Jumat, 26 Januari 2018

PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013

Mataram, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menghentikan Kurikulum 2013 karena dinilai sangat memberatkan peserta didik.

"Saya sendiri saja mengaku bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 sangat kacau dan memberatkan anak didik. Untuk itu, saya sangat setuju kalau itu dihentikan," tegas Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj di Mataram, Sabtu.

PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013

Said Aqil berharap pemerintah segera melakukan perbaikan, demi kebaikan dunia pendidikan Indonesia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Rasyid Baswedan memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di seluruh Indonesia untuk disempurnakan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Proses penyempurnaan Kurikulum 2013 tidak berhenti, akan diperbaiki dan dikembangkan, serta dilaksanakan di sekolah-sekolah percontohan yang selama ini telah menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester terakhir," kata Anies Baswedan di Jakarta, kemarin. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berita, Ahlussunnah, Kyai Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Grebek Suro” Tawangsari Peringati Perjuangan KH Abu Manshur

Tulungagung, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Tawangsari Tulungagung menggelar Grebek Suro" pada Selasa (13/10) siang. Kegiatan tersebut sebagai peringatan atas jasa dan perjuangan KH Abu Manshur, ulama besar pada kerajaan Mataram Islam (abad ke-18) yang terkenal ahli bela diri pencak silat.

“Grebek Suro” Tawangsari Peringati Perjuangan KH Abu Manshur (Sumber Gambar : Nu Online)
“Grebek Suro” Tawangsari Peringati Perjuangan KH Abu Manshur (Sumber Gambar : Nu Online)

“Grebek Suro” Tawangsari Peringati Perjuangan KH Abu Manshur

KH Abu Manshur ketika kecil bernama R. Qosim RM. Tolo Diponegoro. Ia adalah putra dari Prabu Amangkurat IV (Amangkurat Jawi/ RM Suryaputra putra dari Paku Buwana I) yang lahir pada tahun 1711 dari Ibu yang bernama Bandondari putri Adipati Kudus.

Sepeninggal Prabu Amangkurat IV tahta Kasunanan Kartasura diserahkan kepada putranya yang bernama RM Prabayasa (Sunan Paku Buwana II). Sedangkan KH Abu Manshur atau R. Qosim lebih tertarik pada ilmu keagamaan. Ia meninggalkan keraton dan memperdalam ilmu agama di sebuah pesantren di Tegalsari Ponorogo yang diasuh Kiai Kasan Besari.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di pesantren itu R. Qosim menyamar sebagai orang biasa supaya diperlakukan selayaknya murid pada umumnya. Meski demikian Kiai Kasan Besari menilai R. Qosim berbeda dari murid lainnya. Ia cerdas dan cepat menguasai ilmu yang diajarkan. Sehingga ia menaruh simpati dan mencuriganya sebagai keturunan bangsawan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketika R. Qosim merasa mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk mengembangkan agama Islam, dengan jiwa kemandiriannya, mencari daerah yang kondusif sebagai tempat berdakwah.

Atas saran Kiai Kasan Besari, R. Qosim berjuang di wilayah timur Ponorogo, yaitu Ngrowo, tepatnya di daerah "Tawangsari". Untuk memperlancar tujuan berdakwah, ia mendirikan masjid dan pondok. Selain diajari ilmu agama, murid-muridnya diajari ilmu kanuragan atau pencak silat yang berguna untuk melawan kaum penjajah (VOC).

Seiring dengan berkembangnya Tawangsari sebagai pusat keagamaan, R. Qosim berganti nama menjadi "Abu Manshur".

Melihat potensi dari R.Qosim, Kiai Kasan Besari menjodohkannya dengan putri dari muridnya yang sudah tersohor dari Sewulan Madiun, yakni Kiai Bagus Harun Basyariyah (putra R. Nolojoyo, keturunan P. Sutowijoyo/Panembahan Senopati (Senopati Mataram Islam).

Kiai Bagus Harun bersedia mengangkat R. Qosim sebagai menantunya, menikahkannya putri dengan R.A Fatimah (bergelar Nyai Lidah Item). Jadi antara R. Qosim dan RA. Fatimah, keduanya masih satu garis keturunan Panembahan Senopati.

