Minggu, 03 Januari 2016

Soal Pilihan Politik, Warga NU Jangan Taqlid Buta

Jember, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Warga NU tidak boleh taqlid buta atau sekadar ikut-ikutan dalam menyalurkan hak-hak politiknya. Nahdliyin harus tahu dan mencari tahu latar belakang partai politik yang akan dipilihnya.

Demikian disampaikan Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin saat memberikan pengarahan dalam acara pelantikan Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Jember, Jawa Timur, di aula kantor NU Jember, Ahad (23/2).

Soal Pilihan Politik, Warga NU Jangan Taqlid Buta (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Pilihan Politik, Warga NU Jangan Taqlid Buta (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Pilihan Politik, Warga NU Jangan Taqlid Buta

Menurut Gus A’ab, sapaan akrabnya, taqlid buta dalam politik rawan menimbulkan kekecewaan dan bisa melahirkan sikap pragmatis bagi yang bersangkutan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Warga NU biasanya ikut kiai atau tokoh, ikut dalam memilih partai tertentu. Itu namanya taqlid politik. Ketika sang kiai atau yang diikuti pindah partai, dia bingung. Dan akhirnya jadi petualang politik yang pragmatis lagi. Dan pemimpin yang dihasilkan dari pola semacam ini juga tidak berkualitas,” ujarnya.

Gus A’ab berharap agar warga NU cerdas dalam berpolitik. Dengan kata lain, jika mereka bergabung dengan partai politik tertentu karena ikut orang tertentu, dia harus tahu alasan yang mendasari pilihan itu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Secara umum warga NU masih taqlid politik sekarang, dan itu harus diubah,” harapnya.

Pelantikan PC Fatayat NU Kabupaten Jember periode 2013-2018 itu dipimpin Ketua PW Fatayat NU Propinsi Jawa Timur Hikmah Bafaqih. Dalam periode ini, ketua PC Fatayat NU Jember dijabat oleh Rahmah Saidah. Sedangkan Drg Mahdiyah Daat Arina dan Indah Yuliana sebagai sekretaris dan bendahara. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fragmen, Syariah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 02 Januari 2016

Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini

H. Helmy Faishal Zaini, mantan menteri PDT dipercaya menjadi sekretaris jenderal PBNU periode 2015-2020. Dengan pengalamannya dalam berbagai bidang dan jaringannya yang luas, ia diharapkan mampu turut menjalankan bisi, misi, dan program yang menjadi amanat NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang mengayomi puluhan juta pengikutnya. Bagaimana ia melihat NU ke depan, berikut wawancara dengan Mukafi Niam di ruang kerjanya di lt3 gedung PBNU, Jum’at (28/8).

Sebagai orang yang diberi amanah untuk menjalankan peran sekjen PBNU, bagaimana Mas Helmy melihat NU ke depan?.
Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga PR Besar NU Menurut Helmy Faishal Zaini

Ada tiga hal yang menurut saya menjadi PR besar yang akan terus relevan dengan perkembangan dunia yang dinamis. Pertama adalah langkah yang disebut deradikalisasi. Ini meliputi tiga level, yaitu level fikrah, kedua, haraqah, ketiga amaliahnya. Upaya deradikalisasi harus dimulai dari perspektif pikirannya atau pada manhaj-nya. Kalau haraqah harus ada aksi kegiatannya sedangkan pada tataran amaliah dengan menjaga tradisi yang sudah ada. Ini pekerjaan yang menjadi fokus kita. Banyak orang berpikir dan berharap terhadap NU tentang ini. 

Selanjutnya apa? .

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pekerjaan rumah kedua adalah mengambil anak muda. Ini kan generasi indie, ada anak band, Superman is Dead dan lainnya yang menurut saya punya grass root yang kuat. Mereka harus tahu bagaimana itu NU dan mereka jumlahnya besar. Jadi sangat penting bagaimana kita membuat pola transformasi yang bisa masuk ke lapis anak muda tersebut. Mereka juga harus jadi NU, paling tidak punya kesadaran tentang NU. 

Yang ketiga apa Mas?.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pekerjaan ketiga adalah karena ini organisasi ulama, maka harus punya perencanaan yang matang dalam konteks memproduksi para ulama pewaris nabi. Ulama yang ideal adalah yang mewarisi sifat-sifat kenabian. Dalam konteks leadership-nya, amanah, fathanah, siddiq, dan tabligh. 

