pernah belajar tentang hadis –meski belum begitu paham tentang hadis-- juga tak ingin ketinggalan untuk membaca dan sedikit mengulas pemikiran Gus Dur dalam kajian hadis.

Gus Dur dan Kajian Hadis Orientalis

Dalam tulisan ini penulis ingin mengangkat sebuah tema yang menurut hemat penulis tidak banyak –untuk tidak mengatakan belum pernah- ditemukan tentang jasa Gus Dur dalam membumikan wacana kritik hadisnya Prof. Dr. MM. Azami.

Prof. Dr. Azami, ulama kelahiran kota Mano, Azamgarh Uttar Pradesh, India Utara, pada tahun 1932. Ia menulis disertasi berjudul “Studies in Early Hadith Literature with a Critical Edition of Some Early Texts” atau dalam versi Arabnya bertitel “Dirasat fi al-Hadis al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih”.

Melalui buku ini, Gus Dur memperkenalkan pemikian dan sumbangsih Azami ke Indonesia. Dalam hal ini Gus Dur sempat menulis artikel panjang berjudul, “Sumbangan MM Azami Terhadap Penyelidikan Hadis”

Dalam tulisan itu, Gus Dur mengemukakan gagasan-gagasan Azami terkait dengan orisinalitas hadis-hadis Nabi yang sebelumnya diragukan bahkan diyakini palsu oleh sejumlah orientalis semisal Goldziher, Joseph Schacht dan lainnya.

Gus Dur mengapresiasi usaha yang telah dilakukan oleh Azami dalam hal pembuktian-pembuktian filologis terkait kebermulaan hadis, otentisitas hadis, dan lain sebagainya. Gus Dur juga mengamini tesis Azami tentang kesalahan para sarjana Barat dalam memahami makna tadwin hadis (kodifikasi hadis) yang dipahami oleh para orientalis sebagai penulisan hadis.

Kendati demikian, Gus Dur juga memberikan catatan atas kerja intelektual yang telah dilakukan oleh Azami ini. Gus Dur menyatakan;

Studi yang telah dilakukan oleh Azami sebenarnya masih bersifat terbatas. Masih banyak hal-hal yang belum disinggungnya, sehingga ia sendiri masih menggunakan rekaan-rekaan para orientalisten dalam hal-hal tersebut, dengan tidak melakukan testing sama sekali atasnya.

Adalah kewajiban ilmiyah kita semua untuk membantunya menyiangi pendapat-pendapat yang belum terbukti kebenarannya dalam lapangan penyelidikan masing-masing. (Abdurrahman Wahid, Sumbangan MM Azami Terhadap Penyelidikan Hadis, 1987)

Dari makalah panjang Gus Dur itu, saya benar-benar semakin yakin bahwa Gus Dur adalah seorang sarjana yang multidisipliner. Beliau menguasai hampir berbagai disiplin keilmuan. Dalam hal Azami ini, saya teringat dengan guru saya (murid beliau di Tebu Ireng) bahwa di tahun 80-an Gus Dur sudah membawa gagasan-gagasan Hadisnya Azami yang pada waktu itu saya sebagai mahasiswa tidak mengerti apa yang Gus Dur sampaikan. Kemudian beberapa tahun kemudian barulah saya mengerti apa yang dimaksudkan olehnya.

Gus Dur, engkau adalah kereta super cepat yang bergerak secepat kilat, sementara saya masih menikmati kereta ekonomi. Al-Fatihah!! Wallahu A’lam. (Muhammad Idris Masudi)

Ciganjur, jelang senja 12-19-2013

Dalam rangka peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan memuat tulisan anak-anak muda tentangnya. Setiap hari akan dimuat satu tulisan. Jika ingin turut berpartisipasi, sila kirim tulisan Anda ke redaksi@nu.or.id.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah News Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Jelaskan Sistem Pendidikan Pesantren

Ciamis, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah KH Irfa’i Nachrowi menjelaskan jatidiri pondok pesantrennya yang bernama Kasepuhan Qasrul Arifan Atas Angin di perbukitan Sarok Landeuh, Desa Darmacaang, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Jelaskan Sistem Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Jelaskan Sistem Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Jelaskan Sistem Pendidikan Pesantren

Menurut dia, sistem di pondok tidak seperti di sekolahan. Pondoknya dalam istilah Jawa disebut “pondok sepuh”. “Kegiatan rutinnya pada bulan Muharam dan Rajab. Kegiatannya adalah riyadhoh atau mujahadah,” jelasnya di kediamannya ketika menerima tamu anggota DPR RI Fahri Hamzah, Rabu (10/8).

