Minggu, 28 Januari 2018

Muhammad Said Nahkoda Baru PW IPNU DKI

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rekan Muhammad Said terpilih sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) DKI Jakarta dalam Konferensi Wilayah yang ke-XVII yang bertempat di jalan Utan Kayu Raya No. 112 Matraman Jakarta Timur, Sabtu-Ahad (13-14/4).

Muhammad Said Nahkoda Baru PW IPNU DKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammad Said Nahkoda Baru PW IPNU DKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Muhammad Said Nahkoda Baru PW IPNU DKI

Pembukaan konferwil berlangsung dengan khidmat yang dihadiri oleh pengurus PWNU DKI Jakarta yang diwakilkan oleh Drs. KH. Hasanuddin, SH, Sekretaris PWNU DKI Jakarta, Hj. Neneng Hasanah, anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, DR. H Nawawi dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan rekan Ketum PP IPNU Khairul Anam serta ratusan peserta dari masing-masing Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta.

Ketua PW IPNU DKI Heri Susanto dalam sambutannya mengatakan kader IPNU Jakarta harus selalu bergerak dan solid. Ia juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh pengurus PW IPNU dan PC IPNU se DKI Jakarta yang telah membantu merealisasikan program-program kegiatan dan mohon maaf atas beberapa kegiatan yg belum teralisasi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Heri Susanto yang juga Wakil Ketua PP IPNU berharap penggantinya nanti adalah orang progresif dalam menjalankan agenda-agenda IPNU kedepan. 

Sementara Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam HS mengatakan, bahwa program PP IPNU tahun ini adalah tahun pengabdian pada Pimpinan Komisariat IPNU dan penguatan kaderisasi yakni mempersiapkan kader-kader unggulan yang siap untuk dimakestakan. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Saya akan beri tantangan kepada PW IPNU DKI Jakarta untuk mampu mengadakan makesta unggulan, ya kalau bisa anaknya Gubernur, anaknya pejabat-pejabat lainnya kita ikut sertakan dalam makesta tersebut.  Maka PP IPNU siap memfasilitasi 100 % dalam kegiatan tersebut,” tambahnya yang juga kandidat Doktor UIN Jakarta.

Konferwil ini berlanjut ke diskusi atau talk show dengan tema “Quo Vadis Arah dan Kebijakan Pendidikan di DKI Jakarta.”  Sebagai narasumber adalah DR. H Nawawi, Drs Hamid dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta  dan ketua Umum PP IPNU, Khairul Anam HS.

Kegiatan dilanjutkan dengan laporan dan pandangan umum pertanggungjawaban oleh PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat 2009-2012. Dan dilanjutkan dengan sidang-sidang, yang meliputi sidang tatip (tata tertib) Konferwil, sidang komisi, sidang pleno dan sidang tatib pemilihan ketua PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat 2013-2016. 

Laporan pertanggung jawaban pengurus masa khidmat 2009-2012 menjadi menarik karena dari 6 PC IPNU, 3 menerima dan 3 menolak. Tapi pimpinan sidang akhirnya menyatakan menerima  laporan pertanggung jawaban dengan berbagai catatan untuk dilanjutkan dikepengurusan berikutnya.

Setelah melalui proses sidang tatib pemilihan ketua PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat 2013-2016. Ada 2 calon yang mendaftarkan dan yang memenuhi syarat yaitu rekan Muhammad Said dari PC IPNU Jakarta Pusat dan rekan Ahmad Muhajir dari PC IPNU Jakarta Barat. Sebelum melakukan prosesi pemilihan, bakal calon menyampaikan visi dan misi dihadapan peserta Konferwil.

Suasana Konferwil semakin memanas ketika ada perdebatan antara salah satu perwakilan pimpina cabang IPNU dengan pimpinan sidang karena ada salah satu pimpinan cabang tidak mendapat hak suara dikarena SK belum memenuhi syarat. 