Dulu kita punya pola pengembangan kader keulamaan. Ini kan dalam tanda petik meng-upgrade atau mensosialisasikan ide-ide besar NU itu apa, agar mereka satu pemahaman dan satu visi. Ini tugasnya syuriyah yang dijalankan oleh tanfidziyah. 

Mengenai rekomendasi dan program hasil muktamar bagaimana?. Adapun pekerjaan yang bersifat rekomendasi dan program muktamar, kita akan konsen pada tiga hal. Pendidikan dengan fokus pada pendidikan menengah dan tinggi. Kedua bidang kesehatan dengan memberikan fasilitasi ruang pelayanan kesehatan pada warga NU, dan ketiga pada pengembangan ekonomi kerakyatan. 

Apa langkah dalam pengembangan ekonomi kerakyatan?. Ekonomi kerakyatan ini kita definisikan dalam dua basis. Pertama adalah basis produksi yang berasal dari sektor voluntary, yang bersifat partisipasif, yaitu zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Bagaimana hal ini dikelola secara baik sehingga menghasilkan sesuatu untuk pengembangan pendidikan, keagamaan, kemudian layanan sosial. Ke depan bisa untuk mengembangkan rumah sakit, beasiswa, dll. Ini harus dikelola secara baik.

Model kedua, yang sifatnya reguler, dengan mengembangkan investasi berbasis komunitas unggulan yang dimiliki pesantren. Ini misalnya yang dilakukan oleh pesantrennya Al Ittifaq di Ciwidey Bandung. Kemudian yang dilakukan oleh Kiai Nawawi Sidogiri dengan pengembangan BMT Sidogiri. Pola ini yang harus dikembangkan di pesantren-pesantren lain sebagai pusat produksi dan pertumbuhan ekonomi. Ini kalimatnya kan sederhana tetapi rumit dalam pelaksanaannya. Bisa menjalankan ini saja sudah luar biasa. 

Anda mulai terlibat di NU sejak IPNU, pola pengkaderan dulu kan berbeda dengan sekarang seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup?. Saya mulai berorganisasi dari di IPNU tingkat PAC dan PC Cirebon, sempat juga menjadi anggota PMII, juga di Ansor. 

Untuk strategi dakwah, yang bersifat akidah tak bisa kompromi, tetapi soal cara bisa berkompromi. Ini yang dilakukan oleh Walisongo. Kalau dulu tantangannya ketika mendakwahkan Islam Aswaja adalah berhadapan dengan adat budaya lokal yang sudah mengakar, dan mereka berhasil. Sekarang tantangannya adalah masyarakat baru yang modern. Kalau menggunakan teknologi lama sudah tidak bisa. Sekarang dakwah harus lewat Twitter, FB, Instagram dan media sosial lainnya. Sudah harus pakai periskop. Kesadaran beberapa kiai, ulama, dan muballigh yang masuk ke sosmed itu luar biasa. Di NU ada Gus Mus, ada Gus Ali, ada Yusuf Mansur, ada Anwar Zahid. Kalau kita lihat follower-nya, mereka adalah orang yang tidak terjamah pesantren. Ini yang saya maksud sebagai penjaring. 

Di lingkungan anak muda yang aktif di ranah sosial media ada Ahmad Sahal, ada Syafiq Hasyim, ada Syafiq Allielha, ada Ulil Abshar, meskipun menjadi kontroversi. Kita harus melihat mereka sebagai potensi anak muda yang bisa masuk ke dunia baru itu, yang oleh beberapa yang lain tidak masuk. Jadi ini sifatnya berbagi tugas saja, karena ada fakta bahwa jumlah warga yang masih tradisional di pedesaan masih sangat banyak. Pola lama harus tetap dikembangkan. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, Anti Hoax Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 01 Januari 2016

Madrasah Tis’ah, Terobosan Baru Pelajar NU Boyolali

Boyolali, Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Pengurus Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Boyolali Jawa Tengah membuat sebuah program yang disebut Madrasah Tis’ah. Kegiatan ini dinilai menjadi terobosan baru untuk menunjang proses program kaderisasi di kalangan organisasi pelajar NU.

Sekretaris PC IPNU-IPPNU Kabupaten Boyolali Muhammad Maghfur memaparkan, secara garis besar rancanagan program Madrasah Tis’ah yang baru dilaksanakan perdana di Indonesia itu.