Riyadhoh, tambah kiai yang juga tercatat di kepengurusan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabaroh An-Nahdliyah (JATMAN), adalah pendidikan berbasis praktik, bukan teori. Di sini, bukan apa itu ikhlas, tetapi bagaimana ikhlas itu? “Bagaimana ikhlas itu adalah kamu saya suruh buka ini hutan,” katanya. Pondoknya memang terletak di atas gunung. Dialah yang “membabad alas” gunung itu untuk perkebunan sekitar 25 hektar yang di dalamnya ada pesantren.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Soal waktu, lanjutnya, pendidikan di pesantren tidak seperti sekolah. Waktu dalam pendidikan pesantren itu relatif. “Tidak ada ukuran jarak waktu dan kekuatan yang harus dimiliki. Ada yang bisa selesai dalam hitungan jam, hitungan hari, hitungan tahun. Bahkan ada yang sampai habis umurnya tidak selesai-selesai,” tambahnya.

Lebih lanjut Mustasyar PCNU Kabupaten Ciamis tersebut menjelaskan tentang manusia. Menurut dia, turunnya kualitas manusia, karena rasio ditunggangi emosi dan nafsu. Rasio itu seharusnya mengendarai nafsu dibawah kendali nurani. Perangkat nurani inilah yang bisa kontak sambung ke Allah. Nuranilah yang harus memimpin rasio.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Maka ada fase nafsu dalam Tarekat Naqsyabandi. Dalam tahap ini murid harus belajar kepada Nabi Adam. Tingkatan pertama adalah latihan menghadapi nafsu amarah atau kebinatangan dalam diri. Di sini ada ego manusia yg harus dikendarai manusia, bukan sebaliknya manusia dikendarai ego.

Turunnya grafik ego otomatis naiknya sifat kebapakan atau leadership dalam diri sebagaimana sifat kebapakan Nabi Adam. Bila sifat kebapakan ini dominan dalam diri, maka akan memunculkan simpati orang yang ada di sekitar kita.

Kepada anggota DPR RI itu Kiai Irfa’i mengatakan, hidup ini adalah sandiwara, maka bersandiwaralah dengan baik. Menurut dia, sandiwara itu bisa dikatakan politik atau siyasah.

“Sandiwara itu kalau dihaluskan lagi bahasanya menjadi politik atau siyasah. Dalam menjalankan sandiwara tidak perlu kita mengikuti cara bersandiwara orang kafir; bersandiwaralah dengan cara yang diajarkan Islam,” tutup Rais Syuriyah Ranting NU Darmacaang ini. (Hakim Zayyan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU, Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 14 Juli 2017

Kalteng Dikepung Asap, LPBI NU Bagikan 11 Ribu Masker

Palangkaraya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah . Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) membagikan 11.000 masker kepada warga terdampak asap di Kalimantan Tengah, 22-23 September 2015. Aksi kemanusiaan ini dilakukan di tiga titik, yaitu Puntun, Kelampangan, dan Menteng. Tiga daerah tersebut berada di wilayah Palangkaraya.

Pembagian masker dilakukan berdasarkan hasil kajian atau assessment yang dilakukan oleh relawan LPBI NU Kalimantan Tengah. Relawan LPBI NU Kalimantan Tengah berharap langkah ini bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan kabut asap yang sudah hampir satu bulan menyelimuti Kalimantan Tengah.

Kalteng Dikepung Asap, LPBI NU Bagikan 11 Ribu Masker (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalteng Dikepung Asap, LPBI NU Bagikan 11 Ribu Masker (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalteng Dikepung Asap, LPBI NU Bagikan 11 Ribu Masker

Pengurus dan relawan LPBI NU Kalimantan Tengah juga melakukan kampanye lingkungan hidup dengan memasang puluhan spanduk berisi imbauan untuk menghentikan pembakaran hutan dan lahan. LPBI NU mengajak masyarakat untuk memelihara kelestarian lingkungan di beberapa titik strategis di wilayah Palangkaraya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lain ini melanda wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kabut asap juga menyebar ke sejumlah daerah di sekitar enam provinsi tersebut. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat ada 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan. Dari 156 titik tersebut, 95 titik di Sumatera dan 61 titik di Kalimantan.

Perlu Penanganan Serius

Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setidaknya sebanyak 25,6 juta jiwa terpapar dan tersebar di Sumatera dan Kalimantan. BNPB menaksir kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015 ini lebih dari Rp 20 triliun. Kerugian tersebut mulai dari kerusakan lingkungan, terhambatnya kegiatan ekonomi, hingga terganggunya kesehatan masyarakat.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua LPBI NU Kalimantan Tengah Awaludin Noer mengatakan, kabut asap yang melanda Kalimantan Tengah menyebabkan kesehatan masyarakat terganggu karena kualitas udara sangat menurun. Selain itu, kabut asap juga berdampak pada berbagai aspek kehidupan, terutama ekonomi dan lingkungan.

