Senin, 11 Juli 2005

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Yogyakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Panitia Muktamar NU memilih pesantren Al-Munawwir Krapyak sebagai tempat forum musyawarah untuk pematangan materi bahtsul masail muktamar NU mendatang di Jombang. Mereka sengaja memilih tempat ini untuk mengambil semangat dan tabarrukan dari para kiai Krapyak.

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang membuka forum bahtsul masail pra muktamar ini menyebutkan harapannya agar Allah menurunkan keberkahan para guru pesantren Al-Munawwir bagi forum penting di NU.

“Kita berharap berkah dari masyayikh ma’had Al-Munawwir ini. Pesantren ini ialah salah satu soko guru dari pesantren NU. Para kiainya cukup menentukan bangunan pemikiran NU hingga kini,” kata Gus Yahya dalam sambutan atas nama panitia di pesantren Krapyak, Sabtu (28/3) siang.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut salah satu pengasuh pesantren Al-Munawwir KH Hilmi Muhammad, penempatan bahtsul masail pra muktamar NU ini berawal dari insiatif santri ma’had Aly Krapyak. Mereka menginginkan pesantren mengadakan forum bahtsul masail.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kami sebagai pengurus pesantren lalu menyinergikan dengan PBNU yang merencanakan sidang pra muktamar. Alhamdulillah pengurus PBNU merespon positif,” kata Gus Hilmi dalam sambutan atas nama sohibul bait mewakili KH Najib Abdul Qodir

Kepada peserta bahtsul masail pra muktamar, Gus Hilmi mengucapkan selamat datang. “Kami berharap forum ini mengeluarkan keputusan yang bermanfaat bagi NU dan Indonesia.”

Sementara Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengingat pesantren Krapyak menempati posisi penting bagi kiai NU. “Bahtsul masail pertama dalam rangkaian Pra Muktamar di sini menjadi kehormatan bagi PBNU,” kata Kiai Malik yang mengakhiri sambutannya dengan surat al-Fatihah.

Peserta datang dari sejumlah pengurus cabang NU dan pengasuh pesantren di Yogyakarta dan sekitarnya. Tampak hadir Dirut BPJS, Dirjen Haji Kemenag RI yang akan memaparkan keterangan yang dibutuhkan peserta. Terlihat juga puluhan mahasiswa jurusan Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai, Olahraga, Amalan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 21 Mei 2005

Strategi Dakwah Digital Ala Kiai Muda Jateng

Semarang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Bertempat di Pondok Pesantren Wali, Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Forum Kiai Muda Pengasuh Pesantren se-Jawa Tengah menggelar Seminar Regional dan Ngaji Jurnalistik bertaju Strategi dan Teknik Dakwah di Era Digital untuk Generasi Milenial Sabtu (2/12) lalu. Acara dihadiri anggota DPR RI Arwani Thomafi, Wakil Direktur Pimpinan Pusat Muhammadiyah H. Saifullah Amin, Gus Idror Maimoen, dan para kiai muda dari berbagai pesantren di Jateng.

Dalam sambutannya, Pengasuh Ponpes Wali, KH. Anis Maftuhin menyampaikan pentingnya dakwah secara digital.

Strategi Dakwah Digital Ala Kiai Muda Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Strategi Dakwah Digital Ala Kiai Muda Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Strategi Dakwah Digital Ala Kiai Muda Jateng

“Sekarang zamannya sudah serba digital, jadi kita harus berdakwah secara digital,” katanya.

Ia mendukung diadakannya pelatihan-pelatihan dakwah, dan Pesantren Wali siap menjadi tuan rumah. 

Wakil Direktur Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sekaligus sebagai narasumber pada acara tersebut, Saifullah Amin, mendorong kiai muda untuk merekam dan menyebarluaskan pengajian-pengajian di pesantren dan desa-desa agar bisa dinikmati secara luas.

“Rekaman pengajian berdurasi lama masih kita pertahankan, tetapi kita juga perlu memroduksi konten-konten dakwah berdurasi pendek,” ucapnya. 

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dengan durasi pendek, lanjutnya, video bisa disebarluaskan  melalui media-media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Hal ini sangat penting karena di era digital seperti sekarang ini hampir setiap orang memiliki akun media sosial.

“Zaman sekarang siapa yang tak punya facebook? Semua punya,” ujarnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Para peserta mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Menurut Sholihin, salah satu peserta asal Ponpes Futuhiyyah Mranggen Demak, kegiatan itu sangat penting dan bermanfaat.

“Kegiatan-kegiatan seperti ini perlu menjangkau lebih banyak kiai muda di Jateng, sebab ini sangat penting untuk mereka,” katanya.

Arwani Thomafi, selaku DPR RI yang duduk di Komisi 1 mengapresiasi dan mendukung kegiatan tersebut.

“Sebagai anggota dewan yang membidangi komunikasi dan informatika, kami siap mendukung kegiatan-kegiatan positif menyangkut media, seperti kegiatan sekarang ini,” ucapnya disambut tepuk tangan peserta. (Moh.Salapudin/Kendi Setiawan)         

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 13 Maret 2005

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi

Lebak, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Para kiai di wilayah Lebak, Banten, menyelanggarakan Halaqah Alim Ulama Nusantara bertema “Membangun Gerakan Pesantren Antikorupsi” di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Jalan Sampay-Cileles Km. 05 Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai Lebak Deklarasikan Gerakan Pesantren Antikorupsi

Halaqah yang diselenggarakan atas kerja sama Kemitraan (Partnership), Gusdurian dan Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini menjadi kelanjutan dari kegiatan yang sama di Yogyakarta akhir Juli 2015.

Rais Syuriah PCNU Lebak KH. Muhammad Mas’ud yang hadir dalam kesempatan itu menyatakan, para kiai perlu berjihad melawan korupsi yang sudah kian mentradisi dalam masyarakat Indonesia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Jika melihat kemungkaran seperti korupsi, maka ubahlah dengan tangan atau kekuasaan kita. Kita tidak boleh membiarkannya,” jelas pendiri Pondok Pesantren al-Hidayah Lebak ini, Rabu (2/9).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Terkait wacana hukum mati bagi koruptor, Kiai Mas’ud menyatakan, membunuh satu orang untuk melindungi ribuan orang lain bisa dimaklumi dan bahkan dibenarkan. “Lebih manusiawi mana membunuh satu orang atau membiarkan korupsi yang mengancam kelangsungan hidup orang banyak?” ujarnya.

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua MUI Kabupaten Lebak menyatakan bahwa korupsi tidak akan terjadi di pesantren. “Apanya yang mau dikorupsi?” tanyanya. “Namun demikian, para kiai harus hati-hati jika menerima uang yang tidak jelas asal-muasalnya,” imbuhnya. ? ? ?

Usai sambutan para kiai, halaqah dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ahmad Suaedy dari Gurdurian, Iwan Misthohizzamam dari Kemitraan, Dr. KH. Amas Tajuddin dari kalangan kiai pesantren dan Nurul H. Maarif sebagai perwakilan peserta halaqah di Jogjakarta.

Pada intinya, semua peserta sepakat untuk turut andil bersama pemerintah memberantas korupsi. Karena itu, di akhir kegiatan diadakan deklarasi yang disebut sebagai Deklarasi Lebak Membangun Gerakan Pesantren Antikorupsi, yang naskahnya dibacakan oleh KH. Asep Saefullah, M.Pd., Pengasuh Ponpes La Tahzan sekaligus Ketua ISNU Kabupaten Lebak.? ?

Secara umum, kegiatan ini sendiri bertujuan untuk; 1)? melindungi dan menjauhkan rakyat dan para pemimpin agama di masyarakat dari keterlibatan di dalam jaringan korupsi; 2) Memberi pemahaman kepada para pemimpin agama dan masyarakat tentang ancaman dan kerugian akibat korupsi terhadap kesejahteraan rakyat Indonesia; 3) Mendorong para ulama dan lingkungan pesantren untuk ikut mendukung dan mencegah terjadi korupsi di semua level dalam berbagai bentuk korupsi; 4) Memberi perlindungan kepada para pelaku gerakan antikorupsi dari serangan jaringan koruptor di berbagai daerah.

Pada kegiatan yang diselenggarakan setengah hari ini, tampak hadir Ketua MUI Kabupaten Lebak yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH Achmad Syatibi Hambali, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Lebak KH Muhammad Mas’ud, intelektual NU KH Amas Tajuddin, Ahmad Suaedy dari Gusdurian, Iwan Misthohizzamam dari Kemitraan, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Lebak Ade Budjaerimi, Ketua PC Fatayat Kabupaten Lebak Siti Nurasiah, Ketua ISNU Lebak KH. Asep Saefullah, dan lainnya. (Nurul Huda Maarif/Mahbib)

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nasional, Fragmen, Kiai Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 19 Februari 2005

Ada Syiar Islam dalam Seni Kaligrafi

Kudus, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selain memiliki keindahan, seni kaligrafi terkandung nilai-nilai syiar agama Islam. Karya Seni kaligrafi menuntun orang bisa belajar membaca dan memahami Al-Qur’an.

Demikian disampaiakn seniman kaligrafi asal Kudus Turmudzi El Fais ditemui Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat menjadi juri lomba Kaligrafi IPNU-IPPNU Kudus, akhir pekan lalu.

Ada Syiar Islam dalam Seni Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Syiar Islam dalam Seni Kaligrafi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Syiar Islam dalam Seni Kaligrafi

Turmudzi mengatakan  kaligrafi merupakan seni Islam yang sangat tinggi nilainya. Kaligrafi tidak hanya  mencakup manual tulisan Arab (Al-Qur’an maupun Hadits) saja, tetapi terdapat juga ornamen dan hiasan yang indah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Dalam hadits nabi terdapat perintah untuk memperbagus tulisan (Khot), niscaya akan terbuka pintu rizki. Jadi berkarya seni ini akan terlihat syiar, begitu pula maisyahnnya,” tandas peraih  juara menulis khot tingkat ASEAN  di Brunei Darussalam Mei 1996.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Saat ini, kata alumni MA NU TBS Kudus ini, dunia kaligrafi mengalami kemajuan. Bukan saja para seniman yang terus berkarya melainkan minat masyarakat terhadap kaligrafi semakin tinggi. 

“Para Seniman kaligrafi sekarang selalu  sibuk untuk berkarya baik pesenan ataupun pameran. Bahkan sekarang saya saja menggarap hiasan kaligrafi untuk masjid-masjid.” terang Turmudzi.

Di kalangan pelajar, ujar seniman yang beralamat di Jl. Sunan Muria No.12 RT.02 RW.I Bae Kudus ini, sangat meningkat peminatnya. Sekarang ini, belajar kaligrafi sudah banyak diminati pelajar putri. 

“Kalau dulu hanya pelajar putra, sekarang ada kemajuan. Pelajar putri juga memiliki kemampuan yang baik,” kata Turmudzi mengapresiasi.

Untuk meningkatkan kemahiran pelajar, Turmudzi menilai  banyaknya event-event lomba akan menumbuhkan semangat berkompetisi serasa  mengasah ketrampilannya menulis kaligrafi. 

“Lebih sering ada lomba, kemampuan mereka akan lebih berlatih dan memiliki jam terbang yang banyak,” tegas pria yang telah menciptakan ratusan karya kaligrafi ini. 

Turmudzi berharap madrasah atau sekolah melakukan pembinaan kepada anak didiknya dengan pembimbing khusus yang membidangi seni kaligrafi. 

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 02 Desember 2004

Radikalisme Islam di Indonesia

Judul Buku: Geneologi Islam Radikal di Indonesia   

Penulis: M. Zaki Mubarak

Penerbit: LP3ES, Jakarta

Cetakan: 2008

Radikalisme Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Islam di Indonesia

Tebal: xxxvii + 384 halaman

Peresensi: Muhamad Ismaiel

Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Mohammed Arkoun (1999) melihat fundamentalisme Islam sebagai dua tarikan berseberangan, yakni, masalah ideologisasi dan politis. Dan, Islam selalu akan berada di tengahnya. Manusia tidak selalu paham sungguh akan perkara itu. Bahwa fundamentalisme secara serampangan dipahami bagian substansi ajaran Islam. Sementara fenomena politik dan ideologi terabaikan. Memahami Islam merupakan aktivitas kesadaran yang meliputi konteks sejarah, sosial dan politik.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Demikian juga dengan memahami perkembangan fundamentalisme Islam. Tarikan politik dan sosial telah menciptakan bangunan ideologis dalam pikiran manusia. Nyata, Islam tidak pernah menawarkan kekerasan atau radikalisme. Persoalan radikalisme selama ini hanyalah permaianan kekuasaan yang mengental dalam fanatisme akut. Dalam sejarahnya, radikalisme lahir dari persilangan sosial dan politik. Radikalisme Islam Indonesia merupakan realitas tarikan berseberangan itu.