Madrasah Tis’ah, Terobosan Baru Pelajar NU Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Tis’ah, Terobosan Baru Pelajar NU Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Tis’ah, Terobosan Baru Pelajar NU Boyolali

“Poinya pada pendalaman materi Makesta dan persiapan kader Lakmud. Nantinya Madrasah Tisah akan dilaksanakan dalam 4 tahapan dengan sistem gugur. Jadi yang tidak ikut sekali saja, dia tidak lulus,” papar remaja yang akrab disapa Ifur, Kamis (9/11).

Ditambahkan Ifur, program sudah diawali dengan proses pembukaan Madrasah Tis’ah, Ahad-Senin (4-6/11) lalu, di Gedung NU Center Boyolali. Sedangkan untuk pelaksanaan perdana (tahap pertama), baru akan dilaksanakan tanggal 25-26 Nopember mendatang

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Alhamdulillah kemarin sudah ada 40 peserta yang mengikuti di pelaksanaan program yang perdana ini,” ungkap dia

Ifur berharap Madrasah Tisah ini dapat menjadi kawah candradimuka para kader pelajar NU di Boyolali, agar nantinya kader semakin cakap dalam mengelola organisasi di wilayah masing masing.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Internasional, Olahraga, Syariah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 20 Desember 2015

Diawali Indonesia Raya, Maulid di Kanzus Shalawat Diakhiri Maulid Simtuddurar

Pekalongan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Ribuan jamaah ikut menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gedung Kanzus Shalawat, Pekalongan, Ahad (24/12). Acara diawali dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila.

Kapolda Jateng Inspektur Jenderal Polisi Condro Kirono dalam sambutannya mengatakan, rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi SAW di Kanzus Shalawat ini begitu istimewa.

Diawali Indonesia Raya, Maulid di Kanzus Shalawat Diakhiri Maulid Simtuddurar (Sumber Gambar : Nu Online)
Diawali Indonesia Raya, Maulid di Kanzus Shalawat Diakhiri Maulid Simtuddurar (Sumber Gambar : Nu Online)

Diawali Indonesia Raya, Maulid di Kanzus Shalawat Diakhiri Maulid Simtuddurar

"Penuh dengan nuansa kebangsaan, keragaman, dan kebhinekaan. Komitmen Habib Luthfi di manapun selalu mengajak untuk menjalin ukhuwwah islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah," kata Condro.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, dengan adanya kegiatan shalawat, wilayah Jawa Tengah menjadi terasa lebih adem.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Maupun cuaca panas, tapi terasa adem. Begitu juga hati yang panas, bisa didinginkan dengan shalawat," tuturnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rangkaian acara maulid yang dimulai sejak pagi diakhiri dengan pembacaan kitab Maulid Simtuddurar karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai, Pondok Pesantren, Pahlawan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 11 Desember 2015

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

Grobogan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan melakukan amal ibadah lainnya. Bahkan puasa pada 10 Muharram diyakini menghapus doa yang lalu dan akan datang.

Kemuliaan bulan Muharram ini dihayati warga NU Grompol, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah. Di bawah pimpinan KH Imam Sujoto, mereka menggelar istighotsah dan tahlil setiap Kamis malam selama bulan Muharram di Masjid Baitus Salam, Kradenan, Grobogan. Kamis (28/11) kemarin menjadi puncak dari rutinitas istighasah dan tahlil di bulan Suro (Muharam) ini.

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Grompol Puncaki Dzikir Suroan

“Manusia hidup memiliki dua tas,” tutur Kiai Imam. “Tas plastik berguna untuk menampung harta, sementara tas qalb (hati) butuh siraman rohani. Manusia lebih sering memenuhi tas plastik dibanding tas qalb. Hal ini menimbulkan ketidakstabilan hidup dan kurang nyamannya hidup,” tegasnya

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ia menambahkan, dzikir sanggup menjadi penentram hati sekaligus bekal untuk kehidupan kelak. Selain itu, bagi anggota keluarga yang telah berpulang terlebih dahulu, doa sangat mereka butuhkan. Orang yang telah meninggal ibarat orang tenggelam. Melalui tahlil inilah, anak cucu saudara memberikan bantuan berupa “pelampung penyelamat”.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selama lebih dari dua jam jamaah tampak khusyuk berdzikir dan berdoa. Meskipun di dalam masjid yang masih dalam tahap renovasi, jamaah larut dalam ibadah. Mereka juga berdoa, agar pembangunan masjid kebanggaannya segera rampung. (Hanif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 09 Desember 2015