Proses pemilihan ketua PW IPNU DKI Jakarta terpilih rekan Muhammad Said yang mendapatkan 3 suara. Sementa Muhajir 2 suara. Muhammad Said terpilih menjadi ketua PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat 2013-2016. Suasana sangat mengaharukan saat semua peserta berpelukan denga ketua PW IPNU yang terpilih.  

Dalam sambutannya ketua PW IPNU DKI Muhammad Said berjanji akan memaksimalkan potensi kader, memperbaiki data base IPNU dan memfasilitasi berbagai program ke depan. Dengan syarat seluruh kader IPNU harus kompak, bersatu dengan di bawah satu visi yaitu Nahdhatul Ulama. Selamat bekerja!

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Anshory

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Doa Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dilantik, Ranting-ranting GP Ansor Kukar Perkuat Aswaja di Desa

Kutai Kartanegara, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kutai Kartanegara melantik Pimpinan Ranting GP Ansor se-Kecamatan Tenggarong dan Kecamatan Sebulu di sekretariat PC GP Ansor Kab Kutai Kartanegara pada Sabtu (23/1).

Dilantik, Ranting-ranting GP Ansor Kukar Perkuat Aswaja di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Ranting-ranting GP Ansor Kukar Perkuat Aswaja di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Ranting-ranting GP Ansor Kukar Perkuat Aswaja di Desa

Pelantikan tersebut dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Haul Habib Muhammad bin Ali bin Hasan bin Thoha bin Yahya (Noto Igomo), Haul KH Abdurahman Wahid (Gus Dur)

Pada kesempatan itu turut hadir Ketua PCNU Kutai Kartanegara Chairul Anwar, Rais Syuriyah KH Hormansyah, Lembaga Dakwa Nahdlatul Ulama Muhamad Fajri Al Faroby, Ketua Pengurus Ansor Wilayah Kaltim beserta jajaran serta Ketua Cabang GP Ansor Hadi Purnomo.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut Chairul mengingatkan bahwa tugas Ansor adalah memperjuangkan dan melaksanakan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, melaksanakan roda organisasi sebaik-baiknya berdasar Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga, serta berkhidmah kepada alim ulama.

“Ansor harus disiplin menjaga etika dan akhlakul karimah tidak melakukan tindakan yg memalukan organisasi serta menjaga keutuhan NKRI dari rongrongan radikalisme dan ekstremisme juga menjaga dan mencermati munculnya ajaran baru yang menyesatkan,” katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Chairul juga meminta GP Ansor untuk memperkuat ajaran Ahlusunah Waljamaah di setiap ranting di masing-masing kecamatan.

Ketua pengurus ansor wilayah Kaltim dalam sambutannya menyampaikan perlunya Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta organisasi-organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah untuk membina masyarakat di daerah-daerah terpencil agar tidak terjerumus ikut ajaran sesat.

“Pengikut yang sudah banyak bertobat, perlu ada pembinaan dari pemerintah dan tokoh-tokoh agama agar tidak kembali ke ajaran tersebut. Ansor harus turun ke daerah-daerah membantu ulama sesuai tugasnya berkhidmah kepada alim ulama dalam menjaga NKRI dari ancaman radikalisme,” ujarnya pada kegiatan yang ditutup taushiyah Ustadz Abu Ali. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nusantara Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Jombang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Jawa Timur mengingatkan anggotanya akan tantangan ke depan khususnya menjeleng perdagangan bebas kelak. Banjirnya produk luar negeri dan tenaga kerja asing ke Tanah Air hanya dapat ditangani dengan penguatan jaringan pengusaha santri.

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Demikian disampaikan Ketua HIPSI Jatim Sulayman yang akrab disapa Pak Leman dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus silaturahim dan pelatihan Informasi dan Teknologi di Pondok Pesantren Al-Ilahiyah Ngoro Jombang, Jawa Timur, Sabtu (30/11).