Tepat di sinilah, buku Geneologi Islam Radikal di Indonesia mengungkap realitas politisasi dan radikalisasi Islam. Zaki membuat batasan antara Islam sebagai ajaran penuh damai dan Islam setelah terkooptasi politik ke-Indonesia-an. Baginya, radikalisme merupakan persoalan kompleksitas yang tidak berdiri sendiri. Hampir seluruhnya memiliki pendasaran sangat politis dan ideologis. Layknya sebuah ideologi yang terus mengikat, radikalisme menempuh jalur agama untuk dapat membenarkan segala tindakan anarki. Maka, Islam tak sama dengan radikalisme.

Meski demikian, keberkaitan dengan kultur dan cara berpikir, membuat Islam dan radikalisme tak mengenal ruang. Seakan melebur dalam keberagamaan. Berawal dari memproduksi fanatisme, radikalisme masuk ke dalam ajaran Islam hingga dianggap bagian dari Islam. Lalu, membentuk pemahaman baru, bahwa Islam adalah agama kekerasan. Padahal, setiap agama memiliki sejarah kelam tentang paham fundamental, radikal atau kekerasan. Islam adalah satu di antara banyak agama dunia yang dituding penganjur paham fundamental.

Adalah keberimanan statis membuat radikalisme tak lekang oleh zaman. Ber-Islam dengan iman statis kerapkali menampilkan justifikasi hitam-putih hingga berlanjut pada pembelaan berlebihan terhadap keyakinannya. Saat itu, paham radikal sedang menjadi ideologi mengikat bagi kaumnya. Seperti dikemukakan Eric Hoffer tentang dogmatisme yang mencipta ketundukan mutlak. Tak hanya berhenti pada cara berpikir, dogmatisme demikian liarnya mencipta sikap pasrah.

Namun, Zaki tak mau berhenti di titik itu. Menghadirkan fakta sejarah dari pascakemerdekaan sampai kini merupakan kekuatan untuk mengungkap geneologi redikalisme Islam Indonesia. Buku ini mengungkap tapal perjalanan kaum radikal; Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Laskar Jihad sepanjang medio 2002, 2003 dan 2005 terutama setelah reformasi.



Sejarah dan Kuasa


Sejarah radikalisme Islam Indonesia sudah ada sejak dulu. Sejak Kartosuwirjo memimpin operasi 1950-an di bawah bendera Darul Islam (DI). Setelah DI, Komando Jihad (Komji) pada 1976 meledakkan tempat ibadah. Pada 1977, Front Pembebasan Muslim Indonesia melakukan hal sama. Dan tindakan teror oleh Pola Perjuangan Revolusioner Islam, 1978.

Teror perlahan memilihkan namanya sendiri untuk Islam radikal, sekalipun belum ada istilah tepat untuk menyebut realitas macam itu. Radikalisme merupakan sebentuk penguasaan tafsir atas Islam secara tekstual. Juga, peradaban teks dengan memperjuangkan formalisasi syariat. Militansi pun berlangsung dan memperkuat gerak Islam radikal di Indonesia.

Radikalisme Islam Indonesia lahir dari hasil persilangan Mesir dan Pakistan. Nama-nama seperti Hassan al-Banna, Sayyid Qutb dan al-Maududi terbukti memengaruhi. Pemikiran mereka membangun cara memahami Islam ala garis keras. Setiap Islam disuarakan, nama mereka semakin melekat dalam ingatan. Bahkan, sampai tahun 1970-1980-an ikut menyemangati perkembangan komunitas usroh di banyak kampus atau organisasi Islam. Juga, FPI dan HTI.

Istilah radikalisme Islam kian menguat tak hanya pada matra tekstualitas agama. Persentuhan dengan dunia kini, menuntut adanya perluasan gerakan. Mulai dari sosio ekonomi, pendidikan hingga ranah politik.

Mungkin, di sinilah letak kekuatan radikalisme Islam Indonesia. Semakin melekat dalam setiap segmentasi sosial, semakin susah dibendung. Ia pandai membaca ruang sosial yang tak cepat lekang. Karena memahami setiap ruang akan mengantarkan radikalisme mencipta mentalitas kultural.