Menurutnya, saat ini masyarakat Kalimantan Tengah sangat membutuhkan masker untuk mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan oleh kabut asap. Bantuan masker dari LPBI NU, imbuhnya, sangat bermanfaat bagi masyarakat Kalimantan Tengah yang setiap hari melakukan aktivitas di tengah kepungan asap.

Sementara itu menurut Ketua PP LPBI NU M. Ali Yusuf, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi berulang selama puluhan tahun ini menunjukkan bahwa perlu segera ada upaya penanganan yang lebih serius dan menyentuh persoalan yang mendasar di antaranya penegakan hukum.

LPBI NU mengajak kepada Pemerintah, masyarakat dan seluruh pihak untuk segera merumuskan upaya untuk mengurangi risiko bencana karhutla dan tidak fokus penanganan darurat semata agar peristiwa yang sangat merugikan seperti sekarang ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 13 Juli 2017

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) berpandangan, kemajuan ilmu pengetahuan di bidang astronomi dan ilmu hisab diperoleh dari hasil kegiatan rukyat atau observasi benda-benda langit. Rukyat yang berkelanjutan terus mengawal proses peningkatan temuan mutakhir hingga nyaris sempurna. Untuk seterusnya, selain sebagai muasal, rukyat sekaligus menjadi sarana koreksi bagi metode hisab.

Menurut Pengurus Pusat LFNU KH A Ghazalie Masroeri, dalam penentuan awal bulan Qomariyah metode hisab digunakan NU sebagai pendukung. Posisi ini dilakukan untuk menghasilkan rukyat yang berkualitas. Ilmu hisab akan kian maju dan akurat ketika penyokong utamanya adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal atau rukyat.

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU: Rukyat, Muasal dan Sarana Koreksi Metode Hisab

“Rukyat dan hisab laksana dua sisi keping mata uang.  Dan temuan-temuan yang diperoleh melalui rukyat itu menjadi sarana koreksi terhadap hitungan hisab,” tuturnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Keputusan LFNU dalam banyak hal telah melibatkan metode hisab baik tentang ketentuan kalender Qamariyah maupun jadwal shalat. Bahkan, selain berjibaku dengan penghitungan rumit itu, LFNU menfungsikan sejumlah perangkat canggih untuk menyempurnakan tingkat akurasi kesimpulan yang diambil.

Seperti diketahui, LFNU telah merancang, merakit, dan memproduksi sebuah instalasi observatorium keliling (al-marshadu al-falaki al-jauli) atau dikenal dengan sebutan NUMO (NU Mobile Observatory, sekaligus singkatan dari Nusantara Mobile Observatory).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

NUMO dilengkapi alat-alat tradisional dan modern, dapat berpindah tempat, serta berfungsi untuk ruyat awal bulan, rukyat bulan tua, observasi manzilah bulan, dan observasi benda-benda langit lainnya, seperti matahari, merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, gugus bintang, bright nebula, dan meteor.

Redaktur    : Mukafi NIam

Kontributor: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Kyai Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa shalat Jumat di jalan raya tidak sah, bahkan bisa haram jika menggangu ketertiban umum dan masalah sosial.

"NU melalui Lembaga Bahtsul Masail sudah mengeluarkan fatwa, Jumatan di jalan tidak sah," ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj saat memberikan sambutan dalam Kongres ke-17 Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (24/11).

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah

(Baca: Ini Pandangan Fiqih PBNU Soal Shalat Jumat di Jalanan)

Kiai Said menjelaskan kembali kepada awak media usai memberikan sambutan bahwa fatwa itu didasarkan pada kajian kiai dan ulama NU selama beberapa waktu terakhir. Para ulama dan kiai NU mendasarkan fatwa itu kepada mazhab Imam Besar Syafii dan Maliki.

"Madzhab Maliki dan Syafii itu kalau imamnya di masjid, makmumnya keluar-keluar di jalan enggak apa-apa, tetapi kalau sengaja keluar rumah mau shalat Jumat di jalanan, shalatnya enggak sah," tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut kedua madzhab tersebut, lanjutnya, Jumatan harus di dalam bangunan yang sudah diniati untuk shalat Jumat di sebuah kota atau desa. Madzhab tersebut patut diterapkan di Indonesia saat ini. Sebab, jika shalat dilakukan di sembarang tempat, apalagi di tempat umum, mengurangi kekhusyukan ibadah itu sendiri sekaligus mengganggu ketertiban umum.

Seperti diinformasikan, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) akan menggelar Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016. Mereka kembali melakukan aksi tersebut karena Gubernur DKI Jakarta Nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sampai saat ini belum ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka. (Fathoni)?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Doa, Syariah, Kajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah