Rabu, 20 April 2011

Habib Luthfi Sarankan Rawat Yatim, Bukan Dirikan Panti

Brebes, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ra’is ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah Habib Luthfi bin Ali Yahya tidak sepakat dengan pendirian Panti Asuhan Yatim Piatu. Sebab hanya menambah penderitaan Si Yatim atau Si Piatu itu sendiri. Hatinya juga dikerdilkan ketika dewasa dan menjadi beban tersendiri ketika mendapatkan kesuksesan di kala dewasa. ? Apalagi jika Panti Asuhan sekadar dibisniskan dan melenceng dari koridor tatanan agama.?

Habib Luthfi Sarankan Rawat Yatim, Bukan Dirikan Panti (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Sarankan Rawat Yatim, Bukan Dirikan Panti (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Sarankan Rawat Yatim, Bukan Dirikan Panti

“Ketika dewasa dan sukses, kerap kebesaran anak Yatim disebut-sebut atas jasa sebuah panti,” kata Habib ketika mengisi pengajian Bumiayu Bersholawat dalam rangka Peringatan Isra Miraj di halaman Masjid Baitul Rohim, Kamis malam lalu (23/5).

Yang dikehendaki Habib adalah bagaimana menjadi pengganti ayah atau ibu dari yang si anak yatim piatu itu sesungguhnya. Anak yatim itu menjadi kewajiban orang per orang individu untuk menjadi pengganti dari orang tua yang telah hilang.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Bukan dengan dititip-titipkan di panti asuhan,” kata habib.

Habib menyayangkan maraknya ‘perlombaan’ mendirikan panti asuhan tetapi amat sedikit individu-individu keluarga yang di dalamnya ? mengasuh anak yatim.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

“Kalau tiap individu dermawan mengasuh anak yatim menjadi bagian dari keluarganya, tentu tidak ada masalah dalam menanggulangi kemiskinan dan beban berat anak yatim,” ujarnya.

Selain itu, Habib juga mengingatkan agar tali silaturahmi harus terus diikatkan agar tercapai kemuliaan hidup. Bahkan silaturahmi mampu menolak bala. Terutama silaturahim kepada kedua orang tua. Bila sudah meninggal, tentu dengan mendatangi kuburannya atau ziarah.?

“Akan lebih indah mana, ketika kita mengirim uang kepada orang tua dengan transfer atau kita antar sendiri?” tanya Habib yang dijawab hadirin dengan kata datang sendiri.

Selain itu, Habib menganjurkan umat Islam untuk selalu bersholawat sebagai ungkapan kasih sayang dan kecintaan kepada Nabi. Bila sholawat terus dikumandangkan ibarat bumi yang gersang akan tumbuh pepohonan sehingga rindang dan subur.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti merasa gembira dengan berbagai kegiatan keagamaan yang bertajuk sholawat. Dia berharap keberkahan akan terus tercurahkan kepada bumi Brebes sehingga masyarakatnya akan senantiasa sejahtera lahir batin dalam lindungan Allah SWT.

Ketua Panitia H Faris Sulhaq menjelaskan, pengajian terselenggara atas kebersamaan antara pengurus masjid, Pemkab, Polres dan Dandim 0713 Brebes. Dengan kebersamaan antara ulama dan umara akan tercipta kondusifitas yang indah. Persatuan dan kesatuan dari berbagai elemen masyarakat akan memperkokoh jalinan ukhuwah islamiyah, wathoniyah, bashariyah.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kyai Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 02 April 2011

Mustasyar PBNU KH Chasbullah Badawi Tutup Usia

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Belum genap sepuluh hari warga NU ditinggal wafat Mustasyar PBNU KH Mahfudz Ridwan, malam ini kabar duka kembali datang dari Pondok Pesantren al-Ihya Ulumaddin Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah. Salah seorang Mustasyar PBNU yang juga pengasuh pesantren setempat, KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6) sekitar pukul 19.00 WIB.

Kiai Chasbullah mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Geryati Purwokerto, Jawa Tengah. Berita tetang meninggalnya ulama NU ini menyebar di grup-grup Whatsapp dan mengundang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan.