Dari sini, ideologi radikal tampak begitu dekat dengan permainan kuasa. Menempuh jalur politik diyakini dapat mengantarkan Islam pada kondisi lebih tinggi, yaitu, mimpi formalisasi syariat dan terbentuknya negara Tuhan.

Sampai kini, kaum radikal terus berjuang untuk dua hal itu, baik melalui lobi-lobi politik maupun fundamental-ideologis. Ironisnya, Islam hanya dijadikan pendasaran politik kepentingan. Padahal, dalam praktiknya, teror, anarki dan kekerasan secara bergantian dilakukannya. Tidak ada batas baik-buruk, moral-amoral. Semuanya berjalan di tataran politik yang menjauh dari Islam. Akhirnya, radikalisme kadang keliru dalam memahami Islam.

Antara fundamental-ideologis atau kuasa politik, tak bisa menolak realitas pengeremangan Islam. Pemurnian Islam yang dibayangkannya terjebak pada penistaan. Egoisme politik telah mengaburkan cara beragama mereka. Dan, mimpi formalisasi syariat dengan tindak kekerasan hanya menyudutkan Islam. Bahwa Islam sebentuk agama penganjur kedamaian sekaligus keretakan sosial.

Memang, kaum radikal terus mengulang sejarah politisasi agama yang berujung pada sebuah penistaan. Buku ini mencontohkan, bagaimana aksi teror Komando Jihad tahun 1976 hanya menyisakan keresahan sosial. Orang tak lagi nyaman dalam beragama, sebab dihantui kecurigaan antarsesama.

Hingga penelitian ini selesai pada akhir 2005, dogmatisme-ideologis dan permainan kuasa politik masih diminati oleh kelompok Islam radikal Indonesia. Sama seperti meminati kekerasan di jalan Allah.



Peresensi adalah Peraih Paramadina Fellowship 2008
Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, Tokoh, Sholawat Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 28 Oktober 2004

GP Ansor Labuhan Istiqomah Bantu Masyarakat

Lampung Timur, Pimpinan Pusat Muhammadiyah?

Menderita hernia lima tahun cukup menyiksa Syamsudin, warga Desa Bandar Negeri, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Lalu apa yang akan dilakukan Gerakan Pemuda Ansor setempat membantu pria kelahiran Ponorogo, Jawa Timur yang sehari-hari mengurangi sakitnya dengan potongan sandal jepit untuk mengganjal testisnya tersebut?

GP Ansor Labuhan Istiqomah Bantu Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Labuhan Istiqomah Bantu Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Labuhan Istiqomah Bantu Masyarakat

"Inysaallah kami akan istiqomah setelah membantu masyarakat setelah membuktikan sendiri manfaat Aji Tapak Sesontengan," ujar Ketua PAC GP Ansor Labuhan Maringgai, Basiruddin, di Lampung Timur, Selasa (25/7).

? ? ?

Beberapa kali mendampingi Pelaksana Tugas Kepala Staf Unit Khusus Banser Husada Satkorwil Banser Lampung Gatot Arifianto yang juga kamituo (master) Aji Tapak Sesontengan menerapi masyarakat Labuhan Maringgai yang menderita penyakit medis dan nonmedis, Basiruddin tertarik untuk turun tangan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

? ? ?

"Diinisiasi Aji Tapak Sesontengan tidak ada lima menit langsung praktik. Sampai sekarang saya masih heran, pokoknya tidak masuk akal, saya sentuh lembut sebentar bagian yang sakit, masyarakat yang saya tangani mengaku lebih enak dan sakitnya berkurang. Dengan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat itu, sangat layak kami gatal berbuat baik atau terus bergerak untuk membantu masyarakat," kata Basiruddin lagi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

? ? ?

Setelah ditangani Basiruddin, Syamsudin mengaku sakitnya berkurang jauh. "Diterapi pertama tidak sampai lima menit ada perubahan, sakit yang saya derita hingga ke bagian perut berkurang jauh. Makanya ini datang lagi karena saya sudah mencoba, dan Alhamdulillah hasilnya bisa dirasakan," kata Syamsudin lagi.

? ? ?

Menangani sakitnya selama ini, Syamsudin lebih banyak menggunakan jasa pijat hingga minum jamu supaya tidak gampang lelah guna menekan ? nyeri hernia dideritanya.?

? ? ?