Pak Leman yang juga pengusaha kertas bekas di Jombang ini mengingatkan tantangan berat itu dapat dilawan dengan mempererat tali silaturahmi dan kelengkapan struktur organisasi HIPSI di setiap kota dan kabupaten.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sejumlah kepengurusan di tingkat pusat dan wilayah harus juga diimbangi dengan kelengkapan kepengurusan di level kecamatan hingga desa. Karena, bila hal itu dapat dilakukan, maka ketersediaan barang dan jasa dari sejumlah pengusaha santri dapat disinergikan dan didistribusikan hingga level paling bawah, lanjutnya.

Senada dengan Leman, Ketua Umum HIPSI Muhammad Ghozali yang hadir pada kegiatan itu juga mengingatkan pentingnya sinergi sejumlah potensi ekonomi para santri yang sebenarnya berpotensi sangat besar.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kita prihatin karena negeri ini hanya dikuasai orang kaya yang tidak berlatar belakang santri,” katanya saat memaparkan hasil survey sebuah majalah yang menampilkan sejumlah orang kaya di Tanah Air.

Tampilnya pengusaha kaya dari kalangan nonsantri dan bukan warga negara kita mengindikasikan bahwa pemilik negeri ini adalah ternyata orang lain, ungkapnya.

Dengan sejumlah fakta itu, ia mengajak para pengurus untuk terus bergerak mengisi kesempatan untuk bakti kepada bangsa dan masyarakat. Kalau saya mengibaratkan, kita adalah setetes air mata. Bila diakumulasikan, maka akan menjadi lautan samudera, terangnya.

Dengan visi menciptakan satu juta santri pengusaha di tahun 2022 kelak, HIPSI akan terus bergerak dalam upaya melengkapi kepengurusan di berbagai kawasan. Kita optimis akan lahir pengusaha besar nasional dari kalangan santri, imbuhnya.

Di HIPSI ada jabatan ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, dan ketua bidang. Sedangkan kepengurusan dibedakan dengan tugas organisasi dan pengkaderan, pendidikan wirausaha dan pembinaan usaha pemula, usaha, koperasi dan UKM, bidang IT, publikasi dan media, industri kreatif dan seni, kerjasama luar.

Ada juga hubungan pesantren dan sosial kemasyarakatan, perdagangan dan perindustrian, pertanian serta peternakan, properti dan konstruksi, dan pemberdayaan wanita. ? Kami juga memiliki bidang koordinator kampus, serta penelitian dan pengembangan, lanjut Ghazali. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda III. Kali ini acara wisuda digelar di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. 

“Wisuda bukan berarti proses belajar itu berhenti, ini langkah awal dalam mempertanggungjawabkan keilmuan kita sebagai seorang sarjana di masyarakat,” ujar Ketua STAINU Jakarta, HM Mujib Qulyubi, MH dalam sambutannya di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Rabu (7/5).

Sebuah lembaga pendidikan, kata Mujib menyitir Pakar Pendidikan NU, Prof Dr KH M Tolhah Hasan, mengalami tiga transformasi, yang pertama adalah tahap bertahan, kedua yaitu tahap berkembang, dan yang ketiga ialah tahap bersaing. STAINU Jakarta, lanjut Mujib, telah melalui ketiga tahap tersebut dengan baik.  

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Sementara itu, H Abdul Wahid Hasyim, Wakil Koordinator Kopertais Wilayah I DKI Jakarta menuturkan bahwa STAINU Jakarta telah berkontribusi nyata untuk masyarakat dalam mencetak lulusan-lulusannya. “Oleh karena itu, STAINU Jakarta harus terus membangun sumber daya yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Untuk dapat melakukan itu, lanjut Hasyim, STAINU Jakarta juga harus senantiasa meningkatkan kualitas Dosen-dosennya, sebab merekalah pencetak lulusan berkualitas. “Untuk wisudawan dan wisudawati, masyarakat menunggu kiprah kalian, selamat bekerja,” pungkas Hasyim.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Menteri Perumahan Rakyat RI H Djan Faridz dalam kertas sambutan yang dibawakan oleh asistennya Dr Muhammad Dimyati mengingatkan, dalam tahap bersaing ini, STAINU Jakarta dapat menerapkan strategi yang disebut Diamond In Diamond Out (DIDO) yaitu masuknya emas, keluarnya harus berlian. “Artinya, STAINU Jakarta harus membangun dan memperkuat,” ungkapnya.