Salah satu tokoh NU Ahmad Tohari mengenang Kiai Chasbullah sebagai pribadi yang baik dan disegani masyarakat. Ia menyebut Kiai Chasbullah sebagai orang yang “ahli husnudhan”, suka berprasangka positif.

Mustasyar PBNU KH Chasbullah Badawi Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PBNU KH Chasbullah Badawi Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PBNU KH Chasbullah Badawi Tutup Usia

“Sama siapa saja pikirannya dan pandangannya baik. Ini yang menyebabkan dihormati siapa saja dan menjadi modal untuk menguatkan solidaritas. Gus Dur saja menghormati beliau,” tutur sastrawan ini melalui surat elektreonik, Senin.



Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Kiai Chasbullah Badawi menjadi pengasuh Pesantren al-Ihya Ulumaddin atau dikenal juga dengan sebutan Pesantren Kasugihan meneruskan kepengasuhan ayahnya KH Badawi dan saudaranya Mustolih Badawi. Pesantren yang berdiri sejak NU belum berdiri ini sekarang memiliki pendidikan untuk berbagai jenjang, mulai kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Kiai Chasbullah mengemban amanah sebagai Mustasyar PBNU selepas Muktamar Ke-33 NU di Jombang, 2015 lalu? (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fragmen, Santri Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 29 Maret 2011

Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Istana

Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu.

”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.

Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Istana (Sumber Gambar : Nu Online)
Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Istana (Sumber Gambar : Nu Online)

Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Istana

”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.

”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.

”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Umar kemudian meminta pembantunya mengambil lampu dari ruang dalam.

"Nah, sekarang lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Silakan putraku memulai pembicaraan dengan ayah."

Begitulah perangai pejabat sejati. Ternyata, puncak kejayaan di berbagai bidang tak lantas membuat Umar bin Abdul Aziz terperdaya. Meski prestasinya banyak dipuji, pemimpin berjuluk ”khalifah kelima” ini tetap bersahaja, amanah, dan sangat hati-hati mengelola aset negara. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amalan, Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 19 Maret 2011

Warga NU Sulawesi Baca Barzanji dengan Bahasa Bugis dan Makassar

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nadhdlatul Ulama (NU) berencana mengerahkan 1.000 warga NU untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW atau Maudu Lompoa yang digelar Pemerintah Kota Makassar di Anjungan Pantai Losari, Kamis (24/12) mendatang. Dalam Maudu Lompoa warga akan membaca riwayat hidup nabi dengan bahasa Makassar dan Bugis.

Warga NU Sulawesi Baca Barzanji dengan Bahasa Bugis dan Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Sulawesi Baca Barzanji dengan Bahasa Bugis dan Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Sulawesi Baca Barzanji dengan Bahasa Bugis dan Makassar

"Kami dari NU Makassar siap ambil bagian guna menyukseskan Maudu Lompoa yang digagas Pemkot Makassar dengan mengerahkan warga NU," ujar Wakil Ketua PCNU Makassar M Nur Khalik, Senin (21/12).

Nur Khalik menambahkan, pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU di setiap kecamatan di Makassar diminta mengirimkan perwakilan untuk ambil bagian dalam zikir dan pembacaan Barzanji.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Nanti kegiatan Al-Barzanjinya dilantunkan dalam dua bahasa, Makassar dan Bugis," bebernya didampingi pengurus NU Makassar.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut H Hasnawi, warga yang datang bisa berjumlah di atas 20 ribu sebagai bukti cinta mereka terhadap Rasulullah SAW. Seperti tahun-tahun sebelumnya peringatan maulid tahun ini kembali digelar tabligh akbar dan lomba bakul maulid antarinstansi sekota Makassar.

Peringatan Maudu Lompoa kali ini mengambil tema "Dengan Maudu Lampoa Nabi Besar Muhammad SAW 1437H, Mari Kita Teladani Akhlak Rasulullah dalam Mewujudkan Kota Makassar 2 Kali Lebih Baik".