Membaca Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang

Saat fasisme Jepang yang sedang menduduki Indonesia mendekati NU, NU dengan cerdas berhasil memanfaatkan kesempatan dan ruang yang diberikan kepadanya. Konsesi yang didapatkan sebagai konsekuensi dan ketergantungan dari peralihan sikap Jepang ini, dengan cepat dimanfaatkan oleh NU untuk melakukan pergerakan politik yang secara permukaan memperlihatkan sikap mendukung kepentingan Jepang. Namun sesungguhnya secara rahasia ditujukan untuk kepentingan bangsa Indonesia yaitu melakukan konsolidasi kekuatan pribumi. Mempersiapkan ‘condition of possiblities’, memanfaatkan peluang dan momentum, saat terjadi krisis geopolitik di level internasional, kemudian menempatkannya sesuai porsinya di level nasional. Mewujudkan negara bangsaIndonesia, 17 Agustus 1945. Inilah siasat politik kancil melawan serigala, teori perjuangan yang mampu diterapkan putra terkasih Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yaitu KH Wahid Hasyim.?

Buku ini menjelaskan secara lengkap perjuangan besar dan pengorbanan NU untuk bangsa dan negara di era kolonialisme Jepang. Serta titiknya adalah siasat politik NU menghadapi Jepang, yang sangat ganas, licik, penipu dan congkak. ‘Menindas, membelenggu fisik dan pikiran rakyat Indonesia’, sebagaimana filosofi bendera Negeri Matahari Terbit, siapapun yang terkena panasnya matahari akan meleleh jiwa dan raganya. ?

Membaca Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang

Karya buku ini dicetak perdana dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang Jawa Timur, dipersembahkan secara khusus untuk jama’ah-jam’iyyah NU dan bangsa Indonesia. Sebuah buku sejarah yang strategis yang berisi siasat pemuda NU yang jauh lebih lihai, cerdas dan keren, yakni siasat pemuda Wahid Hasyim menghadapi keganasan Jepang. Buku ini wajib dibaca, untuk membantu kita dalam mengingat masa lalu yang pernah ada dan perlu kita kobarkan ditengah keterpurukan bangsa, ? bagaimana menyerap energi pendahulu bangsa sebagai energi perlawanan. Sehingga menjadi pemuda NU harus pemberani dan senantiasa terus berjuang, berinovasi untuk kebangkitan NKRI. Karena NKRI adalah milik NU, saatnya NU mengatur bangsa dan negara. Berkhidmat demi kebaikan negeri para kiai & santri, kemuliaan para nabi dan para wali. ? ?

Buku berjudul Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang merupakan buku pertama dari Trilogi buku perjuangan NU. Buku kedua berjudul NU Menginjak Bumi: Siasat Pasca Kemerdekaan, sedangkan buku ketiga berjudul, Ketika NU Ditindas. Hanya dengan akumulasi pengetahuan kita mampu bangkit, beredar dalam pergaulan bangsa-bangsa dunia. Ingatlah, masa lalu adalah energi perlawanan demi masa kini-masa depan. Dahulu kita memiliki patriot besar, the libertador: Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Gus Wahid Hasyim (NU). Pemimpin bangsa yang bisa baca konstelalasi global, punya kesadaran baca psikologis bangsanya, hingga bisa memerdekakan negerinya. Warisan luhur itulah yang sangat penting dikobarkan di pikiran-hati untuk mencipta Indonesia yang revolusioner. Inilah relevansinya membaca buku ini, dalam menghadapi kapitalisme global kontemporer.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam buku ini penulis mengajak masyarakat untuk tahu bahwa Indonesia kita ada karena masa lalu, dan mestinya digerakan pemuda untuk masa kini dan masa depan. Karena kejayaan bangsa hanya bisa ditransformasi merujuk masa lalunya misalnya Kebangkitan Jepang, Turki, Cina, India, Iran, Korea, Inggris dan lainnya. Pemuda seperti kita semua tetap berurusan dengan masa lalu, mesti bisa bertarung seperti pemuda bernama Dyah Wijaya dari Nusantara melawan imperium Mongol, Kubilai Khan. Dan pemuda itu menang atasnya dalam pertarungan, menyelamatkan Asia, Afrika, dunia Islam dan Eropa-Barat dari teror dan ketakutan paling mengerikan sepanjang sejarah, keganasan imperium Mongolia. Berkat perjuangan putra Nusantara, dunia diselamatkan, terwujudlah perdamaian. NU adalah tajalli dari spirit masa lalu, untuk meneguhkan Islam Nusantara dan demi peradaban global yang damai dan berkeadilan. Inilah tantangan PBNU 2015-2020 yang dikukuhkan di Masjid Istiqlal.?