Pada wisuda kali ini, STAINU Jakarta telah meluluskan sebanyak 222 wisudawan dan wisudawati. Wisuda kali ini juga dihadiri oleh Sekjen PBNU H Marsudi Suhud, Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Dr KH Nur Muhammas Iskandar SQ, Anggota DPR RI yang juga Dosen STAINU Jakarta, H Djazilul Fawaid, serta orasi ilmiah oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Kemendikbud RI Prof Ir H Hermawan Kresno Dipojono, Ph.D. (Fathoni/Mahbib)  

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, IMNU, Lomba Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta

Jakarta sebagai ibukota Indonesia identik dengan kehidupan metropolitan yang gemerlap dan hedonis. Tetapi cahaya pendidikan keagamaan masih bersinar di beberapa tempat, salah satunya di Pesantren Assidiqiyah Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Pesantren ini juga masih mempertahankan beberapa tradisi pengajian salaf, disamping pengajaran dari kurikulum resmi pemerintah. 

Pada awalnya, Kiai Nur Iskandar sendiri agak ragu ketika pertama kali ingin mendirikan pesantren di lokasi tersebut. Awalnya, sebagai santri Pesantren Lirboyo, ia diminta oleh KH Mahrus Ali, pengasuh Lirboyo untuk mendirikan pesantren di Jakarta, tetapi ia belum berani memutuskan. Bahkan ketika ada seseorang yang berniat memberi tanah wakaf, ia pun masih ragu. Isyarat datang ketika berangkat haji ke Makkah, ia diminta oleh seorang asing untuk mengaji. Awalnya Kiai Nur menolak karena merasa masih muda padahal disitu ada beberapa kiai senior seperti KH As’ad Syamsul Arifin, KH Subakir, dan Kiai Muhtar Syafaat. Oleh beberapa kiai tersebut, permintaan orang asing tersebut dimaknai sebagai perintah untuk mendirikan pesantren. 

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta

Setibanyak di Jakarta, langsung saja, tanah wakaf tersebut di terima dan dibangun masjid. Tahun 1985 resmi dibuka pesantren. Dari satu-dua santri, akhirnya pesantrennya terus berkembang sehingga tanah di sekitar masjid tersebut dibeli untuk perluasan pesantren. Bukan hanya di Kebun Jeruk saja, bahkan kini Assidiqiyah sudah memiliki cabang di delapan lokasi di seluruh Indonesia seperti di Batu Ceper, Puncak Cianjur, Palembang, Lampung, dan lainnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Muhammad Riza Azizi, pengasuh pesantren Assidiqiyah di kawasan Puncak Cianjur yang ditemui di Assidiqiyah Kebun Jeruk menjelaskan, beberapa tradisi pesantren salaf masih dipertahankan seperti ngaji sorogan. Beberapa kitab kuning juga masih diajarkan seperti Jurumiyah, Imriti, Tafsir Jalalain, Taklimul Mutaallin, dan beberapa lainnya.   

Para santri memiliki jadual yang sangat padat. Dari papan pengumuman yang dipasang di salah satu area pesantren, pada jam 03.30 santri sudah harus bangun untuk shalat tahajjud dan istighotsah. Setelah shalat Subuh, jadual pelajaran bahasa Arab atau Inggris sudah menunggu dalam bentuk small group atau pelajaran di kelas. Sekolah formal berlangsung sampai 12.30 dan pada pukul 16.00-17.30 santri harus mengikuti Madrasah Diniyah. Malam hari, mereka masih harus belajar Al-Qur’an, Tafsir Jalalain, dan belajar mandiri. Baru pukul 22.00 mereka bisa istirahat.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di Assidiqiyah Kebon Jeruk, jumlah santri sekitar 800 yang belajar di tingkat SMP, Aliyah dan Ma’had Ali. Selain adanya kajian agama yang lengkap, menurut Riza Azizi, biaya yang murah juga menjadi faktor wali santri mengirimkan anaknya ke pesantren ini. Dalam satu bulan, orang tua hanya perlu membayar 900 ribu yang sudah meliputi biaya makan tiga kali, sekolah dan fasilitas asrama dengan ranjang tidur. Untuk ukuran Jakarta, biaya tersebut cukup murah, apalagi jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah swasta yang bayarannya saja bisa diatas satu juta. 