Sekretaris kota Makassar Ibrahim Saleh menyampaikan pesan dan imbauan agar selurub lapisan masyarakat dapat berpartisipasi aktif menyukseskan kegiatan tersebut. Rencana taushiyah akan disampaikan oleh DR H Othman Shihab. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 10 Maret 2011

KH Ishom: Ahlul Halli, Putusan Munas Yang Mengikat

Jombang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin (Gus Ishom) menyatakan bahwa keputusan yang disepakati dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama NU itu bersifat mengikat dan wajib ditaati oleh semua pengurus NU di setiap tingkatan. Norma ini mengacu pada amanah muktamar sebelumnya.

Gus Ishom mengimbau seluruh muktamirin untuk bersama-sama mendukung sistem Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang ini.

KH Ishom: Ahlul Halli, Putusan Munas Yang Mengikat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ishom: Ahlul Halli, Putusan Munas Yang Mengikat (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ishom: Ahlul Halli, Putusan Munas Yang Mengikat

Di sela sela kesibukan sebagai panitia Muktamar, Sabtu (1/7), Gus Ishom menambahkan bahwa semua diktum keputusan Munas NU terus berlaku hingga seluruh peserta muktamar berikutnya sepakat membatalkan hasil kesepakatan Munas.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai dari kabupaten Pringsewu Lampung ini mengingatkan bahwa Muktamar NU adalah permusyawaratan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama.

"Namun sepanjang sejarah NU belum pernah ada hasil kesepakatan Munas NU yang dibatalkan dalam sebuah Muktamar NU berikutnya," jelasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 01 Maret 2011

Para Mantan Petani

Oleh Abdullah Zuma



Pagi dengan cangkul tak mengayun, arit tidak menyabit. Petani tidak kemana-kemana karena sawah bukan milik mereka dan tak mungkin ditanami lagi. Sekeliling kampung mereka tanah menganga belasan meter. Isi perutnya diangkut truk-truk siang malam, bertahun-tahun. Nganga tanah terassering. Bagian dalamanya, menyerap air sumur mereka. Sementara bagian atasnya bebatuan tanpa kehidupan. ?

Para Mantan Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Mantan Petani (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Mantan Petani

Sebagian petani itu memang memiliki huma agak jauh dari kampung mereka. Tapi sudah pindah tangan ke orang kota dengan cara yang sah. Kebun di atas bukit berganti jadi vila dengan cara yang sah juga. Tak ada alasan mereka untuk memintanya lagi.

Mereka kemudian kehilangan ritualnya dengan tanah. Kemudian hanya termangu menunggu apa menunggu siapa. Menunggu. Bosan menunggu, mereka mengasah. Petani pemilik golok, mengasah golok. Petani lain mengasah cangkul. Petani lain mengasah arit. Setelah tajam mereka tak tahu untuk apa. Sungguh tajam tak berguna. Tapi besoknya mereka mengasah lagi. Mengasah dan mengasah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Mereka memang sekarang tidak ke sawah, tidak ke huma, ke kebun. Mereka tidak capek, tapi justru tak berkeringat dan tak tahu apa yang harus dikerjakan lebih menyengsarakan daripada bekerja seharian.

Pagi lain, ketika matahari sepenggalah, tiga mantan petani dengan alat pertanian tajam berpapasan di pertigaan di tengah kampung mereka, di bawah dua pohon kwini besar berdempetan. Di situlah satu-satunya tanah lapang mereka. Persis di bawahnya tersedia bangku memanjang, tempat duduk anak-anak muda yang dulu ramai menjelang seore sampai larut malam. Kini tidak lagi. Sebagian mereka pergi ke luar kampung untuk mencari pekerjaan. Tapi tak pulang-pulang tanpa kabar. Sebagian anak muda tetap bertahan, karena keluar kampung, meski jelas tujuannya, tapi tak tahu caranya, sama dengan membuang diri.? ? ?

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” kata pengasah golok sambil melempar rokok kretek terakhirnya yang memuntung. Ia bertanya kepada dua temannya, tapi tatapannya ke puntung yang masih berasap. Tatapannya seolah mengatakan, kapan bisa mengisap rokok lagi.

“Ya, apa yang harus kita kerjakan?” pengasah cangkul malah balik tanya.

“Bukankah kita sekarang punya pekerjaan baru?” pengasah arit berkata.

“Pekerjaan apa?” pengasah cangkul dan pengasah golok bertanya hampir berbarengan. Kata “pekerjaan” begitu berharganya bagi mereka, seperti orang lapar melihat nasi.? ?

“Mengasah barang-barang pertanian milik kita,” kata pengasah arit.

“Tapi kita akan kehabisan bahan makanan,” kata si pengasah golok yang masih menatap? puntung yang kini tak berasap sama sekali.

"Ya. Padi akan akan habis karena kita tak menanamnya. Padi tak bisa ditanam di atas genting rumah kita,” kata pengasah cangkul.

“Beras tinggal beberapa jumput. Tiap hari istriku marah,” ratap pengasah golok. Kini tatapannya pada semut rangrang yang beriringan di pohon kwini. Ia bicara seolah untuk dirinya sendiri karena malu, terdengar semut itu, betapa tak berharganya ia di hadapan keluarga.

“Lama-lama, kalau begini kita bisa mati,” kata pengasah cangkul.

“Ya, kita bisa mati,” tambah pengasah golok pelan.

“Semua memang akan mati,” kata pengasah arit.

“Aku tak mau mati sementara cangkulku tajam.”

“Aku juga tak rela, sementara golokku tajam.”

“Jangan banyak bicara. Lebih baik kita mengasah saja. Mungkin saatnya nanti bisa kita gunakan kembali. Sementara, kita jaga jangan sampai berkarat.”

“Sampai kapan?”

“Sampai saatnya nanti.”

“Saatnya nanti itu kapan?”

“Mmm...aku juga tidak tahu.”

“Huh...!”

“Daripada kita hanya bicara lebih baik kita mengasah,” katanya membela diri. Kalau tidak mau, ya sudah aku tidak memaksakan. Kita para petani tidak pernah saling memaksa. Tanganku sudah gatal. Aku mau mengasah saja,” katanya ngeloyor pergi untuk mengasah arit yang tak perlu diasah lagi.

***

Keesokan harinya tiga orang itu bertemu lagi di bawah pohon kwini dempet. Ternyata pengasah golok mengajak beberapa pengasah golok lain. Pengasah cangkul mengajak banyak pengasah lain. Pengasah arit diikuti pengasah parang, pengasah ketam dan pengasah-pengsah lain.

Lalu pengasah-pengasah itu saling mengemukakan pertanyaan. Kalaupun ada yang menjawab, justru jawaban berbentuk pertanyaan. ?

“Masa kita mengasah terus?”

“Mau apa lagi?”

“Kita mesti melakukan sesuatu.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Sekarang aku belum tahu. Coba kita pikirkan.” Kali ini si pengasah parang mengajak, tidak bertanya.

“Aku sudah jarang berpikir. Aku biasanya bekerja. Bukan berpikir.”

“Bukankah saat bekerja juga berpikir?” tanya si pengasah arit.

“Aku tidak tahu.”

“Aku rasa tidak. Bekerja ya bekerja. Bepikir ya berpikir. Dua hal yang berbeda.”

“Iya. Saat aku bekerja rasanya aku tak berpikir. Aku hanya mengayunkan cangkul, kemudian otot-ototku keluar dan sekujur tubuhku berkeringat,” kata yang lain menambahkan.

“Betul! Saat bekerja kita tidak menggunakan pikiran tapi meggunakan otot.”

“Tapi ada benarnya apa yang dikatakan pengasah parang. Kalau tidak berpikir, apakah pekerjaan kita akan selesai?” tanya pengasah arit.

Semuanya diam.

“Maksudnya?” salah seorang minta penjelasan.

“Coba orang gila kita kasih cangkul. Kita suruh mencangkul sawah. Apakah akan selesai?”

Terdiam.