Bersama istrinya, R. Qosim meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam di Tawangsari. Untuk memperkuat kedudukan dalam berdakwah dan berjuang melawan penjajah khususnya wilayah timur, ia mendapatkan layang kekancingan piagam:

1. Layang kekancingan dari Sunan Paku Buwono II pada tahun 1746 M

2. Layang kekancingan dari Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1750 M, dan dipinjami pusaka keraton yaitu "Kiai Banteng Wulung" karena setelah perjanjian Giyanti Tawangsari masuk kedalam kekuasaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Bukti Sejarah

1. Adanya "layang kekancingan" untuk desa Tawangsari dari Sri Sultan Hamengkubuwono I seperti, desa-desa perdikan lain, seperti Tegalsari, Banjarsari, Sewulan dan daerah lainnya

2. Disebutkannya kata "Merdiko" 2 (dua) kali, yang bermakna "penguasa" dan "pemerintahan sendiri yang merdeka"

3. Adanya bangunan masjid yang berarsitektur masjid di lingkungan kraton

4. Terdapatanya tulisan di Nisan "Bendoro Raden Ayu Tulungagung Kang Sapisan" di kompleks pemakaman keluarga Kanjeng Kiai Abu Manshur. Ia adalah Ray. Sulastri, merujuk sejarah Babad Tulungagung yang menyebutkan bahwa daerah perdikan Tawangsari pernah dikunjungi raja.

Jasa-jasa KH Abu Manshur

1. Membangun Alun-alun sebagai pusat kota Tulungagung

2. Membantu mempertahankan wilayah dari pemberontak dan penjajah

3. Membentuk masyarakat berpikiran kreatif, membekalinya dengan ilmu agama dan ilmu kanuragan. Sehingga Tawangsari menjadi daerah yang aman tenteram dan agamis.

Selain memperingati jasa KH Abu Manshur, kegiatan yang diprakarsai R. Ngt. H. Siti Fatimah dengan menggandeng Muslimat NU Ranting Tawangsari, PKK, dan Kerukunan Warga setempat, tersebut sebagai perayaan Tahun Baru 1437 H.

Grebek Suro diselenggarakan dua hari. Pada hari pertama dimeriahkan pawai kebudayaan, KRA Asmaradhana dan kirab santri-santri Zumrotussalamah dari pendopo Tanah Kamardikan Tawangsari. Kegiatan sebagai menyambut tahun baru 1 Muharram 1437 H tersebut diikuti 600 lebih partisipan.

Menurut R.Ngt. H. Siti Fatimah kegiatan tersebut adalah meneruskan perjuangan para leluhur, terutama KH Abu IManshur dalam menegakkan agama Islam sesuai konteksnya. “Artinya, Islam menerima kebudayaan sebagai instrumen pelengkap dalam berdakwah, tidak malah sebaliknya," tutur keturunan KH Abu Manshur tersebut. (Sabda Palon/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Humor Islam, Tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bukti NU Tidak Hanya Berkutat Urusi Agama

Brebes, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua PC NU Brebes H Athoillah Syatori memandang, peringatan Hari Santri Nasional (HSN) membuktikan kalau kaum santri tidak melulu mengurusi persoalan agama saja. Tetapi, justru menyangkut kepentingan bela negara, nasionalisme yang berlandaskan agama.?

Hari Santri, kata Athoillah, telah membuktikan bahwa kaum nahdliyin (warga NU) tidak memiliki keraguan dalam jihad. Karena justru kelahiran Hari Santri Nasional telah mengingatkan kepada kita kalau para kiai dan santrinya menitahkan Resolusi Jihad sebagai embrio perebutan kembali NKRI pada 10 November 1945 dari penjajah yang ingin menguasai kembali Ibu Pertiwi.?

Bukti NU Tidak Hanya Berkutat Urusi Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukti NU Tidak Hanya Berkutat Urusi Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukti NU Tidak Hanya Berkutat Urusi Agama

Semangat Hari Santri, lanjutnya, saat ini harus diejawantahkan dengan terus berjuang, belajar dengan semangat guna mengisi kemerdekaan. Tantangan era kini, juga masih banyak untuk itu jangan tinggal diam karena penjajahan yang terjadi sekarang bentuknya berbeda yang kadang tidak terlihat seperti melalui tontonan, teknologi komunikasi, narkoba, dan terorisme.

Atho turut bangga dengan peningkatan jumlah santri yang signifikan diera kini. Karena disamping ada dorongan dari orang tua, juga perhatian pemerintah yang semakin meningkat terhadap pondok pesantren. “Jumlah santri kini jumlahnya semakin menggembirakan, terutama di pondok pesantren yang memadukan dengan pendidikan formal. Tapi untuk pondok pesantren yang tidak ada pendidikan fiormalnyanya ? masih stagnan,” katany di gedung PCNU Jalan Yos Sudarso Kamis (20/10) malam..?