Jika digabungkan dengan cabang-cabangnya, jumlah total santri lebih dari 3.000. Kebijakan kurikulum masing-masing pesantren ada yang terstandarisasi dari pusat seperti pembelajaran Qur’an dengan metode Yambu’a sedangkan hal lainnya, masing-masing cabang diizinkan melakukan inovasi karena masing-masing kondisinya berbeda, baik kemampuan masyarakat maupun tenaga pengajarnya. 

Sementara itu, para santri berasal dari jaringan alumni dan ketokohan pengaruh pesantren, khususnya Kiai Nur Iskandar yang sudah berkiprah di dunia dakwah lebih dari 30 tahun. Beberapa alumni juga menjadi dai populer seperti Ustadz Solmet, Ustadz Fikri Haikal, Ustadz Anwar Pandeglang dan lainnya. Mereka turut mempromosikan pesantren Assidiqiyah ke masyarakat. Keberadaan para alumni yang menjadi dai tersebut menunjukkan apa yang diajarkan di pesantren ini bisa diteruskan ke masyarakat melalui para alumni. Juga mengharumkan nama pesantren atas keberhasilannya dalam mendidik mereka. 

Mengingat biaya operasional yang mahal, pesantren memiliki sejumlah unit usaha seperti SQ Mart dengan motto “Dari santri, oleh santri, untuk santri.” Keuntungan dari unit usaha ini kembali ke kas pesantren untuk kebutuhan sehari-hari. 

Program Ma’had Ali merupakan program tiga tahun yang setara dengan D3. Pesantren mendorong mereka untuk melanjutkan ke S1 karena juga sudah ada STAI di Karawang. Para mahasantri bisa mengkonversi kuliahnya dan tinggal menambah satu tahun untuk menambah kekurangan mata kuliah dan menulis skripsi.

Untuk pelajar SMP-Aliyah, mereka juga memiliki beberapa kegiatan seperti drumband, tata bonga, hadrah dan marawis. 

Ditengah persaingan ketat berbagai lembaga pendidikan, pesantren Assidiqiyah terus mampu menjaga eksistensinya, menjaga cahaya religiusitas di ibukota Jakarta. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Nahdlatul, Pahlawan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Siapkan Juara, LPTQ Brebes Gelar Try Out STQ

Brebes, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai upaya mendapatkan predikat terbaik bagi kafilah Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat Provinsi Jawa Tengah, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Brebes menggelar Try Out. Hal ini juga didorong oleh keadaan bahwa Kabupaten Brebes menjadi tuan rumah ajang perlombaan tersebut pada 17-19 November mendatang.

Ketua LPTQ Kabupaten Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI menjelaskan, yang mengikuti try out adalah kafilah (kontingen) Brebes telah diseleksi. Sebelumnya dilakukan pembinaan secara bertahap dengan mendatangkan pelatih dari luar daerah yang berkelas Nasional.

Siapkan Juara, LPTQ Brebes Gelar Try Out STQ (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan Juara, LPTQ Brebes Gelar Try Out STQ (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan Juara, LPTQ Brebes Gelar Try Out STQ

“Sebanyak 16 orang personalia Kafilah Brebes yang di-try out,” tuturnya di sela Try Out di ruang rapat Bupati Brebes, Rabu (5/11).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Keenam belas kafilah Brebes akan berebut piala pada cabang Tilawah, Tahfidz dan Tafsir. Sebagai tuan rumah, selaku Ketua LPTQ akan mendukung penuh agar Kabupaten Brebes dapat sukses penyelenggaraan, sukses, prestasi dan sukses administrasi. “Try out ini untuk mendukung sukses prestasi,” tekadnya.