“Apakah dia akan bisa membuat pematang sawah yang bagus sepert kita? Dan bagiku tidak hanya orang gila, coba orang kota suruh bikin pematang sawah, pasti berantakan. Membikin pematang itu, berarti kita membikin tanggul dengan kaki, tapi harus selaras dari ujung ke ujung. Harus rata. Bukankah waktu membikinnya kita berpikir, menghitung, mengira-ngira apakah pematang ini bagus atau tidak. Bahkan bagiku tdak hanya berpikir, tapi berseni. Coba kalau anak kecil bikin pematang, pasti serampangan. Kita akan malas melihatnya. Kita tidak menyadari bahwa itu berpikir dan seni karena kita terlau sering melihat itu. Jadi bisa dikatakan kita berpikir dan hasilnya karya seni.”

Semuanya tetap terdiam.

“Kalau kita lacak lebih jauh, masih ingat bagaimana orang tua kita dahulu menciptakan perhitungan lewat bintang. Mereka bisa menentukan kapan waktunya menanam padi dengan baik, menghindar pada waktu yang jelek. Menciptakan alat-alat pertanian. Kenapa pula kita jangan menumbuk padi pada hari Senin, dilarang menebang bambu pada hari Sabtu. Itu hasil penlitian orang tua kita berdasarkan pengalaman terus menerus,” pengasah arit menambahkan.

“Petani juga berpikir...” gumam seseorang di belakang dengan tatapan kosong.

Semuanya masih terdiam.

"Kalau tidak berpikir, bagaimana mungkin kita bisa menjual padi, menghitung kilo, membayar pajak, membayar pembajak sawah. Kita berpikir. Cuma kita tidak merasa kita berpikir,” kata pengasah arit lagi.

“Tapi apa untungnya kita berpikir. Katakanlah kita memang bisa berpikir, tapi buat apa sementara yang kita butuhkan adalah beras. Beras itu berasal dari padi. Padi itu harus ditanam. Dan sudah kubilang padi tak hidup di atas bubungan rumah atau batu kali,” kata pengasah cangkul.

Pengasah arit diam tak berkutik.

Kemudian mereka pulang. Tapi kata-kata itu “petani berpikir” masih menyelinap dalam otak masing-masing. Pada malam harinya mereka susah tidur, membayangkan dan mengutak-atik istilah yang muncul di bawah batang kwini, “petani berpikir”. Yang bisa tidur, mereka mimpi tentang “petani berpikir”.

***

Pagi esoknya, mereka berkumpul kembali. Yang datang makin bertambah. Tentunya mereka setelah mengasah golok, pisau, parang dan cangkul, ketam dan alat-alat pertanian lain. Bahkan bebera perempuan dan anak-anak turut serta.

“Ya, aku rasa kita berpikir. Kita tidak hanya bekerja.”

“Kalau kita sudah merasa berpikir, kenapa?”

“Kita harus melihat dulu, guna berpikir untuk apa,” kata pengasah parang.

“Berpikir ya untuk memikirkan sesuatu. Misalnya persoalan. Tinggal kita tentukan soalnya apa? Lalu berpikirlah kita,” jawab pengasah ketam yang semalaman tak bisa tidur. ?

“Bagiku berpikir dan tidak, sama saja,” kata pengasah cangkul.

“Jangan berkata seperti itu! Menurutku, persoalan kita adalah kita akan mati kelaparan. Lalu bagaimana caranya supaya tidak mati kelaparan?” kata pengasah parang.

“Atau kita cari tahu dulu, apa sebabnya kita takut kelaparan,” kata pengasah arit.

“Kalau itu pertanyaannya, kemarin sudah aku jelaskan, kelaparan disebabkan makanan. Makanan kita beras. Jadi yang kita butuhkan adalah beras. Beras itu berasal dari padi. Padi itu harus ditanam. Dan sudah kubilang padi tak hidup di atas bubungan rumah atau batu kali

“Tanah.”

“Tanah!”

“Ya, tanah!”

Tapi kemudian mereka diam lama sekali. Buntu. ?

"Jika bertemu dengan soal tanah, aku rasa tak mampu berpikir lagi. Jangankan memikirkannya, mendengarnya saja aku tidak mau."

“Aku juga begitu. Jika mendengar kata “tanah”, tiba-tiba saja kepalaku sakit. Tidak bisa membayangkan, apalagi memikirkannya. Mengucapkannya pun aku tak mau.”