Ketua Panitia Hari Santri Nasional Kabupaten Brebes H Musafa menjelaskan, HSN yang digawangi PCNU Brebes akan menyelenggarakan berbagai kegiatan. Antara lain Ikrar Santri Indonesia yang diikuti lebih dari 7 ribu santri di Pesantren Al Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes pada Sabtu (22/10) jam 09.00.

Selanjutnya pukul 10.00, donor darah di PCNU. Kemudian pukul 13.00 Kirab hari santri dengan star di halaman masjid Al Ittihaj Jatibarang sampai Pondok pesantren Darussalam Jatibarang Kidul yang diikuti 3000 santri. Sesampainya di Darussalam, dilanjut istighosah, shAlat ashar berjamaah. Istighosah dipimpin SyeKh Sholeh Basalamah, Kiai Mansyur, Syeh Said hingga menjelang shAlat Maghirb. Disamping itu, pembacaan Shalawat Nariyah 1 miliar, akan dilangsungkan di gedung PCNU Brebes.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rangkaian berikutnya, pada Ahad (23/10) jam 09.00 digelar halaqoh kebangsaan dengan tema wahabi dan terorismen di Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Brebes. Pembicara KH Arwami Saeroji Rektor Mahad Aly Al Hikamus Salafiyah Cirebon yang juga aktivis Muda NU. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, AlaSantri, Daerah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalai Lama: Jangan Tuding Muslim Teroris, Semua Agama Punya Orang Jahat

Washington DC, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, menyebut pembantaian di klub malam gay di Orlando, Florida, AS yang menewaskan 50 orang adalah ‘tragedi sangat serius’.

Dalai Lama juga mengatakan, adalah salah besar jika menilai semua Muslim sebagai teroris potensial. Semua agama ada beberapa pengikutnya yang jahat dan pengacau.

Dalai Lama: Jangan Tuding Muslim Teroris, Semua Agama Punya Orang Jahat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalai Lama: Jangan Tuding Muslim Teroris, Semua Agama Punya Orang Jahat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalai Lama: Jangan Tuding Muslim Teroris, Semua Agama Punya Orang Jahat

Pemimpin spiritual Tiber itu seperti hendak menyindir kandidat Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, yang terkesan anti imigran dan Islam.

Dalam laporannya pada Selasa (14/6), Reuters menyebutkan, Dalai Lama dimintai pandangannya tentang kasus Orlando dan larangan Trump untuk imigran Muslim masuk AS.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Dalai Lama, Trump mempunyai hak mengeluarkan pendapat. Namun, ia mengatakan, pandangan kandidat Presiden AS itu harus dipersoalkan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalai Lama mengatakan, jika dia mempunyai kesempatan, dia akan meminta penjelasan Trump “Apa alasannya? Lebih terinci.”

Pasca serangan di Orlando, Florida, Trump kembali mengemukakan gagasan kontroversialnya yakni membangun tembok pembatas, melarang imigran dan Muslim masuk ke AS.

Dalam setiap komunitas agama, kata Dalai Lama, termasuk agama Buddha, “ada beberapa orang jahat.”

“Namun, Anda tidak bisa menggeneralisasi,” katanya.

"Beberapa individu Muslim melakukan aksi teror, tetapi kita tidak bisa mengatakan semua Muslim itu teroris. Saya pastikan itu adalah pandangan yang salah.”

Lima puluh orang, termasuk pria penyerang, tewas dalam insiden penembakan di klub malam Orlando, pada Minggu (12/6/2016) dini hari.

Penembakan massal itu terburuk dalam sejarah AS. (Kompas/Masdar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam, Tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo

Purworejo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Terinspirasi lagu Iwan Fals, Sofyan Rizali Zain mengajak rekan-rekannya untuk memanfaatkan pekarangan rumah kontrakan yang juga merupakan kantor Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Lahan pekarangan samping rumah hijau yang berada di jalan sibak nomer 18 Pangen Jurutengah Purworejo itu tak lagi penuh dengan sampah. Pekarangan tersebut kini bersih bahkan hijau karena telah ditanami tanaman cabe rawit setan dengan menggunakan kantong plastik (polybag) dan adapula yang langsung ditanam ditanah.

Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo

Sofyan yang juga merupakan Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo mengatakan, sedikitnya ada 12 anak yang tinggal dikantornya. Mayoritas adalah mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Purworejo. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Disela-sela kesibukan kuliah dan beraktifitas di organisasi saya mengajak mereka untuk mengolah lingkungan sekitar dengan belajar menanam cabe. Kedepan rencananya akan ditambah beberapa jenis sayur-sayuran yang lain seperti terong dan tomat,” terang fans berat Iwan Fals tersebut Rabu pekan lalu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sofyan menambahkan, ide mengolah pekarangan tersebut sebenarnya datang dengan tiba-tiba yaitu saat mendengarkan lagu Iwan Fals yang berjudul “Tanam-tanam Siram-siram” dan “Pohon Kehidupan”. Setelah mendengarkan lagu tersebut kemudian ia tergugah dan mulai mengajak teman-temannya untuk berdiskusi tentang pemanfaatan lahan dilingkungan.

“Dari diskusi itulah kemudian tercetus ide untuk menanam cabe sebagai percobaan. Apalagi informasi dari berbagai media bahwa dunia saat ini mulai mengalami krisis biji-bijian. Jadi mau tidak mau, walaupun sedikit pekarangan harus tetap diolah,” ucapnya.

Setelah semua sepakat, kemudian ia meminta salah satu rekan yang kebetulan juga memiliki pengalaman menanam cabe dan berhasil di daerahnya. Karena selain untuk mengisi waktu luang penghuni kontrakan, Sofyan berharap pekarangan hijau garapannya menjadi laboratorium bercocok tanam bagi rekan-rekannya.

“Kita niati untuk belajar, siapa tahu setelah kuliah selesai, pengalaman menanam cabe dengan teknik yang benar menjadi pelajaran mereka untuk ditekuni di daerahnya masing-masing,” tandasnya.

Lebih lanjut Sofyan mengatakan, kegiatan menghijaukan pekarangan ini akan terus dikampanyekan kepada kader-kader, saudara dan teman-temannya. Ia membayangkan jika setiap pekarangan rumah ditanami sayur-sayuran paling tidak akan terjadi penghematan yang luar biasa.

“Terus terang saya prihatin dengan perilaku pola hidup masyarakat yang cukup boros. Kalau bisa menanam, ngapain harus beli. Seandainya mereka mau menanam tiga polybag cabe, kenaikan harga cabe yang terjadi beberapa waktu yang lalu tidak akan meresahkan masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, Asrul Hadi (25) warga Hardimulyo Kecamatan Kaligesing, seorang petani cabe yang menjadi tutor penanaman cabe tersebut mengatakan, langkah yang ditempuh oleh mahasiswa yang berupaya menghijaukan pekarangannya tersebut sangat positif.

“Meski mereka belum berpikir tentang hasil secara ekonomi, karena lahannya yang terbatas namun seandainya ditekuni saya yakin akan menjadi penghasilan sampingan bagi mereka.”katanya.

Asrul mengaku untuk sementara kendala yang dihadapi adalah sempitnya lahan. Selain itu, mencari tanah yang subur untuk mengisi polybag juga agak sulit karene kebetulan berada di wlayah perkotaan.

“Berbeda dengan menanam di desa yang bisa minta kepada tetangga. Kalau disini semuanya harus membeli, sehingga kos produksinya menjadi tinggi,”ucapnya. (Lukman Hakim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Internasional, Ahlussunnah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Muslimat NU Jember Peduli Gempa Aceh

Jember, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Aceh masih menangis. Jeritan pilu korban gempa di bumi serambi mekah itu, tampaknya memantik simpati para Muslimat NU Jember. Simpati tersebut ditunjukkan dengan mengumpulkan dana untuk para korban.

Menurut Ketua PC Muslimat NU Jember, Nyai Hj. Emi Kusminarni, sesuai dengan instruksi PW Muslimat NU Jawa Timur untuk berpartisipasi dalam pengumpulan dana gempa Aceh, pihaknya sedang mengumpulkan uang dari warga, khususnya muslimat NU, simpatisan dan sebagainya.

Untuk tahap pertama, saat ini? sudah terkumpul dana Rp10.245.500,- (sepuluh juta dua ratus empat puluh lima ribu lima ratus rupiah). Uang tersebut berasal dari 15 PAC Muslimat NU dan simpatisan ketika digelar dialog keumatan di Masjid H. Muhammad Cheng Hoo belum lama ini.