Para kiai dan pejuang NU era kolonial Jepang telah mengabdikan dirinya bagi Islam dan berbakti untuk Kemerdekaan Indonesia. NU mengabdi untuk kebaikan negeri tercinta ini dari awal hingga akhir. Mereka yang tidak mencintai tidak akan memahami. Warna-warni hidupnya para pendekar-pejuang NU disingkat hanya 3 (tiga) kata: Beliau lahir, bergerak dan syahid. Para pejuang NU telah memahat jalan yang mengantarkan kita, mengorbankan nyawanya demi Kemerdekaan Indonesia, demi kita semua hingga detik ini.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Data buku

Judul : Siasat Politik NU Era Penjajahan Jepang

Penulis: Dinno Munfaizin Imamah

Penerbit : The Koweng Press Jakarta?

Cetakan I : Agustus 2015

Tebal : 218

Peresensi : Ningrum Lestary, pecinta buku

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 05 Desember 2015

Pemikiran Bung Karno Bisa Menjadi Tonggak

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pokok-pokok pikiran presiden pertama Republik Indonesia Soekarno (Bung Karno) adalah inspirasi penting untuk merumuskan strategi kebudayaan baru agar bangsa Indonesia tidak terombang-ambing oleh kepentingan global.

”Indonesia saat ini hampir kehilangan identitas diri sebagai bangsa. Pemikiran Bung Karno dapat dijadikan sebagai tonggak,” kata Ketua Lembaga Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Ngatawi Al-Zastrow, saat memberikan kata pembuka pada acara bedah buku bertajuk "Bung Karno, Islam, Pancasila, NKRI" di gedung PBNU, Jakarta, Jum’at (22/6).

Tokoh nasionalis Bondan Gunawan dalam kesempatan itu menyampaikan, salah satu inti pemikiran Bung Karno adalah penolakannya terhadap berbagai bentuk penjajahan atau kolonialisme. ”Makanya faham neoliberalisme oleh Bung Karno disebut sebagai neokolonialisme, kolonialisme baru,” katanya.

Pemikiran Bung Karno Bisa Menjadi Tonggak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemikiran Bung Karno Bisa Menjadi Tonggak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemikiran Bung Karno Bisa Menjadi Tonggak

Menurutnya, hubungan dekat Bung Karno dengan kalangan NU dan pesantren disemangati oleh kepentingan bersama untuk menghancurkan kolonialisme itu.

Pimpinan Redaksi NU Onlne Abdul Mun’im DZ menegaskan, hubungan dekat Bung Karno dengan NU tidak hanya berlangsung secara paragmatis dan oportunistik, untuk kepentingan politik praktis, namun karena kedekatan kultural.”Bahkan lebih tepat disebut hubungan ideologis,” katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dikatakan, para tokoh NU dan soekarno berangkat dari kesadaran yang sama bahwa Indonesia mempunyai latar belakang sejarah yang panjang dan berhak menyusun sejarah kedepannya sendiri.

”Sebelumnya, tidak ada itu sejarah Indonesia. Yang ada hanyalah sejarah Eropa.? NU dan Bung Karno sama-sama punya kesadaran sejarah, bahwa Indonesia ini besar dan berdaulat. Kedaulatan itu yang membuat masyarakat sejahtera,” Mun’im DZ.

Dikatakan Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU itu, Bung Karno tidak pernah mengadopsi konsep-konsep dari luar negeri tanpa dinasionalisasikan terlebih dahulu, disesuaikan dengan kebutuhan bangsa Indonesia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

”Bung Karno tidak pernah teksbook menyebut konsep secara verbal. Hak Asasi manusia atau HAM dia bahasakan sebagai kemanusiaan. Demokrasi dia bahasakan dengan kedaulatan. Ini yang lebih substansial,” katanya.

Sementara itu Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin lebih menghawatirkan adanya gelombang baru nasionalisme yang dia sebut sebagai nasionalisme kosmopolit, yakni model nasionalisme yang sekuler dan ditunggangi oleh kepentingan negara-negara maju.

”Redefinisi nasionalisme seperti ini yang perlu kita waspadai. Ini namanya nasionalisme kesurupan. Perlu diakui bahwa nasionalisme sebagaimana dirumuskan oleh Bung Karno, para tokoh NU dan pendiri bangsa ini adalah nasionalisme religius,” katanya.(nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Doa, Santri, Amalan Pimpinan Pusat Muhammadiyah