Try out, lanjut Imam, dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dalam mencapai target. Bila ternyata belum mencapai nilai minimum maka akan terus dilakukan langkah-langkah perbaikan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Wakil Bupati Brebes Narjo selaku Ketua Panitia STQ tingkat Jateng menjelaskan, pelaksanaan STQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Brebes akan berlangsung pada 17-20 November 2014. Gelaran ini bakal diikuti 35 Kafilah (kontingen) Kabupaten/Kota Se Jateng. Tiap kafilah akan mengirimkan 16 peserta, 3 pelatih, 1 Ketua Kafilah dan 2 pendamping.  Setidaknya 1.500 orang, belum orang tua dan tamu lain-lainnya akan turut memeriahkan event islami tiga tahunan ini.

Adapun cabang dan golongan yang akan dimusabaqohkan pertama Cabang Tilawah golongan anak-anak putra dan putri usia maksimal 13 tahun, golongan dewasa putra putri (pa pi) usia maksimal 40 tahun. Kedua Cabang Tahfidz golongan 1 juz dan tilawah pa pi usia maksimal 14 th, gol 5 juz dan tilawah pa pi usia maksimal 16 tahun, gol 10 juz pa pi usia maksimal 18 tahun, gol 20 juz pa pi usia maksimal 20 tahun dan gol 30 juz pa pi usia maks 23 tahun. Sedangkan yang ketiga cabang Tafsir Al quran untuk golongan Bahasa Arab Putra dan putri usia maksimal 23 tahun.

“Untuk tempat STQ akan ditempatkan diberbagai titik antara lain di MTs N Model Brebes, Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes, Kantor Kemenag, Islamic Center dan Masjid Agung Brebes,” terang Narjo.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE yang turut memantau dari awal hingga akhir Try Out mengatakan, target menjadi yang terbaik memang bukan yang utama. Tetapi dengan prestasi yang gemilang tentu akan menambah kebahagian tersendiri sebagai tuan rumah.

Menurut Idza, yang lebih utama tercapainya perubahan perilaku warga Brebes yang Qurani. Kepada Generasi Muda bisa berjiwa Qurani dan masyarakat Brebes mampu mengimplementasikan nilai-nilai Quran dalam kehidupan sehari-hari. “Sungguh sangat membahagiakan dengan lahirnya generasi yang Qurani lewat penyelenggaraan STQ,” harap Bupati. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Pahlawan, Amalan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Penguasa Lalai dan Altruisme Rakyat Dusun yang Mengagumkan

Suatu hari seorang dusun (arabi) dari daerah pedalaman datang menghadap Amirul Muminin Hisyam bin Abdil Malik di istananya. Orang dusun itu bermaksud melaporkan dan mengadukan soal keprihatinan nasib yang menimpa rakyat di daerahnya.

Kepada sang khalifah dia memberitahukan bahwa rakyat di daerahnya sudah tiga tahun ini mengalami krisis ekonomi yang krusial. Kesulitan dan penderitaan tersebut mengakibatkan orang-orang kini menjadi kering kerontang, habis sudah lemak dan daging dalam tubuh mereka, hingga badan mereka tinggal menyisakan tulang belulang.

"Sementara itu, di lingkungan baginda tersedia harta benda melimpah, melebihi dari kebutuhan semestinya," kata orang dusun mengutarakan kesinisannya.

"Jika harta tersebut memang milik Allah, bagi-bagikanlah kepada hamba-hamba-Nya. Jika milik rakyat mengapa harta itu ditahan dan dihalang-halangi dari rakyat untuk mendapatkannya. Bila harta itu milik tuan-tuan maka bersedekahlah kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersedekah," demikian orang kampung itu menuntut Kha