Muslimat NU Jember Peduli Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jember Peduli Gempa Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Jember Peduli Gempa Aceh

“Alhamdulillah, teman-teman Ancab (Anak Cabang) sebagian sudah nyumbang. Meski hanya diberi tahu lewat WA, dan itu tidak diwajibkan, banyak yang tergerak hatinya. Sebagian berjanji akan transfer tahun baru. Uang yang sudah ada itu, insyaallah saya transfer besok ke PW Muslimat NU,” ujar Nyai Hj. Emi kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Senin (26/12).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurutnya, gerakan kepedulian sosial memang sering dilakukan Muslimat NU Jember seiring bencana alam yang melanda. Dikatakannya, gempa Aceh memang cukup menyayat hati dan memunculkan simpati tersendiri. Sebab, setelah dihantam tsunami sekian tahun yang lalu, Aceh masih digoyang gempa bertubi-tubi.

Oleh karena itu, Nyai Hj. Emi mengaku terpanggil untuk berusaha meringankan beban korban gempa Aceh, betapapun kecil nilainya. “Marilah kita berusaha? berbuat sesuatu untuk Aceh, apapun itu. Yang jelas, mereka butuh bantuan kita semua,” urainya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia menambahkan, tahap kedua masih akan terus dilakukan pengumpulan dana gempa Aceh. Selain bantuan dari Ancab, Nyai Hj. Emi juga menyatakan siap menerima atau menyalurkan dana dari siapapun yang bersimpati pada korban gempa Aceh.

Untuk tahap kedua, katanya, pengumpulan dana akan ditutup awal Januari 2017. “Dana itu nanti kita kirim lagi ke PW Muslimat NU Jawa Timur. Sebagai bentuk pertanggung jawaban kami, nanti akan dilakukan secara transparan, baik pengumpulan dananya, maupun pengirimannya,” jelasnya. (Aryudi A. Razaq) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Doa, PonPes Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Terorisme Harus Dibuang Jauh-jauh dari Pesantren

Jombang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur bersama Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) melakukan antisipasi gerakan dan organisasi radikalisme berkedok Islam di Jawa Timur, terutama di basis pondok pesantren.

Terorisme Harus Dibuang Jauh-jauh dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme Harus Dibuang Jauh-jauh dari Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme Harus Dibuang Jauh-jauh dari Pesantren

Kamis (2/5) kemarin, GP Ansor menggelar sarasehan bahasa terorisme” yang digelar di Aula pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Jatim Alfa Isnaeni mengatakan, paradigma teroris berkembang di pesantren harus dibuang jauh-jauh. Pesantren adalah tempat mencari ilmu, terutama ilmu agama. Bukan sebaliknya, pesantren sebagai lahan subur untuk menyemai bibit radikalisme.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bagi kami NKRI adalah harga mati. Sedangkan pesantren adalah tempat untuk menuntut ilmu agama dan digunakan untuk kemaslahatan umat. Paradigma pesantren sebagai akar teroris harus dibuang," ujar Alfa didampingi Komandan densus 99 PP GP Ansor,  Habib Zaman disela sela kegiatan yang diiukuti Banser Ansor se Jatim.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Kombespol, Thoriq dari BNPT mengatakan radikalisme dan teror masih terus berkembang dan melakukan perekrutan. Dan sekarang jaringan yang digunakan salah satunya adalah melalui dunia maya dengan memakai web dan blog. Karenanya dibutuhkan kerjasama semua pihak baik Ansor Banser serta pesantren.

Dikatakannya, pada saat ini ada pergeseran gerakan yang dilakukan dalam perekrutan anggota dan pendanaan. “Diantaranya pendanaan itu dengan melakukan aksi pencurian dan perampokan,” ujarnya menyampaikan.

Pergeseran target terrorisme, lanjutnya yang dulu adalah warga asing serta aset-aset asing kini juga bergeser kepada aparat dan asset pemerintah dan polisi. “Kasus Brimob yang diberondong 4 orang meninggal itu salah satunya,” ungkapnya seraya mengatakan asset milik pemerintah juga menjadi target seperti kantor yang dibangun pemerintah dan kendaraan plat merah.

Dikatakan Thoriq, meski Jawa Timur bukan menjadi prioritas pemantauan BNPT,  namun pihaknya tetap melakukan pemantauan gerakan. Karena dimungkinkan pelakuknya juga dari jatim.

”Fokus kita memang Solo dan Papua namun tidak menutup kemungkinan, pelakuknya juga dari sini,” ujarnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sunnah Pimpinan Pusat Muhammadiyah