"Penyembuhan Aji Tapak Sesontengan ini cukup cepat, tidak sakit, hanya disentuh-sentuh lembut saja dengan jari," kata dia lagi.

? ? ?

Senada Syamsudin, Bidayati warga setempat lain yang menderita penyakit punggung selama lima tahun akibat jatuh dari motor mengaku kondisinya membaik setelah diterapi.

? ?

"Kaki juga sudah bisa diluruskan dan tidak sakit lagi. Alhamdulillah, ada perubahan setelah ditepuk-tepuk sebentar," ujar Bidayati.

? ?

Untuk diketahui, ATS merupakan ilmu penyembuhan kilat warisan leluhur NUsantara yang bisa dipelajari tanpa mantra, tanpa meditasi, tanpa puasa, tanpa menjurus agama tertentu, tanpa pelatihan-pelatihan berikutnya, tidak menggunakan alat bantu apapun di luar diri, menyembuhkan tanpa menyakiti mahluk atau "benda" lain.?

? ? ?

ATS saat ini dalam misi penyebaran untuk membantu penyembuhan masyarakat, bisa diterapkan untuk pertanian hingga menekan kerusakan alam. Informasi dan aktivasi 085382008080. (Erli Badra/Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib, Pendidikan, Quote Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 02 Juli 2004

Seperti Apa Cara Menghafal Al-Quran di Maroko?

Membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara berulang-ulang atau mengartikan arti kata demi kata ? terlebih dahulu dengan didampingi seorang hafidz, ini adalah metode ? menghafal al-Quran yang berlaku di Indonesia. Bagaimana dengan Maroko?

Ada sebuah film yang berdurasi kurang lebih 30 menit yang berkisah tentang cara menghafal Al-Quran di Maroko, yakni metode menghafal dengan cara menulis.

Seperti Apa Cara Menghafal Al-Quran di Maroko? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Apa Cara Menghafal Al-Quran di Maroko? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Apa Cara Menghafal Al-Quran di Maroko?

Metode ini menggunakan alat yang disebut lauh atau dalam bahasa Indonesianya papan ? dengan ukuran yang tidak terlalu besar berkisar 50 cm berbentuk persegi panjang dengan dihiasi garis-garis yang dibuat secara permanen, untuk memudahkan dalam menulis ayat-ayat Al-Quran.

Santri-santri hufadz atau santri penghafal Al-Quran yang mayoritas merupakan penduduk ? sekitar masjid setiap harinya harus menulis semua ? ayat Al-Quran yang akan dihafalnya. Penulisan ini dilakukan di atas papan yang telah disiapkan dengan menggunakan pensil yang terbuat dari bambu atau sejenisnya yang didesain dengan tinta khusus.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari sekian banyak santri, ada yang menulisnya hingga 5 ayat bahkan sampai 50 ayat, tergantung kadar kemampuannya. Setelah papan telah penuh dengan ayat Al-Quran yang akan dihafal, maka selanjutnya ketelitian sang guru dalam membetulkan tulisan santri inilah yang akan menentukan kebenaran hafalan santri.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Setelah semua tulisan diperiksa, sang santri pun mulai membaca berulang-ulang dengan badan yang dihadapkan ke papan.

Keisitimewaan menghafal dengan cara menulis di atas papan santri akan lebih teliti ketika diminta menuliskan ayat-ayat Al-Quran yang telah dihafalnya karena telah terbiasa menyalin dari mushaf ke papan.?

Menurut Ust Ali, salah seorang staf pengajar di Darul Quran Kenitra, salah satu keistimewaan yang lain adalah konsentrasi seorang santri akan tertuju hanya pada satu papan yang ada di depanya, lain halnya ketika dengan menggunakan mushaf, konsentrasi itu akan terbagi dengan halaman lain yang dilihatnya.

Kelebihan lain adalah kesabaran yang terus dilatih pada diri santri ketika menuliskan ayat demi ayat dari Al-Quran, yang sejatinya mereka mampu untuk menghafal secara langsung tanpa menulis terlebih dahulu.

Apakah metode seperti ini perlu diterapkan di pesantren tahfidz yang ada di Indonesia? Silakan dicoba lebih dulu!

Nizar Presto

Mahasiswa STAINU Jakarta, sedang mengikuti program kelas internasional di universsitas Ibn. Thofail, Kenitra, Maroko.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai, Khutbah Pimpinan Pusat Muhammadiyah