“Berarti omong kosong “petani berpikir” kemarin itu,” gugat salah seorang sambil menatap tajam pengasah arit. ?

Orang-orang di bawah pohon kwini dempet itu kini semuanya menatap pengasah arit. Pandangan menggugat. Sementara yang dipandang hanya tertunduk.

“Apa kalian bisa menunggu?” tanya pengasah arit, menatap mereka satu per satu.

“Aku tidak bisa menunggu.”

“Ya, aku juga tak bisa menuggu.”

“Menunggu apa dulu?”

“Menunggu hasil pikiranku,” kata pengasah arit.

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku akan berusaha,” jawabnya. ?

“Ah, menuggu hasil berpikir, artinya mati karena menunggu juga perlu makan,” kata si pengasah cangkul.

“Betul”

“Ya, kita bisa mati."

“Mati saat menunggu hasil orang berpikir dalam keadaan lapar, menurutku ini mati dengan terhina dua kali lipat. Kalaupun mati, kita mati dengan cara terhormat. Malu sama nenek moyang!" kata-kata si pangasah cangkul itu benar-benar membungkam si pengasah arit. ?

"Terhormat, maksudmu berarti soal cara kita mati?" si pengasah parang bertanya.

"Ya!"

“Bagaimana cara mati terhormat?”

***

Pagi yang sudah disepakati, mereka berjalan beriring-iringan dengan alat pertanian yang baru saja diasah setajam-tajamnya. Kali ini istri dan anak mereka dibawa serta ke tanah lapang di bawah pohon kwini dempet Tak ada yang tersisa di rumah. Tua dan muda tak ingin ketinggalan.

Lalu, ketika matahari mulai menyengat, menerobos daun-daun kwini dempet, arit mulai dikalungkan kepada leher. Golok dihadiahkan kepada jantung. Cangkul diarahkan ke kepala. Parang menggapai-gapai perut. Alat-alat pertanian mereka yang diasah tiap pagi itu, kini berguna kembali. Mereka menggunakannya dengan suka cita.

Pondok Gede, 29 Mei 2014



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam, Sholawat, Nasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 28 Februari 2011

LKNU Cianjur Beri Stimulan 10 Pesantren

Cianjur, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten  Cianjur, Jawa Barat, memberikan stimulan kepada sepuluh pesantren yang telah mengikuti pelatihan tentang perilaku hidup bersih di kabupaten setempat. Ke-10 pesantren tersebut masing-masing mendapatkan stimulan sebesar Rp 5 juta.

LKNU Cianjur Beri Stimulan 10 Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Cianjur Beri Stimulan 10 Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Cianjur Beri Stimulan 10 Pesantren

Sekretaris PC LKNU Kabupaten Cianjur Elis Lisnawati mengatakan, dana stimulan tersebut merupakan program LKNU pusat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan perilaku hidup bersih di setiap pondok pesantren.

"Perilaku hidup bersih ini salah satu program LKNU. Kita berharap dengan adanya stimulan, setiap pesantren bisa membudayakan prilaku hidup bersih," katanya seusai memberikan stimulan kepada 10 pondok pesantren di  gedung PCNU Cianjur, Jalan Perintis Kemerdekaan Jebrod, Cianjur, Kamis (10/7).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua PCNU Cianjur KH Choirul Anam menambahkan, program yang telah dilakukan LKNU salah satunya adalah pelatihan kader perilaku hidup bersih. Program ini menurutnya sangat penting untuk mewujudkan pondok pesantren yanga bersih dan sehat.

"Semoga program ini tidak hanya sampai di sini, melainkan terus berkelanjutan," jelasnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Kepala Seksi Pemberdayaan Dinas Kesehatan Cianjur Ratna menyambut baik  program LKNU tersebut.  Ratna beralasan, sosialisasi hidup bersih ke lingkungan pesantren merupakan salah satu indikator yang dimiliki Dinkes. "Kami sangat berterima kasih kepada LKNU, kita akan menindaklanjuti program tersebut,” imbuhnya. (Deni Abdul Kholik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ulama Pimpinan Pusat Muhammadiyah